BREAKING NEWS
 

Dorong Dekarbonisasi Regional, Pertamina Hulu Energi Siap Jadi Hub CCS di Asia

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Sabtu, 24 Oktober 2026 15:34 WIB
Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE Dannif Utojo Danusaputro berbicara dalam Japan CCUS Summit 2026 di Tokyo, Jepang, Senin (19/10/2026). Dok. Pertamina

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menargetkan Indonesia menjadi pusat regional penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) di Asia. Langkah ini ditujukan untuk mendukung upaya dekarbonisasi kawasan sekaligus membuka peluang industri rendah karbon di Indonesia.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE Dannif Utojo Danusaputro dalam panel diskusi Japan CCUS Summit 2026 di Tokyo, Jepang, Senin (19/10/2026). Diskusi itu mengangkat tema From Partnerships to Projects: Delivering Cross-Border CCS between Japan and Asia.

Dannif mengatakan, keberhasilan proyek CCS lintas negara tidak hanya bergantung pada kapasitas penyimpanan karbon. Kepastian regulasi, kejelasan kelembagaan, dan kelayakan finansial jangka panjang juga menjadi faktor penting bagi investor.

Menurutnya, industri membutuhkan kepastian investasi untuk jangka waktu 20 hingga 30 tahun. Hal ini penting karena proyek CCS memerlukan modal besar dan komitmen kerja sama jangka panjang.

“Bagi investor dan industri penghasil emisi di Jepang, kepercayaan dibangun di atas tiga pilar utama, yakni kepastian regulasi untuk mengelola risiko jangka panjang, kejelasan kelembagaan yang terkoordinasi dan transparan dalam pengelolaan perizinan hingga pengawasan lintas batas, serta kelayakan finansial jangka panjang (bankability),” ujar Dannif dalam keterangannya.

Baca juga : Di Balik Baja yang Menua, Inovasi Menjaga Energi Indonesia

Ia menjelaskan, pengembangan CCS lintas negara merupakan kemitraan strategis antara negara penghasil emisi dan negara penyedia fasilitas penyimpanan. Indonesia memiliki potensi penyimpanan geologis karbon yang dinilai strategis karena berdekatan dengan pusat-pusat industri utama Asia.

Namun, pengembangan fasilitas penyimpanan membutuhkan kepastian pasokan karbon dioksida (CO₂) dari industri. Kesiapan fasilitas penangkapan karbon dan kontrak komersial jangka panjang juga menjadi prasyarat penting.

“Proyek CCS lintas batas bukan sekadar transaksi komersial penyimpanan karbon, melainkan sebuah kemitraan strategis jangka panjang. Bagi perusahaan seperti Pertamina, pembangunan hub CCS memerlukan investasi awal yang sangat besar untuk studi karakterisasi, pengeboran sumur, fasilitas injeksi, hingga infrastruktur transportasi,” kata Dannif.

Adsense

Karena itu, PHE mendorong pengembang proyek membangun kepercayaan melalui transparansi, mengembangkan infrastruktur berskala hub, serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan mitra industri. Penggabungan berbagai kemitraan jangka panjang juga diperlukan untuk menjamin kelayakan proyek.

PHE menargetkan keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) untuk proyek CCS lintas batas komersial pertama di kawasan Asia-Pasifik dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Setelah itu, proyek diharapkan dapat bergerak menuju tahap injeksi karbon.

Baca juga : 3 Pekerja Pertamina Raih Satyalancana, Jadi Dorongan Pengabdian & Pelayanan

Dannif menilai keberhasilan proyek pertama akan menjadi pembuktian bagi pengembangan CCS lintas negara di kawasan. Proyek tersebut akan menguji proses penangkapan karbon di satu negara, pengangkutan secara aman melintasi perbatasan, hingga penyimpanan permanen di bawah kerangka regulasi yang andal.

“Jika proyek pertama ini berhasil membuktikan bahwa CO₂ dapat ditangkap di satu negara, diangkut secara aman melintasi batas negara, dan disimpan secara permanen di bawah kerangka regulasi yang andal, maka pasar akan bergerak cepat dari tahap diskusi menuju replikasi,” ujarnya.

Menurut Dannif, keberhasilan tersebut juga akan memberikan acuan bagi pengembangan kerangka regulasi, model bisnis, solusi teknis, dan struktur kemitraan untuk proyek-proyek berikutnya.

Pengembangan CCS lintas negara ini sejalan dengan visi Asia Zero Emission Community (AZEC), sebuah inisiatif kerja sama untuk mendukung upaya penurunan emisi di Asia.

Melalui kolaborasi tersebut, Jepang dapat memperoleh alternatif penyimpanan emisi jangka panjang. Sementara itu, Indonesia berpeluang mengembangkan industri baru bernilai tambah dengan emisi karbon yang lebih rendah.

Baca juga : DPR Minta Pemerintah Tingkatkan Pengawasan

“Bersama pemerintah, kami berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai hub CCS regional yang andal dan terpercaya untuk mendukung perjalanan dekarbonisasi di Asia,” kata Dannif.

PHE menyatakan akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu minyak dan gas bumi yang berkelanjutan. Upaya tersebut dijalankan dengan memperhatikan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG).

Perusahaan juga menegaskan komitmen terhadap integritas melalui penguatan budaya kepatuhan, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta pencegahan kecurangan (fraud). Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja yang profesional, transparan, dan beretika.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense