BREAKING NEWS
 

JEC Eye Hospitals Raih Penghargaan Berkat Edukasi Deteksi Dini Mata Juling

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Kamis, 25 Juni 2026 14:34 WIB
Dari kiri ke kanan: Business Contract Manager and Sales JEC Group Dicky Taruna, Chief Operating Officer MCorp Iwan Setiawan, dan PR Manager JEC Group Ichramsyah usai menerima penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 atas kampanye edukasi deteksi dini strabismus atau mata juling.

RM.id  Rakyat Merdeka - JEC Eye Hospitals & Clinics meraih penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 berkat kampanye edukasi deteksi dini strabismus atau mata juling. Kampanye tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa mata juling bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi medis yang perlu diperiksa dan ditangani sejak dini.

Penghargaan kategori Impactful Omnichannel Social Campaign diberikan melalui kampanye "Strabismus: From Stigma to Confidence" pada Selasa (23/6/2026). Kampanye itu mengedepankan edukasi melalui berbagai saluran komunikasi agar masyarakat lebih mudah memperoleh informasi mengenai strabismus.

Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Group Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, Sp.M(K), PhD mengatakan, penghargaan tersebut menjadi penyemangat bagi JEC untuk terus memperluas edukasi kesehatan mata kepada masyarakat.

Menurut dia, masih banyak masyarakat yang menganggap mata juling hanya berkaitan dengan penampilan atau akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.

Padahal, strabismus merupakan kondisi ketika posisi kedua mata tidak sejajar. Gangguan tersebut dapat dialami anak maupun orang dewasa.

Jika tidak ditangani, kondisi itu dapat mengganggu fungsi penglihatan. Dampaknya meliputi gangguan melihat tiga dimensi, kesulitan memperkirakan jarak, hingga meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas.

Baca juga : Kejagung Sita Lamborghini hingga Alat Berat di Kasus Bauksit Kalbar

“Penghargaan ini kami maknai sebagai dorongan untuk terus memperluas edukasi kesehatan mata kepada masyarakat,” ujar Prof. Tjahjono.

Dia mengatakan, kampanye tersebut mengajak masyarakat, terutama orang tua, lebih peka terhadap tanda-tanda strabismus sejak usia dini.

Pada bayi, mata yang tampak belum sejajar masih dapat terjadi karena koordinasi saraf mata belum berkembang sempurna. Namun, apabila kondisi itu masih menetap setelah usia enam bulan, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata.

Menurut Prof. Tjahjono, deteksi dini sangat penting untuk mengetahui penyebab strabismus secara tepat. Penyebabnya dapat berasal dari gangguan otot mata, saraf, faktor genetik, maupun kelainan refraksi seperti mata minus, mata plus, atau mata silinder yang belum terkoreksi.

“Semakin dini diketahui, semakin besar peluang anak mendapatkan tata laksana yang sesuai dan hasil yang lebih optimal,” katanya.

Adsense

Dia menjelaskan, gejala strabismus tidak selalu tampak setiap saat. Pada sebagian pasien, mata juling terlihat terus-menerus.

Baca juga : Wamenkop Raih Penghargaan Impactful Alumni Awards UNNES 2026

Namun, pada kasus lain kondisi tersebut hanya muncul ketika anak lelah, mengantuk, melamun, atau sedang kurang sehat. Bahkan, ada pula kasus yang baru dapat diketahui melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh.

Karena itu, masyarakat tidak disarankan menunggu hingga keluhan semakin berat sebelum memeriksakan kondisi mata.

Untuk memperluas jangkauan edukasi, JEC menjalankan kampanye melalui berbagai kanal komunikasi. Kegiatan tersebut meliputi edukasi digital, media sosial, seminar kesehatan mata, talkshow radio, podcast, publikasi media, skrining mata, hingga program sosial operasi mata juling gratis.

Menurut Prof. Tjahjono, pendekatan omnichannel membuat pesan edukasi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan konsisten.

Di sisi layanan medis, penanganan strabismus dilakukan sesuai kondisi masing-masing pasien. Pemeriksaan menyeluruh menjadi langkah awal untuk menentukan penyebab mata juling.

Pada sebagian pasien, penggunaan kacamata dapat membantu memperbaiki fokus dan posisi mata. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat merekomendasikan terapi patching untuk melatih mata yang lebih lemah, vision therapy guna meningkatkan koordinasi otot dan saraf mata, hingga tindakan operasi apabila diperlukan berdasarkan hasil diagnosis.

Baca juga : Budy Sugandi Raih Penghargaan Bergengsi 2026 Türkiye Alumni Awards

JEC mencatat edukasi yang dilakukan mulai memberikan dampak terhadap peningkatan kesadaran masyarakat. Berdasarkan data internal, jumlah tindakan penanganan strabismus meningkat 29 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa semakin banyak masyarakat berani mencari informasi, menjalani pemeriksaan, dan memahami pilihan penanganan yang tersedia setelah memperoleh edukasi yang benar.

“Bagi kami, edukasi kesehatan mata tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga membantu masyarakat mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kualitas penglihatan,” kata Prof. Tjahjono.

Dia berharap kampanye edukasi tersebut terus meningkatkan deteksi dini, mengurangi stigma terhadap penyandang mata juling, serta membantu lebih banyak pasien memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medis.

JEC Eye Hospitals & Clinics saat ini memiliki 16 cabang layanan kesehatan mata di Jabodetabek dan berbagai wilayah Indonesia. JEC juga tengah mengembangkan JEC BALI @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur dengan konsep Blue Hospital yang mengedepankan teknologi medis modern, desain pendukung proses penyembuhan, serta sistem bangunan yang efisien dan berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense