RM.id Rakyat Merdeka - Arab Saudi menutup salah satu pipa minyak pentingnya, setelah pipa tersebut diserang drone atau pesawat tak berawak yang diluncurkan dari Irak.
Irak mengakui serangan tersebut berasal dari salah satu wilayahnya yang berbatasan dengan Iran. Buntut dari kejadian ini, Pemerintah Irak memecat seorang komandan militer di Provinsi Maysan - yang berbatasan dengan Iran - setelah terkonfirmasi serangan pesawat tak berawak diluncurkan dari provinsi tersebut.
Pipa sepanjang 1.200 kilometer itu merupakan jalur penting bagi Arab Saudi, negara pengekspor minyak mentah terbesar di dunia. Pipa tersebut memungkinkan Arab Saudi mengirim minyak, tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Kondisi ini semakin menambah tekanan terhadap jalur pengiriman minyak dunia, sementara perang antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki bulan ketujuh.
Jumat (11/9/2026), pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengatakan telah menyerang kelompok Houthi di kota pesisir strategis Mokha. Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Houthi menguasai seluruh wilayah pesisir Laut Merah.
Baca juga : Barcelona Tutup Pramusim dengan Gelar Joan Gamper Trophy 2026
Arab Saudi menyebut penutupan pipa dilakukan sebagai langkah pencegahan. Citra satelit menunjukkan adanya tanah hangus dan asap di sekitar lokasi serangan.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan, serangan tersebut menyebabkan sejumlah orang terluka dan menimbulkan kerusakan. Tingkat kerusakan saat ini masih dalam proses penilaian.
Menurut laporan Reuters yang mengutip perusahaan pelacak kapal dan sejumlah analis, pipa tersebut menyalurkan sekitar 4 hingga 5 persen pasokan minyak dunia.
Arab Saudi memilih untuk tidak membalas pada tahap ini, kata kementerian luar negerinya, menyusul seruan dari perdana menteri Irak. Dikatakan bahwa kerajaan akan "mendukung upaya pemerintah Irak" untuk "mencegah serangan" yang dilancarkan dari negara itu terhadap negara-negara tetangga.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan, negaranya tidak melakukan serangan balasan, setelah mendapat telepon dari Perdana Menteri Irak. Arab Saudi akan mendukung upaya pemerintah Irak, demi mencegah serangan yang dilancarkan dari wilayah Irak terhadap negara-negara tetangga.
Baca juga : Gabung Klub Arab Saudi, Kakak Pemain Persib Dibanderol Rp1,4 T
"Kerajaan Arab Saudi berhak mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan dan keamanannya, melindungi fasilitasnya, dan memastikan keselamatan warga negara dan penduduknya," tegas pernyataan Kemenlu Arab Saudi, seperti dilansir BBC, Sabtu (12/9/2026).
Dewan Kerja Sama Teluk Mengutuk
Dewan Kerja Sama Teluk – yang terdiri dari perwakilan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait – mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan tersebut.
“Serangan ini merupakan peningkatan konflik yang berbahaya dan ancaman yang tidak dapat diterima terhadap keamanan Arab Saudi, keutuhan wilayahnya, serta fasilitas-fasilitas penting negara. Serangan ini juga merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional,” kata Sekretaris Jenderal Jasem Mohamed Albudaiwi.
Sejumlah sumber menyebut perkembangan cepat di Yaman membuat kelompok Houthi menguasai sebagian besar wilayah pesisir negara itu. Kelompok tersebut mengklaim telah menguasai Selat Bab al-Mandab, jalur masuk menuju Laut Merah dan Terusan Suez.
Namun, Houthi mengatakan pelayaran masih aman bagi semua perusahaan, kecuali kapal-kapal Arab Saudi.
Baca juga : Saudi-Turki-Pakistan Bersatu Bentuk ”NATO”
Pasukan Pemerintah Yaman kemudian melakukan serangan balasan. Jumat (11/9/2026), Juru Bicara Majid al-Nuzaili mengatakan pasukan mereka menyerang posisi Houthi di dalam dan sekitar Kota Mokha. Mereka juga menghancurkan kendaraan dan senjata, serta menewaskan sejumlah anggota Houthi. Kota pesisir strategis di Laut Merah itu berada sekitar 80 kilometer (50 mil) di utara Selat Bab al-Mandab.
Houthi menguasai Mokha pada Kamis (10/9/2026). Serangan tersebut membuat banyak warga mengungsi ke Aden, tempat Dewan Kepemimpinan Presiden dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional berkedudukan.
Sumber-sumber lokal juga melaporkan pasukan pemerintah melakukan serangan udara terhadap pasukan Houthi di Provinsi Taiz, yang berada di sepanjang pesisir Laut Merah, serta Provinsi Ibb, yang berbatasan dengan Taiz.
Perkembangan tersebut semakin menekan kawasan di sekitar Semenanjung Arab, dan mendorong harga minyak mentah menembus 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Juli 2026.
Kekhawatiran terhadap inflasi meningkat seiring melonjaknya harga energi. Kondisi ini juga semakin meningkatkan biaya yang harus ditanggung pemerintah untuk mendapatkan pinjaman.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.