BREAKING NEWS
 

Harganya Tembus 106 USD Per Barel, Minyak Dunia Demam Tinggi

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : ADITYA NUGROHO
Kamis, 15 Oktober 2026 07:50 WIB
Ilustrasi kenaikan harga Minyak dunia. (Foto: AI/ChatGPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Harga minyak dunia kembali mendidih dengan menembus level 106 dolar Amerika Serikat (AS) per barel di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah. Lonjakan ini mengancam perekonomian global karena dapat memicu inflasi dan meningkatkan biaya energi.

Mengutip Reuters, Rabu (14/10/2026), harga minyak Brent naik 89 sen atau 0,8 persen menjadi 106,58 dolar AS per barel pada pukul 07.30 WIB. Kenaikan itu terjadi setelah harga minyak acuan global tersebut sempat terkoreksi 0,9 persen pada perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 80 sen atau 0,9 persen menjadi 94,94 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan 0,4 persen pada perdagangan sebelumnya.

“Peningkatan harga energi dan komoditas lainnya yang dipicu perang mendorong kenaikan harga sekaligus menghambat aktivitas ekonomi,” kata Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Silvana Tenreyro dalam konferensi pers peluncuran laporan World Economic Outlook di Bangkok, Thailand, dikutip dari laman resmi IMF, Rabu (14/10/2026).

Tekanan harga energi juga menjadi perhatian Bank Dunia. Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengatakan, lembaganya tengah berdialog dengan sekitar 30 hingga 40 negara mengenai kemungkinan bantuan untuk menghadapi guncangan energi dan kenaikan harga akibat perang di Timur Tengah.

Baca juga : Terkendala Pengiriman, Antre BBM Di Bali Bukan Karena Stok Menipis

“Tekanan itu ada. Jadi, saya kira dalam beberapa bulan mendatang, akan banyak negara meminta sebagian pendanaan,” kata Banga, dikutip dari Reuters, Rabu (14/10/2026).

Menurut Banga, lonjakan harga solar dan pupuk semakin menambah tantangan bagi negara berkembang. Tekanan tersebut muncul ketika banyak negara masih memiliki ruang fiskal terbatas dan harus menanggung beban utang yang tinggi.

Kepala Strategi Investasi Saxo di Singapura Charu Chanana menilai, krisis energi kembali menjadi perhatian investor. Gangguan produksi minyak di Teluk Meksiko akibat Badai Isaias turut menambah risiko pasokan.

Adsense

“Berbagai kondisi ini membuat harga minyak bertahan di level tinggi,” ujarnya, dikutip dari CNBC, Rabu (14/10/2026).

Sejalan dengan kenaikan harga minyak, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent pada Desember 2026 menjadi 90 dolar AS per barel dari sebelumnya 85 dolar AS. Sementara itu, harga WTI diperkirakan rata-rata mencapai 81 dolar AS per barel pada Desember 2026 dan 73 dolar AS per barel pada 2027.

Baca juga : Mantan Jampidsus Melawan, Kejagung Yakin Dakwaan Sudah Sesuai Dan Benar

Proyeksi tersebut menunjukkan tingginya ketidakpastian pasar energi global. Bagi Indonesia, perkembangan harga minyak dunia menjadi faktor penting yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi biaya impor, kebutuhan subsidi energi, dan stabilitas harga domestik.

“Kekhawatiran pasokan yang dipicu oleh konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi mendorong harga lebih tinggi,” kata Kepala Strategi di Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa, dikutip dari Reuters, Rabu (14/10/2026).

Namun, menurut dia, peningkatan ekspor solar Rusia berpotensi meredakan ketatnya pasar dan membatasi pergerakan harga yang tajam ke kedua arah. Dia memperkirakan harga WTI akan bergerak dalam kisaran 90–100 dolar AS per barel.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menuding kelompok Houthi di Yaman sengaja meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi untuk mendorong kenaikan harga minyak menjelang pemungutan suara di AS. “Houthi sudah lama tidak terdengar, tetapi sekarang mereka muncul lagi,” ujarnya melalui media sosial Truth Social, Selasa (13/10/2026).

Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 112,81 dolar AS per barel pada September 2026. Harga tersebut naik 23,38 dolar AS dari Agustus 2026 yang sebesar 89,43 dolar AS per barel.

Baca juga : Yahya Zaini: PHK Terjadi Karena Adanya Tekanan Global

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, kenaikan tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas sehingga mengguncang pasar minyak dunia. Menurut dia, kenaikan harga terjadi secara menyeluruh pada semua acuan (benchmark) minyak internasional.

“Kondisi ini diperkuat oleh serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut, termasuk penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi yang berkapasitas 7 juta barel per hari akibat serangan drone sebagai langkah pencegahan,” ujar Laode.

Selain itu, menurut dia, penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan lanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan minyak mentah global. [FAQ/MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense