BREAKING NEWS
 

Di Balik Baja yang Menua, Inovasi Menjaga Energi Indonesia

Reporter & Editor :
FAZRY
Sabtu, 24 Oktober 2026 15:25 WIB
Di tengah Laut Kalimantan, pekerja PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) berdiskusi sebelum memastikan setiap proses produksi berjalan aman. Di balik setiap barel minyak dan MMSCF gas yang dihasilkan, ada dedikasi, inovasi, dan komitmen menjaga ketahanan energi Indonesia. (Foto: Dok. Pertamina Hulu Indonesia/PHI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Matahari baru merayap di ufuk Laut Kalimantan ketika cahaya menyentuh rangka-rangka baja Attaka Field. Di tengah hamparan laut, anjungan minyak dan gas (migas) itu berdiri menantang ombak dan usia.

Selama puluhan tahun, dari tempat inilah energi diproduksi untuk menopang aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat. Di balik energi yang mengalir untuk jutaan orang, ada pekerja yang berminggu-minggu jauh dari keluarga.

Mereka memastikan fasilitas yang menua tetap beroperasi, produksi berlangsung aman, dan pasokan energi tetap terjaga. Bagi Hendra Murdani, Superintendent Production Attaka PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), bekerja di Attaka bukan sekadar profesi.

Mengelola lapangan migas lepas pantai yang telah memasuki usia senja merupakan amanah yang menuntut ketekunan, disiplin, dan inovasi.

"Ada rasa bangga atas amanah yang ditugaskan kepada saya saat ini. Saya bekerja di Attaka Field, salah satu lapangan migas tertua di Kalimantan Timur. Banyak orang mungkin melihat produksinya tidak sebesar dulu, tetapi bagi kami, setiap barel minyak dan setiap Million Standard Cubic Feet (MMSCF) gas yang masih dapat diproduksikan adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, dan inovasi seluruh tim," ujar Hendra kepada Rakyat Merdeka, Rabu (22/7/2026).

Deretan pekerja PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melintasi bridge penghubung antaranjungan di Attaka Field, Kalimantan Timur. Di balik senyum mereka, tersimpan tanggung jawab menjaga keselamatan, keandalan operasi, dan pasokan energi yang mengalir ke seluruh Indonesia. (Foto: Dok. PHKT)

Ucapan Hendra menggambarkan tantangan industri hulu migas. Ketika lapangan memasuki fase matang dan produksi alamiah cenderung menurun, mempertahankan setiap barel minyak menjadi pekerjaan yang semakin kompleks.

Bukan hanya gelombang tinggi dan cuaca ekstrem yang harus dihadapi, melainkan juga risiko kerusakan pipa, katup, serta peralatan yang telah beroperasi selama puluhan tahun.

"Tantangan terbesar kami bukan hanya ombak, cuaca ekstrem, atau bekerja jauh dari keluarga. Di Attaka Field, setiap hari kami dihadapkan pada berbagai tantangan asset integrity, termasuk kebutuhan inspeksi dan perawatan yang semakin kompleks," katanya.

Integritas aset atau asset integrity merupakan upaya memastikan fasilitas tetap aman, andal, dan berfungsi sesuai peruntukannya.

Di lapangan yang menua, pekerjaan ini membutuhkan ketelitian lebih besar karena setiap gangguan berpotensi memengaruhi keselamatan pekerja sekaligus keberlangsungan produksi.

Di Attaka, keselamatan menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar. Setiap pekerjaan diawali dengan identifikasi risiko, sementara setiap keputusan harus mempertimbangkan keselamatan pekerja dan keandalan fasilitas.

"Tidak ada keberhasilan produksi yang layak dirayakan jika harus mengorbankan keselamatan," tegas Hendra.

Hendra Murdani, Superintendent Production Attaka PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT). Bagi Hendra, menjaga lapangan migas Attaka bukan sekadar mempertahankan produksi, melainkan mengemban amanah memastikan energi tetap mengalir bagi masyarakat Indonesia melalui operasi yang aman, andal, dan berkelanjutan. (Foto: Dok. PHKT)

Inovasi di Tengah Keterbatasan

Menjaga lapangan yang telah beroperasi puluhan tahun tidak cukup hanya dengan mengandalkan perawatan rutin.

Di tengah penurunan produksi alamiah, keterbatasan sumber daya, dan meningkatnya risiko kerusakan fasilitas, pekerja dituntut menemukan cara kerja yang lebih cermat.

Bagi Hendra, inovasi menjadi kebutuhan untuk memastikan keputusan operasional didasarkan pada analisis yang tepat.

Teknologi dan data tidak sekadar digunakan untuk mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga membantu menentukan pekerjaan yang harus diprioritaskan dan risiko yang perlu diantisipasi.

Di lapangan yang sudah mature seperti Attaka, inovasi bukan merupakan pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan.

"Kami memanfaatkan digital monitoring, analisis data, risk-based inspection, serta pendekatan predictive maintenance untuk menentukan prioritas pekerjaan berdasarkan tingkat risiko. Karena sumber daya terbatas, sementara tantangan semakin besar, maka kami harus memastikan setiap keputusan benar-benar berbasis analisis data. Dengan cara itu kami dapat mempertahankan produksi sekaligus menjaga keselamatan pekerja dan keandalan fasilitas," ujar Hendra.

Pemantauan digital, analisis data, inspeksi berbasis risiko, dan pemeliharaan prediktif menjadi bagian dari pendekatan untuk menjaga keandalan fasilitas.

Dengan mengenali potensi gangguan lebih dini dan menentukan prioritas pemeliharaan berdasarkan tingkat risiko, pekerja dapat mengarahkan sumber daya pada kebutuhan yang paling mendesak.

Baca juga : Grup PHI Raih CSR & PDB Award 2026, Dorong Ekonomi Desa

Pada lapangan yang telah beroperasi puluhan tahun, inovasi tidak selalu berarti menghadirkan teknologi yang sepenuhnya baru.

Kemampuan mengolah data menjadi dasar pengambilan keputusan, mengantisipasi potensi kerusakan, dan menentukan waktu pemeliharaan yang tepat juga merupakan bentuk inovasi.

Namun, keberhasilan pendekatan tersebut pada akhirnya perlu dibuktikan melalui hasil operasional yang terukur. Berapa banyak gangguan yang dapat dicegah, berapa lama waktu perawatan dapat dipangkas, atau seberapa besar biaya yang bisa dihemat menjadi indikator penting untuk menilai manfaat inovasi.

Bagi Attaka, tantangannya adalah memastikan teknologi benar-benar membantu menjawab persoalan di lapangan, bukan sekadar menjadi perangkat pendukung.

Tujuannya jelas: mempertahankan produksi tanpa mengorbankan keselamatan pekerja dan keandalan fasilitas.

Hendra Murdani, Superintendent Production Attaka PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), melakukan inspeksi fasilitas produksi di Attaka Field, Kalimantan Timur. Melalui penerapan budaya keselamatan, inovasi, dan pengelolaan aset yang andal, PHKT terus menjaga keberlanjutan produksi migas dari lapangan tua sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional di era transisi energi. (Foto: Dok. PHKT)

Dari Produksi Menuju Operasi Rendah Emisi

Bagi Hendra, inovasi tidak berhenti pada upaya mempertahankan produksi. Perubahan juga harus menyentuh cara pekerja menjalankan operasi sehari-hari, termasuk penggunaan energi dan pengendalian dampak lingkungan.

"Saat ini kami semakin disiplin dalam mengurangi flaring, mengoptimalkan penggunaan fuel gas, mencegah kebocoran hidrokarbon, serta memastikan setiap pekerjaan dilakukan dengan prinsip efisiensi energi dan perlindungan lingkungan."

