RM.id Rakyat Merdeka - PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) memperkuat transformasi bisnis melalui pengembangan tiga pilar usaha terintegrasi, yakni energi dan kimia, infrastruktur terintegrasi, serta solusi mobilitas, guna memperluas sumber pendapatan dan memperkuat fundamental perusahaan.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Suryandi mengatakan, diversifikasi bisnis tersebut merupakan strategi jangka panjang perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap industri petrokimia yang memiliki karakter siklus.
"Chandra Asri saat ini sudah mendiversifikasi usahanya bukan cuma di petrokimia, tapi juga menyangkut energi. Lalu kemudian ada infrastruktur, seperti listrik, air, tangki, kapal, dan warehouse. Semua itu bisa menjadi sumber pendapatan baru yang lebih berkelanjutan," kata Suryandi dalam Diskusi Forwin bertema "Transformasi Chandra Asri: Memperkuat Daya Saing Industri, Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan" di Jakarta Selatan, Senin (2/11/2026).
Ia menjelaskan, industri petrokimia sangat dipengaruhi dinamika harga minyak serta keseimbangan pasokan dan permintaan. Kondisi tersebut dapat menekan marjin perusahaan sehingga diperlukan diversifikasi usaha untuk menjaga kinerja grup.
Transformasi bisnis itu tercermin dari peningkatan kapasitas produksi Chandra Asri yang mencapai 17,6 juta ton pada 2026, meningkat dibandingkan sekitar 4,4 juta ton pada 2023–2024. Kapasitas tersebut ditargetkan naik menjadi sekitar 21 juta ton pada 2027 seiring pengembangan sejumlah fasilitas strategis, termasuk Condensate Splitter Unit.
Pada pilar energi dan kimia, perusahaan memperkuat bisnis petrokimia di Indonesia sekaligus memperluas ekspansi di Singapura. Salah satu langkah strategisnya adalah akuisisi aset kilang dan petrokimia milik Shell pada 2025 yang kini beroperasi melalui Aster.
Baca juga : Produksi Tembus 6,59 Juta Ton, Petrokimia Gresik Dukung Ketahanan Pangan
Di dalam negeri, Chandra Asri juga mengembangkan fasilitas Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) dengan nilai investasi sekitar Rp 15 triliun. Hingga November 2026, progres pembangunan fasilitas tersebut telah mencapai 85 persen dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2027.
Fasilitas CA-EDC dirancang memiliki kapasitas produksi 400.000 ton caustic soda dan 500.000 ton EDC per tahun. Produk tersebut dibutuhkan berbagai sektor industri, antara lain pengolahan alumina, nikel, konstruksi, hingga industri produk rumah tangga.
Pengembangan proyek tersebut didukung kemitraan strategis dengan Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) sebagai pemegang saham. Kehadiran fasilitas itu diharapkan memperkuat industri kimia dasar nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku.
Sementara itu, pilar infrastruktur terintegrasi dikembangkan melalui penyediaan listrik, air, tangki penyimpanan, kapal, pergudangan, dan layanan logistik untuk mendukung kebutuhan industri.
Pada 2026, perusahaan memperkuat kapabilitas logistik melalui pengoperasian dua kapal kimia, Novah dan Boreas, yang masing-masing memiliki kapasitas 9.000 DWT. Perusahaan juga mengembangkan layanan sektor lepas pantai melalui kapal Elara Dalimbar 1.
Secara keseluruhan, Chandra Asri kini mengoperasikan 15 kapal untuk mendukung pengangkutan gas, bahan kimia cair, dan kebutuhan sektor lepas pantai.
Baca juga : RPU Resmikan Tangki Bitumen Berkapasitas 12.000 Meter Kubik
Selain itu, perusahaan memperoleh konsesi pelabuhan kimia cair bersama KSOP Kelas I Banten serta meresmikan tiga tangki penyimpanan bitumen dengan total kapasitas 15.000 meter kubik.
Adapun pada pilar solusi mobilitas, Chandra Asri memperluas bisnis melalui jaringan SPBU Esso dan distribusi otomotif Cycle & Carriage di Singapura. Pengembangan tersebut mencakup ekosistem mobilitas mulai dari penyediaan bahan bakar hingga layanan distribusi kendaraan.
Untuk mendukung operasional ketiga pilar bisnis, perusahaan juga mengembangkan PT Chandra Asri Central Solusi sebagai pusat layanan bersama (shared services).
Entitas tersebut menyediakan layanan keuangan, sumber daya manusia, pengadaan, layanan pelanggan, operasional pelanggan, hingga teknologi informasi. Saat ini, Chandra Asri Central Solusi mempekerjakan hampir 200 orang dan ditargetkan mampu menampung sekitar 300 tenaga kerja.
Suryandi mengatakan penguatan ketiga pilar bisnis didukung empat arah transformasi perusahaan, yakni memperkuat fundamental dan pertumbuhan bisnis di Indonesia, menjalankan ekspansi strategis, mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, serta memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri hilir.
Strategi diversifikasi dan ekspansi tersebut turut tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan. Hingga sembilan bulan pertama 2026, Chandra Asri membukukan pendapatan sekitar 8,2 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan sekitar 5 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga : Menperin: Pertrokimia Gresik Akan Cetak Sejarah Industri Hijau Lewat Proyek CCU
EBITDA perusahaan juga meningkat menjadi hampir 1 miliar dolar AS dari posisi negatif 32 juta dolar AS. Sementara itu, laba bersih mencapai 395 juta dolar AS, berbalik dari kerugian 153 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Perbandingan kinerja tersebut telah memperhitungkan penyesuaian atas pencatatan negative goodwill sekitar 1,7 miliar dolar AS yang merupakan keuntungan satu kali dari transaksi akuisisi aset Shell pada 2025, sehingga memberikan gambaran yang lebih sebanding mengenai perkembangan operasional perusahaan.
Di bidang ketenagakerjaan dan sosial, Chandra Asri menargetkan penyerapan hingga 1.000 tenaga kerja baru secara bertahap sampai 2028 seiring pengembangan fasilitas CA-EDC, pusat layanan bersama, dan ekspansi bisnis lainnya.
Perusahaan juga mendukung peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui Politeknik Industri Petrokimia Banten, pemberdayaan 20 UMKM, serta program beasiswa yang telah menjangkau lebih dari 1.000 penerima manfaat.
Dalam aspek lingkungan, perusahaan menjalankan berbagai inisiatif efisiensi energi, pemanfaatan energi baru terbarukan, ekonomi sirkular, dan pengelolaan limbah.
Chandra Asri menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89 persen pada 2030 dibandingkan tingkat emisi pada 2018. Hingga saat ini, intensitas emisi perusahaan telah turun 14,6 persen dibandingkan tahun dasar tersebut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.