BREAKING NEWS
 

Kemendes PDTT & PLN EPI Bangun Ekosistem Biomassa

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Rabu, 4 November 2026 20:43 WIB
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, menjelaskan pengembangan biomassa merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi primer PLN Grup untuk mendukung keandalan pasokan listrik sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar PLTU.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama memperkuat pengembangan ekosistem biomassa berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) melalui peluncuran Program Pengembangan Ekosistem Biomassa Bersama BUMDesa di Desa Salira, Kabupaten Serang, Banten.

Launching ditandai dengan pengiriman perdana sawdust (serbuk gergaji) dari BUMDesa di Desa Salira, Kabupaten Serang, Banten menuju PLTU Suralaya yang dioperasikan oleh PLN Indonesia Power.

Kolaborasi ini dilakukan dengan mengintegrasikan potensi limbah pertanian, perkebunan, dan industri lokal ke dalam rantai pasok biomassa untuk kebutuhan pembangkit listrik guna mendukung transisi energi, mengurangi emisi karbon, sekaligus menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja baru bagi masyarakat desa.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto, mengatakan pengembangan ekosistem biomassa merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi sumber daya desa menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Melalui kolaborasi dengan PLN EPI, masyarakat desa didorong untuk mengambil peran aktif sebagai pelaku usaha dalam rantai pasok energi nasional.

"Launching hari ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi benar-benar menjadi tonggak keseriusan kita. Ujungnya adalah bagaimana memastikan potensi apa pun yang ada di desa bisa kita maksimalkan," ujar Yandri.

Menurut Yandri, program ini sejalan dengan Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan.

Baca juga : Kemenkop–PLN EPI Kolaborasi Kembangkan Ekosistem Biomassa Berbasis Koperasi

Pengembangan biomassa diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang selama ini belum dioptimalkan. Potensi biomassa tersebut antara lain berasal dari bonggol jagung, jerami, serbuk gergaji, sabut dan tempurung kelapa, hingga cangkang sawit.

Melalui pengelolaan BUMDesa, berbagai bahan baku tersebut dapat dikumpulkan, diolah, dan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan biomassa pembangkit listrik PLN.

Yandri menilai pengembangan ekosistem biomassa memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai wilayah Indonesia. Di Kabupaten Serang, terdapat 326 desa yang dapat dipetakan potensi sumber daya lokalnya untuk mendukung pengembangan rantai pasok biomassa.

Pada tahap awal, BUMDesa Bantarwaru di Kecamatan Cinangka dan BUMDesa Kadukempong di Kecamatan Padarincang menjadi bagian dari pengembangan ekosistem tersebut.

"Kalau ada kepastian penyerapan, akan ada kegiatan ekonomi. Ada yang bekerja, ada yang mendapatkan uang, ada juga kebersihan lingkungan. Efek dominonya banyak. Bukan hanya sekadar uang rupiah, tetapi bagaimana keberlangsungan hidup di desa menjadi lebih bersih, lebih guyub, dan lebih bagus," ujar Yandri.

Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, menjelaskan pengembangan biomassa merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi primer PLN Grup untuk mendukung keandalan pasokan listrik, sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar PLTU.

Adsense

Pemanfaatan biomassa melalui teknologi cofiring memungkinkan sebagian penggunaan batubara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) disubstitusi dengan bahan baku berbasis sumber daya lokal.

Baca juga : PLN EPI dan BNI Perkuat Ekosistem Biomassa

Selain berkontribusi terhadap pengurangan emisi, program ini membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam penyediaan energi primer melalui pengembangan ekonomi sirkular.

"Kalau batubara dan gas rata-rata berasal dari pemasok besar, biomassa ini merupakan pasokan yang melibatkan ekonomi sirkuler. Menurut kami, ini juga bagian dari ekonomi kerakyatan," ujar Rakhmad.

Rakhmad mengungkapkan bahwa sepanjang 2025, pasokan biomassa PLN Group telah mencapai sekitar 2,4 juta ton melalui kolaborasi PLN EPI bersama PLN Indonesia Power dan PLN Nusantara Power.

Pada 2026, pasokan biomassa diproyeksikan berada pada kisaran yang sama dan ditargetkan meningkat menjadi tiga juta ton pada 2027.

Dalam jangka panjang, PLN EPI menargetkan pemanfaatan biomassa untuk program cofiring mencapai delapan juta hingga sepuluh juta ton pada 51 titik pembangkit di seluruh Indonesia.

Untuk mendukung pencapaian tersebut, perusahaan terus memperluas kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk BUMDesa, guna membangun rantai pasok biomassa yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Pengembangan ekosistem ini dilakukan melalui model rantai pasok yang melibatkan hub, sub-hub, serta pusat pengumpulan dan pengolahan biomassa.

Baca juga : PLN EPI Dorong Ekosistem Biomassa untuk Capai Target 3 Juta Ton

Dalam skema tersebut, BUMDesa berpeluang menjadi agregator bahan baku dari masyarakat maupun pengelola fasilitas produksi yang menghasilkan biomassa sesuai dengan spesifikasi kebutuhan pembangkit.

PLN EPI juga menyiapkan dukungan fasilitas produksi, antara lain mesin pencacah dan pengering, untuk meningkatkan kualitas bahan baku, termasuk nilai kalor dan kadar air biomassa.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir menambahkan kolaborasi Kemendes PDTT dan PLN EPI merupakan tindak lanjut nota kesepahaman antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dengan PT PLN (Persero) pada 28 April 2026.

Kesepakatan itu kemudian diperkuat melalui perjanjian kerja sama antara Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal dengan PLN EPI pada 20 Agustus 2026.

Sebagai langkah implementasi, program pengembangan ekosistem biomassa ditargetkan melibatkan tiga BUMDesa pada 2026, meningkat menjadi enam BUMDesa pada 2027, dan sepuluh BUMDesa pada 2028.

Jumlah tersebut berpeluang terus bertambah seiring dengan pemetaan potensi bahan baku, kesiapan kelembagaan BUMDesa, dan kebutuhan biomassa pembangkit di berbagai wilayah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense