BREAKING NEWS
 

MUI Gandeng AMREI Gelar Pelatihan Manajemen Kinerja Berbasis Risiko

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Jumat, 7 Agustus 2026 17:47 WIB
Sekretaris Jenderal AMREI Mohamad Soleh memberikan pelatihan manajemen kinerja berbasis risiko kepada jajaran Pengurus Pusat MUI di Jakarta, Jumat (7/8/2026). Dok. AMREI

RM.id  Rakyat Merdeka - Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Lembaga Penggerak Ekonomi Umat (LPEU) bekerja sama dengan Manajemen Risiko Asosiasi Energi Indonesia (AMREI) menggelar pelatihan Risk-Based Performance Management atau manajemen kinerja berbasis risiko bagi jajaran Pengurus Pusat MUI. Pelatihan yang berlangsung pada 7-8 Agustus 2026 itu bertujuan memperkuat tata kelola organisasi melalui pendekatan manajemen risiko.

Pelatihan yang diikuti sekitar 50 peserta tersebut dibuka Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Ekonomi Hazuarli Halim di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).

Dalam sambutannya, Hazuarli menilai pelatihan tersebut penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia MUI dalam mengambil keputusan yang tepat dan efektif bagi kepentingan umat.

"Apa yang diperoleh dalam pelatihan dua hari ini pasti sangat bermanfaat, bukan saja bagi manajemen dan roda organisasi yang makin melihat aspek risiko sebagai dasar berpijak, tetapi juga dapat ditransfer dalam berbagai kepentingan di luar MUI. Jadi harus diikuti dengan baik," ujarnya.

Turut hadir dalam pembukaan pelatihan tersebut Ketua LPEU MUI Mukhaer Pakkanna, pengacara Ihsan Tandjung, serta sejumlah mitra pendukung, di antaranya Jasindo, ACA Asuransi, ISDF MUI, dan LPPOM MUI.

Baca juga : Kemenag-Bappenas Luncurkan Satu Data ZIS-DSKL, Penyaluran Zakat Lebih Tepat Sasaran

Ketua LPEU MUI Mukhaer Pakkanna mengatakan manajemen risiko tidak dapat dipisahkan dari manajemen strategi organisasi. Menurutnya, organisasi perlu memiliki kemampuan mengukur kinerja sekaligus memitigasi risiko yang berpotensi menghambat pencapaian target.

"Pelatihan ini sangat penting karena berkaitan dengan manajemen strategi, pengukuran kinerja, pencapaian target, dan mitigasi risiko," katanya.

Mukhaer menilai salah satu tantangan utama yang dihadapi umat adalah kemampuan mengorganisasi program secara efektif. Karena itu, kesadaran terhadap mitigasi risiko dinilai menjadi bekal penting dalam menjalankan amanah organisasi.

"Melalui pelatihan ini kami berharap mampu mengorganisasi amanah yang dipercayakan kepada MUI dengan lebih baik," ujarnya.

Adsense

Sementara itu, Ketua Umum AMREI Rifky Assamady mengatakan organisasi saat ini menghadapi perubahan yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), ancaman siber, hingga dinamika geopolitik.

Baca juga : Bengkel Z-Auto Binaan BAZNAS Di Bogor Raup Omzet Hingga 10 Juta per Bulan

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut organisasi tidak hanya berorientasi pada pencapaian target, tetapi juga mampu mengidentifikasi risiko yang dapat menghambat pencapaiannya.

"Kita hidup pada masa yang ditandai perubahan yang sangat cepat. Keberhasilan organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menyusun program, tetapi juga kemampuan membaca perubahan, mengantisipasi risiko, dan mengambil keputusan yang tepat," katanya.

Rifky menjelaskan pendekatan Risk-Based Performance Management mengharuskan setiap indikator kinerja utama atau Key Performance Indicator (KPI) disandingkan dengan Key Risk Indicator (KRI).

"Setiap target kinerja harus dilihat dari dua sisi, yaitu apa target yang ingin dicapai dan apa risiko yang dapat menghalangi pencapaiannya," jelasnya.

Ia menambahkan, dalam perspektif Islam, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan secara bertanggung jawab, transparan, dan akuntabel. Karena itu, pendekatan manajemen berbasis risiko dinilai semakin relevan diterapkan dalam tata kelola organisasi.

Baca juga : BAZNAS Ajak Umat Pererat Persatuan Melalui Gerakan Zakat

Usai pembukaan, pelatihan dilanjutkan dengan sesi interaktif yang dipandu Sekretaris AMREI Mohamad Soleh. Berbeda dari pelatihan pada umumnya, peserta terlebih dahulu diajak mengikuti simulasi melalui permainan Jenga Block dan board game yang dirancang untuk mengenalkan konsep identifikasi dan mitigasi risiko.

Dalam simulasi tersebut, peserta dibagi menjadi enam kelompok dan diminta mempertimbangkan berbagai risiko sebelum mengambil setiap keputusan.

"Kami sengaja mengawali pelatihan dengan praktik melalui games. Cara ini terbukti membuat peserta lebih antusias dan lebih mudah memahami bagaimana manajemen risiko diterapkan dalam organisasi," kata Soleh.

Melalui pelatihan ini, MUI berharap budaya sadar risiko semakin menguat sehingga tata kelola organisasi menjadi lebih adaptif, akuntabel, dan mampu mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif dalam menjalankan berbagai program bagi kepentingan umat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense