Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Standard Chartered Perkuat Kolaborasi Inovasi Pembiayaan Ekonomi Biru
Rabu, 7 Oktober 2026 16:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Standard Chartered dan Konservasi Indonesia (KI) mempertemukan perwakilan Pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan untuk membahas peluang pengembangan ekonomi biru Indonesia dalam ajang Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026.
Diskusi ini membahas bagaimana pembiayaan, inovasi industri, dan kolaborasi lintas sektor dapat menarik investasi di sektor kelautan dan pesisir, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, serta mendukung pelestarian lingkungan.
Managing Director, Head of Coverage, Standard Chartered Indonesia Amit Verma menegaskan besarnya potensi ekonomi biru Indonesia untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dunia.
"Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk menjadi pemimpin global dalam ekonomi biru,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu (7/10/2026).
Untuk mewujudkan potensi tersebut diperlukan inovasi pembiayaan, kemitraan yang kuat antara Pemerintah dan sektor swasta, serta investasi pada rantai nilai yang berkelanjutan.
“Melalui jaringan global dan keahlian kami di bidang pembiayaan berkelanjutan, Standard Chartered berkomitmen mendukung berbagai inisiatif yang dapat memperkuat mata pencaharian masyarakat pesisir, mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, serta berkontribusi pada kesehatan ekosistem laut dalam jangka panjang,” ucapnya.
Sementara itu, Senior Vice President dan Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany menggarisbawahi pentingnya keterukuran dampak ekologis dalam skema pendanaan.
Baca juga : Sorong Selatan Diperkenalkan Lewat Ekowisata, Budaya, Dan Gastronomi
"Ekonomi biru Indonesia hanya akan tumbuh jika konservasi dan pembiayaan berjalan seiring,” katanya.
Dia menekankan, instrumen keuangan berkelanjutan yang diusung KI menunjukkan bahwa pembiayaan bisa menghasilkan capaian lingkungan yang terukur sekaligus manfaat ekonomi.
“Sektor seperti akuakultur, termasuk rumput laut, membutuhkan pembiayaan seperti itu agar dapat tumbuh dalam skala besar secara berkelanjutan," kata Meizani.
Semangat kolaborasi dalam forum IISF 2026 ini pada dasarnya memperkuat rekam jejak kemitraan yang telah dibangun oleh kedua lembaga.
Pada 2025, Standard Chartered telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama Apindo, Conservation International, dan Konservasi Indonesia guna memperkuat rantai nilai rumput laut berkelanjutan, membuka peluang investasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Komitmen tersebut dipertegas secara terpisah oleh Standard Chartered Foundation melalui pengumuman komitmen senilai 5 juta dalam program Oceans of Opportunity.
Program ini berfokus pada penciptaan lapangan kerja dan peluang kewirausahaan bagi generasi muda di sektor ekonomi kelautan ASEAN. Di mana hasil risetnya mengonfirmasi potensi besar Indonesia pada sektor rumput laut, akuakultur, industri pengolahan, keterlacakan produk, dan rantai pasok berkelanjutan.
Baca juga : DANA Dan Ant International Rilis Ocean Buddy Jaga Ekosistem Laut
Melalui rangkaian diskusi di IISF 2026 ini, Standard Chartered dan Konservasi Indonesia optimistis dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas ke depan, mempercepat realisasi proyek-proyek ekonomi biru yang bankable (layak dibiayai), serta menghadirkan investasi yang berdampak nyata bagi industri kelautan dan masyarakat pesisir Indonesia.
Transformasi Sektor Kelautan dan Perikanan
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengajak sektor keuangan, investor, dunia usaha, dan mitra pembangunan untuk memperkuat kolaborasi dalam mempercepat investasi ekonomi biru, guna mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan Indonesia menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang modern, produktif, dan berkelanjutan.
Menurut Trenggono, ekonomi biru Indonesia tidak hanya merupakan agenda pelestarian lingkungan, tetapi juga strategi pembangunan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan ekspor, dan menarik investasi.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, laut merupakan salah satu aset ekonomi terbesar yang dimiliki Indonesia. “Ekonomi biru bukan hanya tentang melindungi sumber daya laut. Tetapi juga tentang bagaimana mentransformasikannya menjadi nilai ekonomi jangka panjang bagi masyarakat," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (7/10/2026).
Trenggono menuturkan, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah melaksanakan enam Program Prioritas Nasional, yaitu Program Kampung Nelayan Merah Putih, revitalisasi tambak Pantai Utara Jawa, pengembangan Tambak Udang Terintegrasi, pengembangan budidaya perikanan berbasis desa, modernisasi armada perikanan nasional, serta swasembada garam nasional.
“Seluruh program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mentransformasi sektor kelautan dan perikanan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang berbasis investasi,” katanya.
Menteri Trenggono juga menyampaikan apresiasi kepada Standard Chartered atas dukungannya terhadap pengembangan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu, Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana pembiayaan strategis dapat mempercepat investasi ekonomi biru sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.
Pihaknya juga mengundang lembaga keuangan dan investor untuk memperluas dukungan pembiayaan pada sektor akuakultur berkelanjutan, hilirisasi rumput laut, industri pengolahan hasil perikanan, serta pembangunan infrastruktur rantai dingin dan logistik kelautan.
Salah satu fokus utama transformasi ekonomi biru Indonesia adalah hilirisasi sektor kelautan dan perikanan. Indonesia perlu bergerak melampaui ekspor bahan baku menuju penciptaan nilai tambah melalui pengolahan, manufaktur, inovasi, dan penerapan teknologi.
Trenggono memastikan, KKP terus memperkuat produksi yang berkelanjutan, sekaligus membangun kapasitas pengolahan, rantai dingin, sistem jaminan mutu, dan ketelusuran produk.
“Dengan naik kelas dalam rantai nilai global, Indonesia dapat meningkatkan daya saing, memperbesar nilai ekspor, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas bagi masyarakat pesisir," katanya.
Komoditas rumput laut menjadi salah satu contoh nyata peluang tersebut. Ia menyoroti peluncuran Indonesia Seaweed Development Action Plan 2026-2030 oleh KKP bersama Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Perindustrian sebagai peta jalan untuk mentransformasi sektor rumput laut Indonesia menjadi industri yang bernilai tambah tinggi, berdaya saing global, dan siap investasi.
"Keberhasilan industri rumput laut tidak lagi diukur dari seberapa banyak kita memanen, tetapi dari seberapa besar nilai tambah yang mampu kami ciptakan melalui teknologi, pengolahan, inovasi, dan manufaktur," kata Trenggono.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya