BREAKING NEWS
 

Afrika Selatan Dituding Memanfaatkan Posisi, Deklarasi KTT G20 Disahkan Tanpa AS

Reporter : MELLANI EKA MAHAYANA
Editor : WAHYU SURYANI
Senin, 24 November 2025 05:41 WIB
Dari kiri, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Komisi Eropa Ursula Von der Leyen, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menghadiri pertemuan G7++ di KTT Pemimpin G20 di Nasrec Expo Centre, Johannesburg, Afrika Selatan, pada 22 November 2025. (Foto Henry Nicholls/Pool via Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Para pemimpin dunia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 (Group of 20/G20) ke-20 mengambil langkah tidak biasa dengan menyetujui deklarasi pada awal pertemuan, Sabtu (22/11/2025). Keputusan cepat ini diambil meski ada tekanan dari Pemerintah Amerika Serikat (AS).

KTT G20 untuk pertama kalinya diselenggarakan di Afrika Selatan (Afsel). Pertemuan pada 22-23 November ini diselenggarakan di Johannesburg dengan mengusung tema Solidaritas, Kesetaraan dan Keberlanjutan (Solidarity, Equality and Sustainability).

Dalam deklarasi, para pemimpin memperingatkan meningkatnya intensitas bencana global yang melemahkan pembangunan dan membebani kemampuan respons negara maupun sistem internasional. Mereka menyerukan penguatan ketahanan berbasis masyarakat, khususnya bagi negara kepulauan kecil dan negara-negara kurang berkembang.

Isu energi menjadi sorotan besar, termasuk fakta bahwa lebih dari 600 juta warga Afrika belum mendapatkan listrik. Para pemimpin mendukung peningkatan tiga kali lipat kapasitas energi terbarukan dan mendorong efisiensi energi yang dua kali lebih baik pada 2030, serta membuka akses pendanaan murah bagi negara berkembang.

Pada sektor mineral penting, G20 menyepakati Kerangka Kerja Mineral Penting sebagai panduan sukarela untuk menciptakan rantai nilai mineral yang berkelanjutan, transparan, dan tangguh—serta memastikan mineral menjadi katalis nilai tambah. Bukan hanya diekspor sebagai bahan mentah.

Namun, keberhasilan deklarasi itu diwarnai drama geopolitik yang panas antara Afrika Selatan dan AS. Gedung Putih langsung menuding Afsel menyalahgunakan perannya sebagai tuan rumah. AS meminta agar tidak ada deklarasi pemimpin, mengingat Gedung Putih tidak mengirimkan delegasi ke forum tersebut.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan, Afsel telah “memperalat presidensi G20 untuk merusak prinsip dasar G20.”

Baca juga : Para Sultan dan Tokoh Bangsa Deklarasikan Forum Keberagaman Nusantara

Pemerintahan Donald Trump juga menuduh Presiden Afsel Cyril Ramaphosa menghambat transisi kepemimpinan G20. Ramaphosa bahkan disebut sempat menyatakan akan menyerahkan palu presidensi kepada “kursi kosong.”

Isi deklarasi mencakup urgensi krisis iklim, transisi energi, penurunan biaya utang negara berkembang, dan dukungan untuk energi terbarukan. Formulasi ini terus ditolak Washington.

Dari Johannesburg, Juru bicara Ramaphosa, Vincent Magwenya, membalas keras. Dia menegaskan, deklarasi tidak bisa dinegosiasikan ulang karena setahun penuh telah digunakan untuk menyusun teks final.

“Seluruh tahun sudah kita gunakan untuk menuju pengesahan ini dan pekan terakhir benar-benar sangat intens,” tegas Magwenya, dalam keterangan Reuters.

Konflik tak berhenti di AS. Argentina mendadak menarik diri dari persetujuan final. “Argentina tidak bisa mendukung deklarasi ini, namun kami tetap berkomitmen pada semangat kerja sama yang selama ini menjadi ciri G20,” ujar Menteri Luar Negeri Argentina Pablo Quirno.

Dia menjelaskan, keberatan muncul karena cara dokumen itu membahas isu geopolitik, khususnya konflik Timur Tengah yang terkesan disederhanakan.

Adsense

Meski demikian, Ramaphosa tetap mengetuk palu. Dia menyebut telah ada konsensus yang sangat kuat.

Baca juga : Gol Telat Athekame Selamatkan Milan Dari Kekalahan Di San Siro

“Kita tidak boleh membiarkan apa pun yang merendahkan nilai, status dan dampak dari presidensi G20 pertama di Afrika,” ucapnya.

Menteri Luar Negeri Afsel Ronald Lamola lebih tegas lagi. “G20 ini bukan milik Amerika Serikat. Kita semua anggota yang setara,” tegasnya.

Afsel juga menolak serah terima kepemimpinan kepada pejabat tingkat rendah dari Kedutaan AS, dan menilai hal itu sebagai pelanggaran protokol.

“Presiden tidak akan menyerahkan presidensi G20 kepada pejabat kedutaan yang junior. Itu melanggar protokol dan tidak akan kami terima,” ketus Magwenya.

Selain itu, selama berbulan-bulan, Washington menekan Pretoria agar tidak mengadopsi deklarasi tanpa delegasi AS.

Sumber diplomatik menyebut, absensi AS sebagai penolakan politik, bukan teknis.

Beberapa pemimpin lain juga tidak hadir. Presiden China Xi Jinping mengutus Perdana Menteri China Li Qiang. Presiden Rusia Vladimir Putin serta sejumlah pemimpin Amerika Latin tidak hadir, termasuk Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum. Berbeda dengan AS, negara-negara itu tetap mengirim delegasi tingkat tinggi.

Baca juga : Madura United Manfaatkan Jeda Kompetisi Perbaiki Tim

 

Artikel ini telah dimuat di Harian Rakyat Merdeka edisi 24 November 2025.

 

 

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense