BREAKING NEWS
 

Sekolah Rakyat, Melunasi Utang Kemerdekaan, Menuju Indonesia Emas 2045

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Minggu, 28 September 2025 12:41 WIB
Prof Dr Ir Mohammad Nuh, DEA, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Kementerian Sosial [Foto-foto: Rusma/RM.id]

 Sebelumnya 
Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidik Misi) adalah program bantuan biaya pendidikan yang digagas Nuh saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dan diluncurkan pada 2010, untuk mahasiswa dengan potensi akademik baik, namun kurang mampu secara ekonomi.

Pada 2020, program ini bertransformasi menjadi Program Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, bertujuan memberikan kesempatan bagi lulusan SMA/SMK/MA sederajat melanjutkan pendidikan tinggi, tanpa terhalang biaya, dengan dukungan biaya kuliah penuh dan bantuan biaya hidup.

“Yang dulu anak itu nggak mungkin bisa kuliah, jadi bisa! Bahkan alumninya sudah ratusan ribu. Termasuk yang jadi guru-guru SR ini,” papar Ketua Dewan Pers periode 2019-2022 ini.

Di sisi lain, Nuh juga menilai, selama ini belum ada yang pernah menerapkan model seperti Sekolah Rakyat, sekolah khusus untuk anak-anak miskin, tanpa melihat kemampuan akademisnya.

Baca juga : Sekolah Rakyat Putus Rantai Kemiskinan dan Lahirkan Generasi Emas 2045

Kalaupun selama ini ada, dia mengingatkan, banyak sekolah yang menerima anak yang tidak mampu, namun dengan syarat kemampuan akademik tertentu.

Lebih jauh, Nuh menjelaskan adanya mapping saat penerimaan anak-anak untuk masuk SR. Pertama, mapping fisik dan kesehatan. Ini disinergikan dengan program Kementerian Kesehetan (Kemenkes) untuk melakukan cek kesehatan gratis. Sehingga anak-anak ini punya peta fisiknya. Termasuk urusan gizinya.

Kedua, mapping psikososial dan talentanya. Dengan begitu, prestasi seseorang tidak hanya ditentukan oleh sisi akademik semata.

“Ilustrasi saya, burung pipit kalau dikasih beban, suruh ngangkut 1 kg, tobat dia. Tapi kalau disuruh terbang, dia berangkat. Sapi, dikasih beban 100 kg, berangkat. Tapi disuruh terbang, minta ampun dia!” Nuh memberi gambaran.

Baca juga : Wartawan Rakyat Merdeka Sukses Sabet Juara 1 Apeka 2025

Makanya, lanjut Nuh, dia membuat aksioma, sesuatu yang tidak terbantahkan lagi. Karena pasti cocok.

Alasannya, tidak ada ciptaan Tuhan yang percuma. “’Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan alam ini dengan sia-sia, dan ‘Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling baik’,” Nuh mengutip ayat al-Qur’an Surah Ali ‘Imran (No. 3) ayat 191 dan Surah At-Tin (No 95) ayat 4.

Mapping ketiga, lanjut Nuh, setiap orang punya uniqueness (keunikan). “Kita pakai mapping ini sebagai modal untuk sukses,” tegasnya. Kalau orang punya talenta A, akan didorong ke A.

“Kalau dia nggak bisa ngomong di depan publik, jangan dipaksa jadi jurubicara. Kalau dia susah ngitung, hobinya nyanyi, ya suruh jadi penyanyilah. Demikian seterusnya,” jelas Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2022-2027 ini.

Baca juga : Daeng Sitaba, Petani Yang Ulet dan Penuh Semangat

Sehingga para guru, ujarnya, akan membimbing para murid, sudah dengan pengetahuan karakternya masing-masing.

Kemudian, mapping akademik dalam pengertian luas yang membedakan kekuatan, baik dari sisi hafalan atau analitis. (*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense