RM.id Rakyat Merdeka - Ampas kopi yang biasanya berakhir menjadi sampah kini memiliki nilai ekonomi di tangan para penyintas skizofrenia di Rumah Berdaya, Denpasar, Bali.
Melalui kreativitas dan kerja bersama, limbah kopi diolah menjadi dupa yang dipasarkan seharga Rp 15 ribu per bungkus.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk, kegiatan ini menjadi ruang bagi para penyintas untuk membangun kepercayaan diri, mengasah keterampilan, dan menunjukkan bahwa mereka tetap mampu berkarya.
Kisah pemberdayaan tersebut menjadi salah satu gambaran praktik ekonomi kreatif berbasis masyarakat di tengah penyelenggaraan The 9th ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) Conference and Exhibition 2026 di Bali.
Dupa berbahan ampas kopi produksi Rumah Berdaya memperlihatkan bahwa potensi ekonomi dapat ditemukan dari bahan sederhana.
Inisiatif ini sekaligus membuka ruang partisipasi bagi kelompok masyarakat yang selama ini kerap menghadapi stigma sosial.
Proses pembuatan dupa dimulai dengan mengumpulkan ampas kopi dari sejumlah mitra. Ampas tersebut kemudian dijemur hingga kering selama kurang lebih satu hari
dan diayak agar teksturnya lebih halus. Selanjutnya, ampas kopi dicampur dengan serbuk kayu sebagai bahan perekat, kemudian ditambahkan air dan aroma kopi.
Adonan yang telah tercampur dicetak menjadi dupa, lalu dikeringkan kembali di bawah sinar matahari.
Bahan yang semula dianggap tidak bernilai itu kini menjadi produk yang dipasarkan seharga Rp15 ribu per bungkus, dengan isi sekitar 60 batang dupa.
Baca juga : Energi Bersih, Ekonomi Tumbuh: Cerita Perubahan dari Desa Binaan Pertamina
Pemanfaatan ampas kopi juga menjadi upaya mengolah kembali sisa konsumsi agar memiliki nilai guna baru.
I Nyoman Sudiasa menjelaskan, pemanfaatan ampas kopi untuk bahan pembuatan dupa mulai dicoba pada 2023.
Sebelumnya, Rumah Berdaya menggunakan serbuk yang tersedia di pasaran. Inovasi tersebut berkembang setelah kelompok itu mendapatkan dukungan peralatan dan pelatihan dari Pertamina sejak 2022.
“Awalnya kami menggunakan serbuk yang ada di pasaran. Kemudian, kami mencoba memanfaatkan ampas kopi untuk bahan dupa dan ternyata berhasil,” ujar Sudiasa.
Saat ini, Rumah Berdaya memiliki 27 anggota. Namun, sekitar 10-12 orang terlibat langsung dalam kegiatan produksi.
Tidak semua anggota dapat mengikuti setiap tahapan pekerjaan karena kemampuan konsentrasi dan kondisi masing-masing berbeda.
Karena itu, proses produksi disesuaikan dengan kemampuan setiap anggota. Ada yang bertugas mencetak dupa, menjemur, membuat kemasan, hingga memasukkan produk ke dalam bungkus.
Pola kerja kolektif tersebut diterapkan agar semakin banyak anggota mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi.
Pembagian tugas juga mempertimbangkan keterampilan masing-masing sehingga setiap orang dapat berkontribusi sesuai kemampuannya.
Dalam kondisi produksi optimal, kelompok ini mampu mengolah sekitar delapan kilogram bahan dalam sehari.
Baca juga : Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina-Toyota Perpanjang Kerja Sama hingga 2030
Dari setiap kilogram bahan, diperkirakan dapat dihasilkan sekitar 12 bungkus dupa. Meski demikian, jumlah produksi bergantung pada kondisi cuaca.
Saat musim hujan, proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama sehingga dapat memengaruhi kapasitas produksi.
Bagi Rumah Berdaya, kegiatan ini tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan usaha.
Hasil penjualan digunakan untuk menutup kebutuhan produksi, sedangkan kelebihan hasilnya dibagikan kepada anggota yang terlibat.
Anggota yang membantu membuat kemasan, misalnya, mendapatkan upah Rp 500 per lembar.
Sementara itu, anggota yang mengerjakan pencetakan dupa memperoleh bayaran berdasarkan jumlah bahan yang berhasil dicetak.
“Konsep kami bukan berorientasi pada keuntungan. Biaya produksi tetap harus tertutup, tetapi kelebihan hasilnya kami kembalikan kepada teman-teman,” jelas Sudiasa.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk bernilai ekonomi, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anggota untuk melatih konsentrasi, membangun rutinitas, dan berinteraksi dengan orang lain.
Sudiasa menilai, aktivitas produktif dapat membantu anggota tetap fokus pada pekerjaan.
Meski manfaat terapeutiknya belum pernah diteliti secara khusus oleh kelompok tersebut, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi para anggota untuk beraktivitas bersama sekaligus mengembangkan keterampilan.
Baca juga : Pertamina Group dan doctorSHARE Hadirkan Rumah Sakit Kapal di Maluku
Sudiasa sendiri merupakan penyintas skizofrenia yang telah menjalani pengobatan selama bertahun-tahun.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa proses pemulihan membutuhkan pendampingan, kepatuhan menjalani pengobatan, serta lingkungan yang mendukung.
Menurutnya, kondisi penyintas dapat menjadi lebih stabil ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk beraktivitas dan menjadi bagian dari komunitas.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas mental.
Kesempatan bekerja, menurut Sudiasa, bukan sekadar persoalan mendapatkan penghasilan, tetapi juga bentuk pengakuan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berkarya dan berkontribusi.
“Yang terutama adalah mengurangi stigma negatif. Kami juga ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mental tetap punya harga diri dan masih bisa berkarya,” ujarnya.
Dukungan terhadap kegiatan Rumah Berdaya, termasuk bantuan peralatan dan pelatihan dari Pertamina, menjadi bagian dari upaya membuka kesempatan bagi kelompok rentan untuk lebih mandiri.
Melalui produk sederhana seperti dupa berbahan ampas kopi, Rumah Berdaya menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan tentang menuntut semua orang memiliki kemampuan yang sama.
Lebih dari itu, pemberdayaan berarti menghadirkan ruang dan kesempatan agar setiap orang dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.