Dark/Light Mode

Tina Talisa Kunjungi PLTP Kamojang, Bahas Risiko Dan Manfaat Panas Bumi

Jumat, 23 Oktober 2026 13:16 WIB
Staf Khusus Wakil Presiden Tina Talisa memaparkan sistem panas bumi dan pemanfaatannya sebagai sumber energi bersih dalam kegiatan Kunjungan Media & Edukasi Pemanfaatan Energi Panas Bumi (Geothermal) di area PLTP PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Kamojang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).   DOK JAR
Staf Khusus Wakil Presiden Tina Talisa memaparkan sistem panas bumi dan pemanfaatannya sebagai sumber energi bersih dalam kegiatan Kunjungan Media & Edukasi Pemanfaatan Energi Panas Bumi (Geothermal) di area PLTP PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Kamojang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026). DOK JAR

RM.id  Rakyat Merdeka - Staf Khusus Wakil Presiden Tina Talisa mengunjungi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Kamojang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026). Kunjungan tersebut membahas risiko lingkungan dan manfaat pemanfaatan energi panas bumi bagi masyarakat.

Tina mengatakan, edukasi publik diperlukan untuk menjawab kekhawatiran masyarakat terkait pemanfaatan panas bumi. Isu yang berkembang meliputi potensi gangguan air tanah, gempa akibat pengeboran, aktivitas gunung berapi, hingga dampak terhadap kawasan hutan.

“Ini yang menurut pandangan kami perlu dijawab secara keilmuan dan tentu dengan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat,” ujar Tina.

Menurut dia, pemahaman masyarakat perlu dibangun melalui informasi yang akurat dan mudah dimengerti. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, perusahaan pengembang, akademisi, masyarakat, dan media.

Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan memahami cara kerja pembangkit panas bumi sekaligus mengetahui risiko lingkungan yang perlu dikelola. Dengan begitu, diskusi mengenai pengembangan energi panas bumi dapat didasarkan pada penjelasan ilmiah.

Baca juga : Pemerintah Dan Pertamina Perkuat RDMP Balikpapan, Progres Capai 99 Persen

Tina juga menyoroti mekanisme reinjeksi dalam pengelolaan panas bumi. Proses ini dilakukan dengan mengembalikan fluida sisa produksi ke reservoir melalui sumur khusus. Tujuannya membantu menjaga tekanan reservoir dan mendukung keberlanjutan produksi.

Selain risiko lingkungan, Tina menilai masyarakat perlu mengetahui manfaat panas bumi bagi perekonomian setempat. Pemanfaatan langsung energi panas bumi dapat mendukung kegiatan produktif, seperti pengeringan biji kopi, pertanian, dan perikanan.

Dalam kunjungan media dan edukasi tersebut, Tina didampingi jajaran PGE, termasuk Direktur Operasi PGE Andi Joko. Para jurnalis mendapat penjelasan mengenai proses pemanfaatan energi panas bumi dan meninjau fasilitas pembangkit.

Pakar hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Lambok M. Hutasoit, menjelaskan bahwa hubungan reservoir panas bumi dengan sumber air tanah bergantung pada kondisi geologi di setiap lokasi.

Menurut Lambok, reservoir panas bumi dan akuifer dangkal yang menjadi sumber air rumah tangga umumnya berada pada lapisan berbeda. Meski demikian, penelitian geologi setempat tetap diperlukan untuk mengetahui kemungkinan hubungan antarlapisan.

Baca juga : Pertamina Drilling Siap Garap Migas Nonkonvensional, Perkuat Ketahanan Energi

“Reservoir panas bumi dengan akuifer air tanah itu kebanyakan tidak berhubungan secara langsung,” ujar Lambok.

Terkait kekhawatiran gempa, Lambok menjelaskan bahwa pengeboran merupakan proses menembus batuan untuk mencapai target di bawah permukaan bumi. Namun, risiko gempa perlu dilihat berdasarkan aktivitas yang dilakukan selama pengembangan dan pengoperasian fasilitas panas bumi.

Pengeboran tidak serta-merta memicu gempa. Meski demikian, injeksi fluida dan perubahan tekanan pada batuan dapat memicu gempa terinduksi dalam kondisi tertentu. Karena itu, pemantauan seismik tetap diperlukan untuk mengawasi aktivitas di sekitar fasilitas.

Lambok juga menjelaskan penggunaan blowout preventer (BOP), perangkat pengaman untuk mengendalikan tekanan sumur dan membantu mencegah keluarnya gas atau fluida secara tidak terkendali.

“Selalu ada blowout preventer. Jadi dipantau terus itu,” katanya.

Baca juga : Tiga UMKM Binaan Pertamina Raih UKM Pangan Award 2026

Penggunaan perangkat tersebut menjadi bagian dari prosedur keselamatan pengeboran. Namun, pengendalian tekanan, pengawasan operasional, dan pemantauan kondisi geologi tetap diperlukan untuk mengelola risiko kecelakaan.

Indonesia memiliki potensi energi panas bumi sekitar 23,2 gigawatt (GW). Sementara itu, kapasitas pembangkit panas bumi yang telah dimanfaatkan mencapai sekitar 2,78 GW.

Besarnya potensi tersebut membuka peluang untuk memperkuat pasokan listrik nasional melalui energi panas bumi. Pengembangannya tetap perlu disertai pengelolaan risiko dan pemantauan lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.