RM.id Rakyat Merdeka - Pengelolaan wilayah kerja minyak dan gas bumi (migas) memerlukan strategi yang tepat untuk menjaga produksi di tengah keterbatasan cadangan. Pakar ketahanan energi Universitas Indonesia (UI) Ali Ahmudi Achyak mengapresiasi upaya Pertamina dalam mengelola wilayah kerja migas, termasuk membuka peluang optimalisasi sumur tua untuk mendukung produksi.
Menurut Ali, upaya peningkatan produksi perlu tetap mengutamakan eksplorasi dan eksploitasi sumur baru. Sementara itu, optimalisasi sumur tua dapat menjadi salah satu alternatif untuk menambah kontribusi produksi migas nasional.
“Saya kira PHE terus berbenah dalam mengelola seluruh wilayah kerja, termasuk untuk meningkatkan produksi. Kondisi cadangan kita memang semakin terbatas, tetapi tetap ada opportunity, termasuk melalui sumur tua,” kata Ali kepada media, Rabu (14/10/2026).
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Puskep) UI itu menilai, penguatan teknologi dan manajemen menjadi bagian penting dalam pengelolaan wilayah kerja migas. Kemampuan tersebut diperlukan untuk mengoptimalkan potensi yang tersedia sekaligus menjaga keberlanjutan produksi.
“Kinerja PHE menunjukkan tren yang positif, didukung oleh penguasaan berbagai teknologi, termasuk enhanced oil recovery (EOR). Hal ini mencerminkan peningkatan kapabilitas PHE, baik dari sisi teknologi maupun tata kelola dan manajemen,” ujarnya.
Baca juga : Pertamina SMEXPO Yogyakarta Catat Capaian Rp 3,8 Miliar, Buka Pasar UMKM
Ali menjelaskan, optimalisasi sumur tua dapat menjadi peluang untuk mendukung pencapaian target produksi. Namun, langkah tersebut perlu berjalan beriringan dengan eksplorasi dan eksploitasi sumur baru serta pemberdayaan sumur-sumur masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, berbagai potensi migas diharapkan dapat dikelola sesuai karakteristik dan tingkat keekonomiannya. Pengembangan sumur baru tetap penting untuk menemukan dan mengembangkan cadangan, sedangkan optimalisasi sumur tua dapat membantu mempertahankan produksi dari lapangan yang telah beroperasi.
“Sebagai upaya pencapaian target PHE, hal itu memang baik,” ucapnya.
Meski demikian, Ali mengingatkan bahwa pengelolaan sumur tua memiliki tantangan tersendiri. Tingkat produksinya umumnya lebih rendah dibandingkan sumur baru. Karena itu, penerapan metode pengelolaan perlu mempertimbangkan kondisi teknis dan biaya operasional.
“Kalau sisi keekonomian, jika menggunakan teknologi lama dengan produksi yang semakin menurun, tentu menjadi tidak ekonomis,” jelasnya.
Baca juga : PDC Raih Dua Penghargaan Anugerah Humas Indonesia 2026
Menurut Ali, penggunaan teknologi baru dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan efisiensi. Penerapan teknologi yang tepat diharapkan dapat menekan biaya operasional, termasuk komponen biaya sumber daya manusia (SDM), sehingga sumur yang sebelumnya kurang ekonomis berpeluang untuk kembali dikelola.
Selain melalui pemanfaatan teknologi, Ali menilai pelibatan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumur tua juga dapat menjadi alternatif. Ia mencontohkan pengelolaan sumur masyarakat di Riau dan Sumatera Selatan yang hasil produksinya dijual kepada Pertamina untuk menjadi bagian dari lifting migas.
“Hasilnya dijual juga ke Pertamina sehingga dijadikan sebagai bagian dari lifting migas. Ini adalah upaya untuk mengejar target produksi. Jadi, apa pun upaya untuk mengelola sumur tua, tetap patut diapresiasi,” tegasnya.
Sementara itu, upaya mempertahankan produktivitas lapangan migas yang telah lama beroperasi juga mendapat perhatian dari Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade. Sebelumnya, Andre mengapresiasi kinerja Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ) dalam menjaga produktivitas lapangan migas di Perairan Utara Laut Jawa, Jawa Barat.
Apresiasi tersebut disampaikan setelah Andre memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI melakukan kunjungan lapangan pada Minggu (4/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, tim melihat langsung kondisi dan kinerja sumur yang telah beroperasi sejak 1969.
Baca juga : Wayan Sudirta Minta Pertamina Percepat Normalisasi Pasokan di Bali
Menurut Andre, hasil kunjungan menunjukkan kinerja PHE ONWJ cukup baik. Meski telah beroperasi selama puluhan tahun dan mengalami peralihan pengelolaan, produktivitas lapangan tersebut masih dapat dipertahankan.
Pengelolaan wilayah kerja secara berkelanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga produksi migas. Melalui eksplorasi dan eksploitasi sumur baru yang tetap berjalan, serta pemanfaatan peluang dari sumur tua secara terukur, upaya peningkatan produksi diharapkan dapat mendukung ketahanan energi nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.