RM.id Rakyat Merdeka - Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tak hanya membahas urusan dagang. Isu Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz ikut dibahas kedua pemimpin adikuasa itu. Trump minta bantuan Jinping buka Selat Hormuz.
Dalam kunjungan 3 harinya ke Beijing, China, Trump mengaku mencapai sejumlah kesepakatan penting dengan Jinping. Dari mulai kerjasama di sektor ekonomi, hingga urusan militer.
"Kami telah membuat beberapa kesepakatan fantastis yang bagus untuk kedua negara," kata Trump saat berjalan santai bersama Jinping di kompleks Zhongnanhai, Beijing, Kamis (14/5/2026).
"Kami telah menyelesaikan banyak masalah perbedaan yang tak akan bisa diselesaikan oleh orang lain," lanjut Trump.
Sementara Jinping menyebut, lawatan Trump ke China sebagai kunjungan penting yang menandai hubungan bilateral semakin membaik. "Hubungan bilateral baru, hubungan stabilitas strategis yang sifatnya saling memperbaiki," kata Jinping sembari berjanji akan mengirim benih tanaman untuk ditanam di White House Rose Garden, Washington.
Dalam wawancara usai pertemuan, Trump juga mengklaim Jinping menawarkan bantuan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Tak hanya itu, Jinping berjanji ke Trump, China tidak akan mengirim lagi peralatan militer kepada Iran.
"Dia mengatakan tidak akan memberikan peralatan militer, dengan sangat tegas," kata Trump merujuk Jinping dalam acara Hannity di Fox News usai pertemuan mereka di Beijing.
Baca juga : Kelimpungan Lawan Iran, Trump Minta Bantuan Jinping
Trump menyebut, Jinping berharap jalur pelayaran Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan dan distribusi energi global.
"Dia mengatakan, 'jika saya bisa membantu dengan cara apa pun, saya ingin membantu'," ujar Trump menirukan Jinping.
Menurut laporan NBC News dan AFP yang mengutip pernyataan Gedung Putih, Jinping dan Trump sepakat Selat Hormuz harus tetap terbuka agar arus energi global tidak terganggu. Gedung Putih menyebut Jinping dengan tegas menolak adanya militerisasi Selat Hormuz maupun upaya pengenaan biaya bagi kapal yang melintas.
Dalam pernyataan tersebut, China juga disebut berminat membeli lebih banyak minyak AS guna mengurangi ketergantungan terhadap jalur Hormuz.
"Kedua negara sepakat bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata pejabat Gedung Putih.
Sementara itu, dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri China menyerukan deeskalasi konflik di Timur Tengah. "Tak perlu melanjutkan perang yang seharusnya tidak terjadi. Menemukan solusi lebih cepat akan menguntungkan AS, Iran, dan dunia," tulis Kemlu China.
China juga menekankan pentingnya membuka kembali jalur pelayaran sesegera mungkin demi menjaga stabilitas rantai pasok global. Gencatan senjata harus segera dilaksanakan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Baca juga : Trump Klaim Iran Setuju Soal Nuklir, Perang Di Selat Hormuz Mendingin
"Mengembalikan perdamaian dan stabilitas ke Timur Tengah serta kawasan Teluk secepat mungkin, dan meletakkan dasar untuk pembangunan arsitektur keamanan kawasan yang berkelanjutan," tulis Kemlu China.
Namun di sisi lain, Iran justru menunjukkan sinyal memperkuat pengaruhnya di Selat Hormuz dengan memperluas definisi wilayah strategis tersebut. Pejabat angkatan laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammad Akbarzadeh menyebut, Iran kini menganggap Selat Hormuz mencakup wilayah jauh lebih luas dibanding sebelum perang.
"Iran tak akan mengizinkan segala bentuk pelanggaran terhadap perairan dan kepentingannya," kata Akbarzadeh seperti dilansir Wall Street Journal, Selasa (12/5/2026).
Sebelumnya, jalur vital tersebut hanya mencakup wilayah sekitar Pulau Hormuz dan Hengam. Kini Iran menganggap kawasan itu membentang ratusan mil dari pantai Jask hingga Pulau Greater Tunb.
"Selat Hormuz telah meluas dan berubah menjadi area operasional yang luas," ujarnya.
Parlemen Iran bahkan dikabarkan tengah menyusun rancangan undang-undang untuk melegalkan pengelolaan Selat Hormuz oleh Teheran. Salah satu klausulnya mencakup larangan bagi kapal-kapal negara yang dianggap musuh untuk melintas.
Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menegaskan Selat Hormuz merupakan bagian dari kedaulatan Iran dan tidak akan dilepas dalam kondisi apa pun.
Baca juga : Iran Minta Jaminan FIFA Jelang Piala Dunia 2026 di AS
"Kami tidak akan menyerahkan Selat Hormuz dengan harga berapa pun. Selat Hormuz adalah milik kami sejak awal," tegas Aref.
Meski demikian, Iran mulai memberi kelonggaran kepada mitra strategisnya. Salah satunya China. Pemerintah Iran disebut telah mencapai kesepahaman dengan Beijing terkait akses kapal-kapal China di Selat Hormuz.
Terbaru, Garda Revolusi Iran mengizinkan sejumlah kapal China melewati Selat Hormuz sejak Rabu (14/5/2026). Televisi pemerintah Iran menyebut lebih dari 30 kapal telah diizinkan melintas bertepatan dengan kunjungan Trump ke China.
"Pada akhirnya sejumlah kapal Tiongkok yang diminta oleh negara ini akan melewati daerah ini setelah kesepakatan tentang protokol pengelolaan selat Iran," tulis Garda Revolusi dalam pernyataannya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.