RM.id Rakyat Merdeka - Siang itu makin terik kala Aldi Avianto (29) sudah berada di tepi kolam tambak udang vaname di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Bersama rekan-rekannya, ia memeriksa kondisi kolam, menyiapkan pakan, hingga melakukan penyiponan untuk menjaga kualitas air.
Sulit membayangkan bahwa beberapa tahun lalu Aldi merupakan warga binaan yang harus menjalani pembinaan di salah satu lapas berkeamanan tinggi di Nusakambangan. Kini, menjelang kebebasannya, ia justru menjadi bagian dari proyek ketahanan pangan nasional yang tengah dikembangkan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).
"Yang jelas senang. Lebih produktif, lebih banyak pengalaman, dan tambah relasi," kata Aldi saat ditemui Rakyat Merdeka di kawasan tambak, Jumat (19/6/2026).
Aldi bukanlah orang yang memiliki latar belakang perikanan. Semua yang ia ketahui tentang budidaya udang vaname dipelajarinya dari nol selama mengikuti program asimilasi luar di Nusakambangan.
"Saya belajar dari nol semua. Awalnya tidak punya dasar sama sekali," tukasnya.
Perjalanan Aldi di Nusakambangan menggambarkan proses pembinaan berjenjang yang diterapkan di lingkungan pemasyarakatan.
Sebelum tiba di Nusakambangan, ia menjalani pidana selama lima tahun di Lapas Semarang. Setelah itu, ia dipindahkan ke Nusakambangan dan menjalani pembinaan di beberapa lapas berbeda.
Baca juga : RI-Afsel Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Bidik Sister City Surabaya-Mangaung
"Di Nusakambangan sudah tiga tahun. Saya pernah di Karanganyar sekitar setahun, kemudian di Lapas Narkotika satu setengah tahun, dan sekarang di Permisan," tuturnya.
Perpindahan tersebut mencerminkan peningkatan tingkat kepercayaan dalam sistem pembinaan.
"Dari super maximum, maximum, sampai medium," katanya.
Kini, setelah enam bulan berada di Lapas Permisan dan mendekati masa bebas pada 5 Agustus mendatang, Aldi mendapat kesempatan mengikuti program asimilasi luar melalui kegiatan budidaya udang vaname.
Menurut Aldi, warga binaan yang dilibatkan dalam program tersebut dipilih berdasarkan penilaian dan kedekatan masa bebas.
"Yang bisa bekerja di luar biasanya yang sudah mendekati pengurusan dan pulang," ujarnya.
Setiap hari Aldi memulai aktivitas sejak pukul 06.00 pagi. Rutinitasnya meliputi pemberian pakan, pemeliharaan kolam, penyiponan, hingga berbagai pekerjaan teknis lainnya yang diperlukan dalam budidaya udang modern.
Baca juga : Ramadhan Sananta Resmi Berseragam Persebaya
Meski tidak mengikuti pelatihan formal, ia mengaku banyak memperoleh pengetahuan melalui praktik langsung di lapangan.
"Dari vendor biasanya memberi arahan, lalu kami yang langsung mengerjakan. Jadi banyak belajar sambil praktik," katanya.
Pengalaman itu memberinya pemahaman mengenai siklus budidaya udang vaname. Salah satunya adalah proses panen parsial yang dilakukan sekitar 70 hari setelah benur ditebar.
"Kalau umur udang sudah sekitar 70 hari biasanya dilakukan parsial. Tidak semuanya dipanen, karena kapasitas kolam sudah mulai padat. Kalau dipaksa terus, kolam bisa over kapasitas," jelasnya.
Kemampuan-kemampuan teknis seperti inilah yang menjadi salah satu tujuan pembinaan berbasis keterampilan yang saat ini diperkuat Kemenimipas.
Kisah Aldi menjadi gambaran kecil dari transformasi besar yang sedang berlangsung di Nusakambangan.
Pulau yang selama puluhan tahun dikenal sebagai kawasan lembaga pemasyarakatan kini mulai berkembang menjadi sentra ketahanan pangan. Salah satu proyek unggulannya adalah pembangunan tambak udang vaname seluas 32 hektare di kawasan Pantai Pasir Putih.
Baca juga : Denny JA Ungkap Teori Baru Di Balik Kerusuhan Agustus 2025
Program ini menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus implementasi dari 15 Program Aksi Menteri Imipas Agus Andrianto.
Di kawasan tambak tersebut, warga binaan tidak hanya bekerja. Mereka memperoleh keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup setelah kembali ke masyarakat.
Bagi Aldi, manfaat terbesar bukan sekadar pengalaman bekerja selama menjalani masa pidana, melainkan peluang untuk memulai kehidupan baru.
Ia bahkan mengaku telah mendapat tawaran bekerja dari pihak vendor yang mengelola tambak.
"Saya sudah ditawari. Tapi saya ingin pulang dulu, ketemu keluarga," katanya sambil tersenyum.
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan kembali bekerja di sektor budidaya udang.
"Harapannya setelah keluar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Misalnya bekerja di perusahaan atau vendor udang. Biar tidak mengulangi hal-hal yang dulu," tuntasnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.