"Yang paling saya rasakan adalah perubahan budaya. Sekarang setiap orang didorong untuk tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga berpikir bagaimana pekerjaan tersebut bisa lebih aman, lebih efisien, dan memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil," katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa inovasi bukan hanya perkara perangkat digital atau teknologi pemeliharaan. Perubahan pola pikir pekerja juga menjadi bagian penting dari transformasi operasi.

Ketika efisiensi, keselamatan, dan perlindungan lingkungan masuk dalam setiap keputusan, inovasi berkembang menjadi kebiasaan kerja.

Pengurangan flaring atau pembakaran gas suar, optimalisasi penggunaan gas untuk kebutuhan operasi, serta pencegahan kebocoran hidrokarbon merupakan bagian dari upaya mengurangi pemborosan energi dan dampak lingkungan.

Pelaksanaannya membutuhkan pemantauan dan evaluasi agar manfaatnya dapat diukur secara konsisten. Dalam konteks transisi energi, upaya tersebut menjadi penting. Kebutuhan menjaga pasokan energi harus berjalan beriringan dengan tuntutan menekan emisi.

Selama migas masih menjadi bagian dari bauran energi Indonesia, tantangannya adalah memastikan sumber energi tersebut dikelola secara aman, efisien, dan semakin bertanggung jawab.

Pandangan itu sejalan dengan penilaian Manajer Riset Dekarbonisasi Sektoral Institute for Essential Services Reform (IESR), Dr. Farid Wijaya.

Menurut dia, masa depan industri hulu migas tidak cukup diukur dari besarnya produksi, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menekan emisi dan menjalankan operasi berkelanjutan.

"Keberhasilan perusahaan hulu migas di masa depan tidak dapat lagi diukur hanya dari peningkatan produksi, tetapi juga harus mencakup indikator intensitas emisi, inovasi dekarbonisasi, serta kontribusi terhadap ketahanan energi dan pembangunan dalam kerangka berkelanjutan dengan emisi karbon yang rendah," ujar Farid kepada Rakyat Merdeka belum lama ini.

Farid menilai, Kalimantan memiliki peluang menjadi contoh bagaimana industri migas tetap menopang ketahanan energi sekaligus bergerak menuju ekonomi rendah karbon.

Salah satu jalannya adalah memperkuat efisiensi energi, mengurangi emisi metana melalui program Leak Detection and Repair (LDAR) atau deteksi dan perbaikan kebocoran, menghindari pembakaran gas suar dan pelepasan gas langsung ke atmosfer yang tidak diperlukan, serta mulai memanfaatkan energi terbarukan untuk mendukung operasi.

"Pengelolaan migas yang lebih berkelanjutan di Kalimantan berpotensi menjadi model tentang bagaimana sektor energi dapat menyeimbangkan aspek ekonomi, lingkungan, dan ketahanan energi, jika pendekatan business as usual dapat digeser menjadi pendekatan transisi dan dekarbonisasi yang terukur," katanya.

Adsense

Perspektif tersebut menempatkan inovasi dalam makna yang lebih luas. Teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mempertahankan pasokan energi, mengelola risiko operasi, dan mengurangi dampak lingkungan secara bersamaan.

Platform migas Pertamina di Delta Mahakam (Foto:Dok. PHI)

Inovasi Lingkungan di Attaka

Baca juga : Fazry Rakyat Merdeka Raih Juara 2 APEKA PHI 2026

Inovasi lingkungan di wilayah operasi PHKT juga memiliki contoh konkret. Pada November 2022, perusahaan menyelesaikan proyek percontohan Rig to Reef di Attaka, yakni pemanfaatan bagian anjungan migas yang telah dinonaktifkan untuk dijadikan terumbu buatan.

PHI menyebut proyek tersebut sebagai proyek percontohan pertama di Indonesia.

Dalam proyek itu, bagian-bagian anjungan yang telah dibongkar dibawa ke kawasan lepas pantai Bontang untuk dijadikan habitat buatan.

Inisiatif tersebut diarahkan untuk mendukung konservasi terumbu karang dan ekosistem laut, sekaligus membuka peluang peningkatan populasi ikan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Proyek ini memperlihatkan bahwa inovasi dalam industri hulu migas tidak hanya berkaitan dengan cara mempertahankan produksi.

Inovasi juga dapat hadir ketika perusahaan mencari pendekatan berbeda untuk menangani fasilitas yang tidak lagi digunakan, dengan mempertimbangkan aspek teknis dan lingkungan.

Meski demikian, manfaat ekologisnya tetap perlu dinilai melalui pemantauan jangka panjang. Keberhasilan proyek tidak cukup hanya dilihat dari selesainya pemindahan struktur, tetapi juga dari perkembangan ekosistem laut dan dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Contoh tersebut memperluas makna inovasi di Attaka: bukan hanya menjaga fasilitas yang masih beroperasi, tetapi juga memikirkan bagaimana fasilitas yang telah memasuki akhir masa pakainya dapat ditangani secara bertanggung jawab.

Menjaga Produksi, Menekan Emisi

Di Kalimantan, upaya menjaga keseimbangan antara produktivitas dan keberlanjutan juga menjadi bagian dari langkah PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI).

Di tengah tantangan mengelola lapangan-lapangan migas yang semakin matang, perusahaan berupaya mempertahankan produksi sekaligus memperkuat efisiensi operasi dan program pengurangan emisi.

Senior Manager Relations PHI Handri Ramdhani mengatakan, komitmen tersebut berjalan beriringan dengan kinerja operasional perusahaan.

"Pada triwulan I-2026, PHI membukukan realisasi produksi minyak lebih dari 120 persen dari target dan produksi gas sekitar 104 persen dari target," ujar Handri.

Kinerja tersebut menggambarkan pentingnya menjaga keandalan operasi di tengah tantangan pengelolaan lapangan migas. Namun, pencapaian produksi bukan satu-satunya ukuran keberlanjutan.

Industri juga perlu memastikan bahwa proses menghasilkan energi berlangsung efisien, aman, dan semakin rendah emisi.

Dalam rilis resminya, PHI melaporkan pengurangan emisi sebesar 222,87 ribu ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) sepanjang 2024, meningkat 32,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Perusahaan juga menjalankan 33 program pengurangan emisi pada tahun tersebut. Pada periode yang sama, PHI Regional 3 Kalimantan melaporkan penghematan konsumsi air bersih sebesar 243.102 meter kubik, setara 24,12 persen dibandingkan penggunaan normal dengan acuan tahun 2020.

Perusahaan juga menjalankan berbagai program pengelolaan limbah dan efisiensi sumber daya.

Data tersebut menunjukkan skala upaya keberlanjutan di tingkat regional. Namun, angka pengurangan emisi dan penghematan air itu merupakan capaian PHI Regional 3 Kalimantan, bukan hasil yang secara khusus dapat diatribusikan kepada inovasi digital di Attaka.

Pembedaan ini penting karena keberhasilan inovasi perlu diukur berdasarkan hubungan yang jelas antara program, pelaksanaan, dan hasilnya.

Dengan demikian, klaim tentang manfaat teknologi tidak berhenti pada besarnya angka, tetapi memiliki dasar yang dapat diperiksa.

Baca juga : PHI Raih Tujuh Penghargaan IABC Indonesia Awards 2026

Bagi lapangan seperti Attaka, tantangan berikutnya adalah memperkuat hubungan antara teknologi, kedisiplinan pekerja, pemeliharaan fasilitas, dan hasil operasional.

Inovasi yang bermakna bukan hanya inovasi yang berhasil diterapkan, melainkan juga yang memberikan manfaat nyata dan dapat dipertahankan.

Diolah RM.ID

Amanah di Tengah Laut

Di balik upaya mempertahankan produksi dan mengurangi dampak lingkungan, ada tantangan yang tidak selalu terlihat dalam angka-angka kinerja perusahaan.

Mengoperasikan Attaka, salah satu lapangan migas tertua di Kalimantan Timur yang telah memasuki fase sangat matang, menuntut ketekunan, koordinasi, serta komitmen keselamatan dari seluruh pekerja.

Hendra mengatakan, keberlangsungan operasi tidak dapat dilepaskan dari dukungan pekerja, manajemen, dan keluarga yang harus merelakan orang-orang terdekat mereka bekerja jauh di tengah laut.

Kata dia, menjaga ketahanan energi dengan mengoperasikan dan mempertahankan Attaka Field, salah satu lapangan migas tertua di Kalimantan Timur yang kini sudah sangat mature dan marginal, adalah tantangan sekaligus pengalaman yang luar biasa.

"Di tengah tantangan penurunan produksi alamiah dan berbagai isu asset integrity pada fasilitas yang telah beroperasi puluhan tahun, kami terus berupaya menjaga produksi tetap aman, andal, dan efisien."

"Semua itu terwujud berkat kerja sama seluruh pekerja, dukungan penuh manajemen PHI Regional 3, PHKT, dan Zona 10, serta doa dan pengorbanan keluarga yang dengan ikhlas mendukung kami bekerja jauh di tengah laut. Dan di atas seluruh ikhtiar tersebut, kami meyakini bahwa keselamatan, kesehatan, dan setiap keberhasilan adalah atas izin Allah SWT," katanya.

"Bagi kami, setiap barel yang masih dapat dipertahankan bukan sekadar angka produksi, tetapi amanah untuk menjaga ketahanan energi Indonesia. Selama Allah SWT memberikan kesehatan dan keselamatan, serta keluarga terus mendoakan kami, kami akan terus mengabdi memberikan yang terbaik bagi negeri," ujar Hendra.

Ketika senja kembali menyelimuti Laut Kalimantan, lampu-lampu di Attaka tetap menyala. Di anjungan yang telah melewati puluhan tahun perjalanan itu, para pekerja memeriksa pipa, memantau panel kendali, dan memastikan setiap proses berlangsung aman.

Tidak ada tepuk tangan atau sorotan kamera. Yang ada adalah ketelitian, disiplin, dan pengabdian yang terus bekerja di tengah laut.

Attaka mungkin tidak lagi menghasilkan minyak sebesar masa jayanya. Namun, lapangan ini memperlihatkan bahwa usia aset bukan satu-satunya penentu keberlangsungan produksi.

Dengan keputusan berbasis data, pemeliharaan yang terencana, disiplin keselamatan, dan kesadaran untuk menekan emisi, para pekerja terus mencari cara, agar energi yang masih dibutuhkan Indonesia dapat dikelola secara lebih bertanggung jawab.

Transisi energi membuka jalan menuju penggunaan sumber energi yang lebih bersih. Namun, selama migas masih menjadi bagian dari pasokan energi Indonesia, pengelolaannya tetap membutuhkan inovasi agar produksi berlangsung aman, efisien, dan bertanggung jawab.

Dari Attaka, pelajaran itu mengalir bersama setiap barel minyak dan setiap aliran gas yang masih dihasilkan.

Di balik baja yang menua, ada manusia yang terus belajar. Di balik produksi yang dipertahankan, ada upaya menemukan cara kerja yang lebih baik.

Dan di balik pengabdian yang nyaris tak terlihat, ada tanggung jawab menjaga energi bagi negeri tanpa mengabaikan bumi yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, energi masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang dapat dihasilkan hari ini, tetapi juga oleh keberanian memperbaiki cara energi itu dihasilkan.

Dari Attaka untuk Indonesia, inovasi adalah ikhtiar menjaga energi tetap menyala, keselamatan tetap terpelihara, dan harapan akan masa depan yang lebih lestari tetap terjaga. (Fazry)

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense