RM.id Rakyat Merdeka - Susu full cream atau susu murni akan kembali disajikan di kantin sekolah-sekolah Amerika Serikat (AS) mulai musim gugur tahun ini, awal ajaran baru sekitar Agustus-September. Kebijakan tersebut berlaku setelah Presiden Donald Trump menandatangani undang-undang yang membatalkan pembatasan produk susu berlemak tinggi yang diberlakukan pada era Presiden Barack Obama.
Undang-Undang, Whole Milk for Healthy Kids Act (Undang-Undang Susu Murni) untuk Anak-Anak Sehat, resmi berlaku pada Rabu, 14 Januari 2026. Undang-undang ini menandai perubahan besar pertama terhadap aturan penyediaan susu di sekolah dalam lebih dari satu dekade.
Aturan baru ini mengizinkan sekolah yang tergabung dalam National School Lunch Program untuk menyajikan susu full cream dan susu kadar lemak 2 persen, berdampingan dengan susu skim dan rendah lemak yang diwajibkan sejak 2012.
“Baik Anda Demokrat maupun Republik, susu full cream adalah hal yang baik,” ujar Trump saat penandatanganan UU tersebut di Gedung Putih, Washington DC, Rabu (14/1/2026) yang dihadiri para anggota parlemen, peternak sapi perah, serta anak-anak mereka.
Undang-undang tersebut juga memperbolehkan sekolah menyediakan susu non-dairy yang memenuhi standar gizi. Sekolah diwajibkan memberi alternatif non-dairy jika siswa membawa surat keterangan dari orang tua, tidak lagi harus dari dokter.
Baca juga : Sekolah Masih Berlumpur, Baju Seragam Belum Punya
Penandatanganan ini dilakukan beberapa hari setelah dirilisnya Dietary Guidelines for Americans 2025–2030, panduan diet bagi warga Negeri Paman Sam itu, yang kini merekomendasikan konsumsi produk susu full cream sebagai bagian dari pola makan sehat.
Rekomendasi ini menandai perubahan signifikan dari pedoman sebelumnya yang menganjurkan susu rendah lemak atau bebas lemak bagi anak di atas dua tahun.
Awal pekan ini, Departemen Pertanian AS juga mengunggah foto Trump dengan segelas susu dan “kumis susu” di media sosial, disertai slogan, “Drink Whole Milk.”
Kebijakan ini diperkirakan mulai berlaku paling cepat pada musim gugur. Namun, sejumlah pejabat bidang gizi sekolah dan industri susu menyebutkan, sebagian sekolah memerlukan waktu lebih lama untuk menyesuaikan rantai pasok dan permintaan.
Kembalinya susu full cream dan 2 persen rendah lemak itu membalikkan kebijakan Healthy Hunger-Free Kids Act yang didukung Michelle Obama lebih dari satu dekade lalu. Undang-undang tersebut bertujuan menekan obesitas anak dengan mengurangi asupan lemak jenuh dan kalori dari susu berlemak tinggi.
Baca juga : Disambangi Dubes RI Untuk AS, Trump: Saya Sahabat Dekat Prabowo
Meski demikian, sejumlah pakar gizi dan pelaku industri menilai susu full cream selama ini disalahkan secara tidak adil. Beberapa studi bahkan menunjukkan, anak-anak yang mengonsumsi susu full cream berisiko lebih rendah mengalami obesitas dibanding mereka yang minum susu rendah lemak.
Kritik juga muncul karena banyak anak tidak menyukai rasa susu rendah lemak, yang berbuntut pada pemborosan makanan dan berkurangnya asupan nutrisi.
Aturan baru ini akan berdampak pada sekitar 30 juta siswa penerima makan siang sekolah nasional. Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. menyebut kebijakan tersebut sebagai “koreksi yang sudah lama tertunda,” sementara Menteri Pertanian Brooke Rollins mengatakan aturan ini memperbaiki “kampanye keliru Michelle Obama yang menyingkirkan susu full cream.”
Sekolah kini diwajibkan menyediakan beragam pilihan susu cair, termasuk susu full cream organik maupun konvensional, susu kadar lemak 2 persen, 1 persen, bebas laktosa, serta alternatif non-dairy sesuai standar gizi.
Pedoman gizi terbaru juga menekankan konsumsi produk susu full cream tanpa gula tambahan yang berpotensi menghapus susu rasa cokelat dan stroberi dari menu sekolah. Pemerintah akan menyusun aturan teknis untuk menindaklanjuti rekomendasi tersebut.
Baca juga : iForte Kembali Gelar Kompetisi Tari Nasional Untuk Generasi Muda
Undang-undang ini mengecualikan lemak susu dari batas federal lemak jenuh maksimal 10 persen dalam menu sekolah.
Manfaat Susu Full Cream Bagi Anak
Pakar gizi Universitas Tufts, Dr. Dariush Mozaffarian, menegaskan tidak ada manfaat signifikan memilih susu rendah lemak dibandingkan susu full cream.
“Lemak jenuh dalam produk susu berbeda dengan lemak dari daging sapi, dan mengandung senyawa bermanfaat. Tidak ada bukti kuat bahwa lemak jenuh dari susu berdampak buruk bagi kesehatan,” ujarnya.
Meski riset sebelumnya menunjukkan kebijakan era Obama memperlambat laju obesitas anak, studi terbaru mengindikasikan konsumsi susu full cream justru dapat menurunkan risiko kelebihan berat badan.
Sebuah tinjauan (review) tahun 2020 terhadap 28 studi menunjukkan, risiko obesitas 40 persen lebih rendah pada anak yang minum susu full cream. Meski demikian, peneliti mencatat bahwa penurunan risiko tersebut tidak dapat dipastikan sepenuhnya hanya disebabkan konsumsi susu full cream.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.