BREAKING NEWS
 

Generasi Literat Luncurkan Antologi Suara Anak Muda Lintas Agama

Reporter & Editor :
RIKY HANDAYANI
Selasa, 20 Oktober 2026 14:38 WIB
Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Yayasan Generasi Literat meluncurkan buku antologi Dengarkan Aku, Sebelum Kamu Menilai yang menghimpun pengalaman dan harapan 25 anak muda lintas agama dan kepercayaan untuk membangun perdamaian dan memperkuat sikap inklusif di Indonesia.

Peluncuran buku tersebut berlangsung dalam acara Pesta Peace Stand Up Nusantara di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Sabtu (17/10/2026), sebagai bagian dari upaya memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyuarakan pengalaman mereka di tengah keberagaman.

Buku tersebut merupakan hasil program Peace Stand Up Nusantara yang diinisiasi Yayasan Generasi Literat bersama Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), dengan dukungan Sejuk, Tifa Foundation, dan Civicus Alliance.

Program yang berlangsung di Bogor pada 15-17 Agustus 2026 itu melibatkan 25 anak muda dari beragam latar belakang agama dan kepercayaan, terutama kelompok yang belum banyak terwakili dalam percakapan publik.

Para peserta mengikuti pelatihan mengolah pengalaman pribadi menjadi materi stand-up, membuat video, serta menulis cerita reflektif mengenai kehidupan mereka sebagai warga negara dalam masyarakat yang beragam.

Program tersebut menghasilkan 25 video Peace Stand Up yang dipublikasikan melalui kanal digital Generasi Literat dan satu buku antologi yang memuat tulisan para peserta.

Baca juga : Tinjau INACRAFT Youthpreneurs, Wapres Dukung Produk Kreatif Anak Muda

Direktur Generasi Literat Mila Muzakkar mengatakan program itu memberikan kesempatan kepada anak muda dari kelompok agama dan kepercayaan yang kurang terwakili untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung.

“Kalau selama ini yang bicara tentang keragaman adalah kelompok mayoritas, sekarang adalah saatnya untuk menyuarakannya sendiri. Buku ini merupakan salah satu wujud dari suara teman-teman komunitas muda penghayat, dan juga dari berbagai agama dan kepercayaan,” ujar Mila.

Ia mengatakan sejumlah video peserta mendapat beragam respons di ruang digital, mulai dari pujian hingga hujatan. Hal itu menunjukkan bahwa menyuarakan identitas dan keberagaman di ruang publik digital masih menghadapi tantangan.

Meski demikian, Mila menilai keberanian untuk berbicara menjadi bagian penting dalam membangun ruang publik yang lebih terbuka dan inklusif.

Ia berharap buku tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi kegiatan, tetapi juga mendorong masyarakat mengevaluasi cara mereka memahami dan memperlakukan orang lain.

Adsense

“Kami ingin teman-teman, bapak ibu kakak di sini pulang bukan hanya bawa buku, bukan hanya bawa foto, tapi pulang dengan bertanya pada diri kita: apakah selama ini kita sudah betul-betul mendengarkan orang lain atau kita hanya mendengarkan apa yang ingin kita dengarkan?” katanya.

Baca juga : Melek Finansial Sejak Dini, BRI Bekali Anak Muda 3 Mindset Penting!

Ruang Digital Inklusif

Pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia Lutfi mengapresiasi kolaborasi lintas organisasi dan agama dalam penyelenggaraan Peace Stand Up Nusantara. Ia menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam membangun masa depan Indonesia yang damai dan inklusif, terutama di era digital.

Menurut dia, anak muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dapat menciptakan gagasan, menyebarkan pesan perdamaian, dan menggerakkan perubahan melalui berbagai platform digital.

Ia menambahkan, pertemuan anak muda dari berbagai agama dan kepercayaan menjadi langkah penting untuk membangun pemahaman bersama. Keberagaman, kata dia, perlu diwujudkan melalui perjumpaan, dialog, dan karya bersama, bukan sebatas menjadi gagasan.

Perwakilan Tifa Foundation Alfiana mengatakan program tersebut sejalan dengan upaya mempromosikan demokrasi digital, kebebasan berekspresi, dan inklusivitas di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.

Ia mengingatkan bahwa menghargai keberagaman juga berarti memastikan setiap orang memiliki hak untuk hidup, menyampaikan pendapat, berekspresi, dan menjalankan keyakinannya.

Baca juga : Jaga Demokrasi, Kemendagri Dorong Sistem Politik Inklusif Untuk Anak Muda

“Jangan takut untuk berekspresi, jangan takut untuk mengeluarkan pendapat dan jangan takut untuk mengungkapkan ide kita,” katanya.

Sementara itu, pimpinan MLKI Retno menyambut baik kolaborasi lintas agama dan kepercayaan yang mempertemukan generasi muda untuk saling mengenal dan memahami pengalaman masing-masing.

Ia berharap generasi muda terus menyuarakan keberagaman sebagai bagian dari identitas Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Melalui peluncuran buku Dengarkan Aku, Sebelum Kamu Menilai, Generasi Literat berharap cerita dan karya peserta dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, memantik percakapan mengenai keberagaman, serta mendorong terciptanya ruang perjumpaan yang aman bagi semua.

Program tersebut juga mengajak masyarakat menjadikan kesediaan mendengarkan pengalaman orang lain sebagai langkah awal membangun perdamaian, menghormati perbedaan, dan mencegah diskriminasi terhadap kelompok agama dan kepercayaan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense