RM.id Rakyat Merdeka - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk secara konsisten mempertahankan posisi kualitas aset terbaik di industri perbankan nasional.
Per September 2026, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) bruto Bank Mandiri berhasil diturunkan menjadi 0,98 persen, dari 1,03 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2026, NPL bruto industri perbankan nasional tercatat 2,11 persen, atau hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan pencapaian Bank Mandiri.
Pengamat Perbankan sekaligus Direktur pada Crypto Asset Clearing International Moch Amin Nurdin menilai, kualitas aset Bank Mandiri per September 2026 dinilai tetap sangat baik dan terjaga.
“Rasio Kredit Bermasalah atau NPL tercatat 0,98 persen, jauh di bawah rata-rata industri. Didukung pencadangan yang kuat serta beban risiko kredit yang rendah,” katanya saat dihubungkan RM.id, Selasa (3/11/2026).
Dia menyebut, rendahnya NPL bukan satu-satunya tolok ukur kesehatan lembaga keuangan. Amin menjelaskan tiga indikator utama yang mencerminkan kekokohan posisi Bank Mandiri.
Pertama, NPL 0,98 menunjukkan kemampuan bank mengendalikan risiko kredit tetap baik. Kemudian, NPL Coverage Ratio mencapai 243 persen mencerminkan kecukupan pencadangan sangat kuat untuk menampung potensi kerugian.
Baca juga : Bank Mandiri Taspen Ajak Nasabah Hidup Sehat
Indikator ketiga, Bank Mandiri mencatat Cost of Credit (CoC) 0,55 persen yang berarti, beban risiko kredit masih relatif rendah.
"Kombinasi indikator dari angka tersebut, memberikan gambaran bahwa fundamental kualitas aset Bank Mandiri cukup solid," ujarnya.
Amin melihat, prospek Bank Mandiri masih cukup positif, mengingat bank berpita emas ini memiliki skala bisnis, diversifikasi portofolio, jaringan, serta kapasitas permodalan yang relatif kuat.
Pertumbuhan kredit Bank Mandiri yang mencapai 17,6 persen secara tahunan hingga Agustus 2026 menunjukkan kemampuan intermediasi yang masih ekspansif.
“Namun, tantangannya adalah, bagaimana menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset,” katanya.
Apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi suku bunga, tekanan biaya usaha, dan daya beli masyarakat, bank harus semakin selektif dalam menentukan sektor dan debitur yang akan dibiayai.
Setidaknya, sambung Amin, ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian Bank Mandiri ke depan. Pertama, memperkuat prinsip prudent lending dengan memastikan ekspansi kredit didasarkan pada fundamental usaha dan kemampuan membayar debitur, bukan semata-mata mengejar target pertumbuhan.
Baca juga : Bank Mandiri Perhitungkan Agunan Saham PGUN dan JARR Secara Konservatif
“Kedua, memperkuat early warning system dan monitoring kualitas kredit, terutama pada sektor-sektor yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan kondisi ekonomi,” katanya.
Ketiga, menjaga diversifikasi portofolio dan kecukupan pencadangan, sehingga risiko konsentrasi kredit dapat dikendalikan dan bank memiliki ruang yang cukup untuk mengantisipasi potensi pemburukan ekonomi.
Amin juga menekankan, pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit korporasi dan segmen UMKM serta konsumer, dengan tetap mempertimbangkan profil risiko dan potensi imbal hasil masing-masing segmen.
“Bank Mandiri memiliki modal fundamental yang cukup kuat untuk mempertahankan kualitas aset sekaligus melanjutkan ekspansi bisnis,” tuturnya.
Keberhasilan ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan penyaluran kredit. Tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas pertumbuhan tersebut.
“Dalam industri perbankan, sustainable growth is more important than aggressive growth,” kata Amin. Artinya, pertumbuhan yang sehat dan berkualitas jauh lebih bernilai dibandingkan pertumbuhan yang tinggi tetapi menyimpan risiko kredit di kemudian hari.
Sebelumnya, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita menyampaikan, kualitas aset tetap menjadi perhatian dalam setiap ekspansi kredit. Ketahanan portofolio juga didukung NPL coverage ratio bank only sebesar 243 persen, dengan cost of credit sebesar 0,55 persen.
Baca juga : Kredit ke Jhonlin dengan Agunan Saham JARR dan PGUN, Ini Penjelasan Bank Mandiri
“Pertumbuhan kredit perlu disertai penilaian risiko dan pemantauan kualitas aset yang disiplin. Dengan pengelolaan tersebut, kami menjaga kualitas portofolio agar Bank Mandiri dapat terus mendukung kebutuhan pembiayaan masyarakat dan dunia usaha,” katanya dalam paparan Kinerja Keuangan kuartal III-2026, Jumat (23/10/2026).
Pertumbuhan bisnis tersebut turut didukung permodalan yang terjaga, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank only sebesar 18,4 persen per September 2026.
“Posisi ini memberikan ruang bagi Bank Mandiri untuk melanjutkan pengembangan bisnis dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” tegasnya.
Tak hanya itu, Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp 45,5 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 20,7 persen yoy, seiring ekspansi kredit berbasis ekosistem, peningkatan transaksi digital, serta produktivitas bisnis yang terus membaik.
Pertumbuhan kredit dan peningkatan transaksi nasabah turut memperkuat pendapatan perseroan. Hingga September 2026, pendapatan bunga tumbuh 7,08 persen secara tahunan menjadi Rp 97,3 triliun, sementara pendapatan non-bunga meningkat 13,8 persen menjadi Rp 29,4 triliun.
Novita menegaskan, ke depan, fokus Bank Mandiri bukan hanya menjaga pertumbuhan bisnis. Tetapi juga memastikan setiap ekspansi memberikan nilai tambah bagi nasabah, pelaku usaha, dan pemegang saham.
“Dengan fundamental keuangan yang sehat serta layanan yang semakin terintegrasi, kami optimis Bank Mandiri dapat terus mendukung aktivitas ekonomi dan memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.