Dark/Light Mode

Trump Klaim Iran Setuju Soal Nuklir, Perang Di Selat Hormuz Mendingin

Jumat, 8 Mei 2026 07:30 WIB
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Instagram/whitehouse)
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Instagram/whitehouse)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jalur diplomasi yang ditempuh Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan hasil. Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui poin utama proposal Washington terkait larangan pengembangan senjata nuklir. Untuk sementara, perang di Selat Hormuz mendingin. 

Menurut Trump, telah terjadi pembicaraan antara perwakilan AS dengan pihak Iran dalam 24 jam terakhir. Dari pembicaraan itu, Trump bilang Iran sepakat terhadap proposal AS yakni poin untuk tidak memiliki senjata nuklir. 

"Kami berada dalam posisi yang baik. Kami harus mendapatkan apa yang memang harus kami dapatkan. Mereka ingin membuat kesepakatan. Besar kemungkinan kami akan mencapai kesepakatan itu," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Rabu (6/5/2026).

Ditanya apakah ada tenggat waktu untuk menerima jawaban dari Iran terkait proposal terbaru AS, Trump memberi sinyal, waktunya tak terbatas dan terbuka. "Tidak pernah ada tenggat waktu," cetusnya. 

Baca juga : 10 Titik Layanan Jemaah Siaga 24 Jam Di Masjid Al-Haram

Trump kembali mengklaim, Teheran telah menyetujui tuntutan utama AS, yakni Iran tak boleh memiliki senjata nuklir. "Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan mereka tak akan memilikinya, dan mereka telah menyetujui itu, dan hal-hal lainnya," klaim Trump. 

Meski demikian, dia mengancam akan melanjutkan serangan ke Iran jika negosiasi gagal. "Perang akan berakhir, tetapi jika tidak sepakat, bombardir akan dilanjutkan pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi," ancam Trump. 

Apa tanggapan Iran? Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan, proposal AS tengah ditinjau. Teheran akan menyampaikan posisinya kepada mediator Pakistan usai memfinalisasi pandangannya. 

"Rencana dan proposal AS masih dalam peninjauan," kata Baghaei dilansir media lokal Iran, Kamis (7/5/2026). 

Baca juga : Elly Rosita Silaban: Bukan Tukar Guling, Tetapi Buruh Dipertimbangkan

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, tokoh kunci di putaran awal perundingan damai di Islamabad bulan lalu, optimistis dengan kesepakatan lanjutan. "Kami sangat berharap momentum saat ini akan mengarah pada kesepakatan yang langgeng yang menjamin perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan bagi kawasan dan sekitarnya," tulisnya di media sosial X. 

Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf punya pandangan berbeda. Sebagai pihak yang memimpin negosiasi, kata dia, Washington terus menekan melalui blokade angkatan laut, tekanan ekonomi, dan manipulasi media. 

"Bagian untuk menghancurkan kesatuan negara guna memaksa kita untuk menyerah," katanya. 

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, negaranya menolak tuntutan AS untuk meninggalkan program nuklir. Ini disampaikan Pezeshkian saat berbincang via telepon dengan Perdana Menteri terpilih Irak Ali Faleh Al-Zaidi, Selasa (5/5/2026). 

Baca juga : Mirah Sumirat: Gerakan Buruh Tidak Bergantung Satu Orang

"Republik Islam Iran siap untuk segala bentuk dialog sesuai hukum internasional, tetapi berdasarkan kepercayaan dan keyakinan, kami tak akan pernah menyerah pada pemaksaan," kata Pezeshkian dilansir PressTV
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.