RM.id Rakyat Merdeka - Arab Saudi kembali mengumumkan penerima Labbaytum Diamond Award 2026, penghargaan tertinggi bagi penyelenggara layanan haji dunia. Malaysia kembali masuk jajaran penerima penghargaan tersebut, sementara Indonesia yang selama ini dikenal sebagai pengirim jamaah haji terbesar di dunia belum berhasil menembus daftar pemenang.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan, mengapa negara dengan jumlah jamaah terbesar justru belum mampu memperoleh pengakuan yang sama?
Pengamat haji dan ekonomi syariah, Dr. H.A. Iskandar Zulkarnain, menilai penghargaan tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi sekaligus motivasi bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas layanan haji.
“Diamond Award bukan soal prestise semata. Penghargaan itu menunjukkan kemampuan suatu negara menghadirkan layanan haji yang unggul, profesional, dan berorientasi pada kepuasan jamaah,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka.
Menurut CEO & Founder Hajj Umrah Center itu, ukuran keberhasilan penyelenggaraan haji saat ini tidak lagi ditentukan oleh besarnya kuota jamaah. Arab Saudi menilai berbagai aspek, mulai dari kepatuhan terhadap regulasi, kualitas akomodasi, transportasi, layanan kesehatan, kesiapan petugas, pemanfaatan teknologi digital, hingga kepuasan jamaah.
Baca juga : 4 Pemain Persija Dipanggil Timnas Indonesia Buat FIFA Matchday
Karena itu, jumlah jamaah yang besar tidak otomatis menjadi jaminan memperoleh penghargaan.
Iskandar menilai keberhasilan Malaysia tidak lepas dari konsistensi membangun tata kelola haji yang terintegrasi melalui Tabung Haji. Sistem pengelolaan dana, pembinaan jamaah, pelayanan operasional, hingga evaluasi berjalan dalam satu ekosistem yang relatif solid.
Sementara Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Selain jumlah jamaah yang besar, pengelolaan haji juga melibatkan banyak pemangku kepentingan dan harus menyesuaikan perubahan kebijakan Arab Saudi yang berlangsung sangat cepat.
Meski demikian, Iskandar melihat peluang Indonesia untuk mengejar ketertinggalan terbuka lebar, terutama setelah terbentuknya Kementerian Haji dan Umrah yang diharapkan mampu memperkuat integrasi layanan dan kebijakan.
“Indonesia harus mulai menjadikan Diamond Award sebagai target nasional. Sebagai negara muslim terbesar dan pengirim jamaah terbesar di dunia, kita seharusnya tidak hanya besar dari sisi jumlah, tetapi juga menjadi benchmark pelayanan haji dunia,” tutur Ketua Bidang Wakaf Uang Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.
Baca juga : Absen Di Parade Hari Israel, Wali Kota New York Asyik Gowes & Wawancara Radio
Menurut Iskandar, terdapat beberapa langkah yang perlu dipercepat. Pertama, digitalisasi layanan haji dari hulu hingga hilir. Kedua, peningkatan kompetensi petugas melalui sertifikasi dan pelatihan berstandar internasional. Ketiga, integrasi data lintas lembaga untuk mempercepat pengambilan keputusan. Keempat, penguatan manajemen risiko guna mengantisipasi perubahan regulasi di Arab Saudi.
Ia juga menilai gagasan Presiden Prabowo Subianto terkait pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi dapat menjadi bagian dari transformasi besar ekosistem haji nasional.
Selain meningkatkan efisiensi pelayanan, proyek tersebut dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem haji dan umrah global yang terus berkembang.
Pada saat yang sama, pengelolaan dana haji oleh BPKH perlu terus dioptimalkan untuk mendukung peningkatan kualitas layanan serta investasi strategis yang berkaitan dengan kebutuhan jamaah Indonesia.
Menurut Iskandar, Diamond Award sejatinya bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah memastikan jamaah memperoleh pelayanan yang aman, nyaman, profesional, dan semakin berkualitas dari tahun ke tahun.
Baca juga : Pemulangan Perdana Haji Indonesia Dimulai 1 Juni
“Kalau Malaysia bisa meraihnya berkali-kali, saya optimistis Indonesia juga mampu. Kita memiliki modal besar, pengalaman panjang, jumlah jamaah terbesar, serta dukungan kelembagaan yang terus berkembang. Tinggal bagaimana seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam satu irama untuk mencapai standar layanan kelas dunia,” terang mantan Anggota Badan Pelaksana sekaligus Chief Investment Officer BPKH itu.
Bagi Indonesia, Diamond Award memang hanya sebuah penghargaan. Namun di balik penghargaan itu terdapat pesan penting bahwa penyelenggaraan haji modern tidak cukup hanya mengandalkan jumlah jamaah. Yang menentukan adalah kualitas layanan. Dan di situlah tantangan sekaligus peluang Indonesia untuk menjadi yang terbaik di dunia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.