Dark/Light Mode

Jumhur Kolaborasi dengan Aliansi Lintas Agama, Dorong Tobat Ekologis Nasional

Sabtu, 13 Juni 2026 22:37 WIB
Foto: Kementerian Lingkungan Hidup.
Foto: Kementerian Lingkungan Hidup.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Lingkungan Hidup (LH) memperkuat upaya membangun Gerakan Tobat Ekologi Nasional melalui kolaborasi dengan tokoh dan organisasi lintas agama yang tergabung dalam Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi).

Langkah ini dinilai penting untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menghadapi ancaman krisis lingkungan yang kian kompleks.

Komitmen tersebut mengemuka dalam dialog antara Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat dan jajaran Siaga Bumi di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup, Kuningan, Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Pertemuan yang dihadiri Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup, staf khusus, deputi, serta rombongan Siaga Bumi yang dipimpin Ketua Dewan Pengarah Siaga Bumi, Din Syamsuddin, menghasilkan kesepahaman mengenai pentingnya pendekatan budaya dan persuasi religius dalam mendorong kesadaran kolektif menjaga lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Din Syamsuddin memaparkan perjalanan Siaga Bumi yang berdiri sejak 2015 sebagai gerakan moral lintas agama untuk mendorong kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Baca juga : Sambut Liburan Sekolah, Askrindo Hadirkan Perlindungan Asuransi di Tempat Wisata

Gerakan tersebut melibatkan berbagai unsur Inter-Religious Council (IRC) Indonesia, antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Kemudian, Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), serta kalangan akademisi dan perguruan tinggi yang memiliki fokus pada isu lingkungan.

“Siaga Bumi telah bergerak melalui berbagai program konkret, salah satunya gerakan Eco Rumah Ibadah. Program ini berfokus pada pengasrian lingkungan rumah ibadah, pengelolaan air yang berkelanjutan, serta manajemen sampah,” ujar Din Syamsuddin.

Din juga menyinggung dukungan global terhadap gerakan lingkungan berbasis moral dan keagamaan, termasuk pesan Paus Leo XIV yang menegaskan bahwa keadilan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial, ekonomi, kemanusiaan, dan keimanan.

Menanggapi hal tersebut, Menteri LH Jumhur Hidayat menyampaikan apresiasi atas konsistensi Siaga Bumi dalam membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.

Baca juga : Jepang-WHO Bergandengan Atasi Kesenjangan Imunisasi Indonesia

Menurut Jumhur, Kementerian Lingkungan Hidup saat ini tengah menyiapkan agenda besar bertajuk "Tobat Ekologi Nasional" sebagai bagian dari strategi menghadapi ancaman kerusakan lingkungan secara sistematis.

“Program strategis ini mencakup berbagai aksi nyata berskala besar, mulai dari reforestasi melalui penanaman dua miliar pohon hingga pendataan ketat terhadap industri-industri yang berpotensi merusak lingkungan,” ujar Jumhur.

Ia menegaskan, tantangan lingkungan saat ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan regulasi dan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan perubahan budaya dan perilaku masyarakat secara luas.

Menurutnya, isu lingkungan menjadi ruang bersama yang mampu menyatukan berbagai elemen bangsa lintas agama, profesi, dan latar belakang.

“Semua pihak yang beragam—lintas agama, lintas negara, lintas profesi, dan lintas keahlian—kini dapat bersatu karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungan hidup,” tuturnya.

Baca juga : Prabowo dan Macron Sepakat Dorong Solusi 2 Negara untuk Palestina

Jumhur menambahkan, pendekatan rekayasa sosial dan persuasi religius menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Kami di Kementerian Lingkungan Hidup sangat memerlukan rekayasa sosial dan persuasi religius untuk memengaruhi sekaligus mengubah perilaku masyarakat terhadap lingkungan,” ungkapnya.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Siaga Bumi juga sepakat bahwa akar persoalan krisis ekologis saat ini tidak hanya bersumber dari aspek teknis, tetapi juga berkaitan dengan budaya dan gaya hidup masyarakat.

Karena itu, diperlukan proses pembudayaan baru yang dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi, keteladanan, dan gerakan kolektif.

Melalui kolaborasi tersebut, Gerakan Tobat Ekologi Nasional diharapkan mampu memperkuat kesadaran publik sekaligus mendorong perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan demi menjaga keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.