RM.id Rakyat Merdeka - Israel mendapat kritikan tajam setelah memutuskan menutup jalur masuknya bantuan pangan dan kemanusiaan untuk Jalur Gaza dan sekitarnya, Minggu (2/3/2025).
Kantor berita Anadolu, Senin (3/3/2025), melaporkan, Israel sengaja menggunakan kelaparan sebagai senjata untuk menekan Hamas agar menerima proposal gencatan senjata sepihak yang diajukan Amerika Serikat (AS).
Baca juga : China Ingin Genjot Hubungan Dengan Israel Di Tengah Ketegangan Gaza
Arab Saudi mengutuk keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai alat pemerasan serta pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.
“Keputusan Pemerintah Israel menghentikan bantuan kemanusiaan ke Gaza, menggunakannya sebagai alat pemerasan dan hukuman kolektif,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, Minggu (2/3/2025).
Baca juga : Bertemu Kepala Barantin, Menhan Sjafrie Bahas Kedaulatan Pangan
Dua negara mediator, Mesir dan Qatar, menuduh Israel melanggar hukum kemanusiaan dengan menggunakan kelaparan sebagai senjata.
Badan amal medis Dokter Lintas Batas (MSF) menuduh Israel menggunakan bantuan sebagai alat tawar-menawar. Tindakan ini keterlaluan.
Baca juga : Lewat Lippo untuk Indonesia Pasti, LPKR Gelar Ribuan Program dan Kegiatan
Mantan kepala Human Rights Watch Kenneth Roth mengatakan, Israel yang menduduki Palestina mempunyai kewajiban mutlak memfasilitasi bantuan kemanusiaan berdasarkan Konvensi Jenewa.
Gencatan senjata Gaza tahap pertama telah berakhir, Sabtu (1/3/2025). Israel kemudian mengajukan perpanjangan sementara. Diketahui, fase pertama kesepakatan gencatan senjata dimediasi oleh Mesir, Qatar dan Amerika Serikat (AS).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.