RM.id Rakyat Merdeka - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, Jepang, memperkuat kapasitas Indonesia dalam pemanfaatan energi nuklir yang aman dan bertanggung jawab. Penguatan dilakukan melalui pelatihan Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor modular kecil di Jepang pada 5–9 Oktober 2026.
Program tersebut bernama Japan–US Training Program on Responsible Use of SMR Technology for Indonesia. Kegiatan itu merupakan kerja sama KBRI Tokyo bersama AOTS dan JAIF International Cooperation Center (JICC).
Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Jepang Nurmala Kartini Sjahrir mengatakan, transisi energi perlu memperkuat ketahanan energi Indonesia. Menurutnya, ketersediaan listrik harus tetap andal, terjangkau dan rendah karbon.
Dia mengatakan, masuknya energi nuklir dalam perencanaan ketenagalistrikan harus diikuti penguatan kapasitas nasional. Kapasitas tersebut diperlukan agar pengembangan energi nuklir dapat berlangsung secara aman dan layak secara ekonomi.
Baca juga : Dubes Nurmala Kartini Sambut Kontingen Indonesia Di Asian Games Aichi-Nagoya
“Tugas kita sekarang membangun kapasitas nasional yang diperlukan untuk mewujudkan rencana tersebut menjadi proyek aman. Keputusan yang kita persiapkan hari ini akan membentuk ketahanan energi Indonesia selama beberapa dekade mendatang,” ujar Dubes Kartini saat membuka program di KBRI Tokyo, Senin (5/10/2026).
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 mencakup pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir. Total kapasitas yang direncanakan mencapai 500 megawatt, dengan kapasitas awal 250 megawatt pada 2032.
Dubes Kartini menekankan, kesiapan energi nuklir membutuhkan institusi berkapasitas memadai dan sumber daya manusia kompeten. Kapasitas tersebut diperlukan untuk menilai teknologi, mempersiapkan proyek dan mengelola tanggung jawab jangka panjang.
“Keselamatan, keamanan, kelayakan ekonomi dan kepercayaan publik menjadi pertimbangan utama dalam pemanfaatan energi nuklir. Pemanfaatan tersebut dilakukan untuk tujuan damai,” jelasnya.
Baca juga : Bangga, Tim Bulu Tangkis Muda Indonesia Juara 2 Di TIYSG 2026
Ada 16 peserta Indonesia yang mengikuti program tersebut dan dipimpin Anggota Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha. Delegasi berasal dari sejumlah kementerian, lembaga dan perusahaan di sektor energi nasional.
Program pelatihan tersebut bagian dari kerja sama Jepang–Amerika Serikat melalui program FIRST. FIRST merupakan singkatan dari Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology.
Program FIRST berada dalam kerangka Future-Oriented Co-Creation Program for the Global South. Program tersebut didukung Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI).
Kegiatan tersebut juga sejalan dengan Memorandum Kerja Sama Indonesia–Jepang di sektor energi nuklir. Kerja sama tersebut ditandatangani pada 15 Maret 2026 untuk pengembangan kapasitas Indonesia.
Baca juga : WNI Tewas Kecelakaan Kerja di Jepang, Jenazah Segera Dipulangkan
Pengembangan kapasitas dilakukan berdasarkan pendekatan bertahap IAEA Milestones Approach. Pendekatan tersebut menjadi salah satu acuan dalam persiapan pengembangan energi nuklir secara bertanggung jawab.
Pada 6–9 Oktober 2026, peserta dijadwalkan mengunjungi sejumlah fasilitas energi nuklir di Jepang. Fasilitas tersebut mencakup bidang industri, edukasi dan pelatihan energi nuklir.
Peserta juga mengikuti diskusi mengenai kesiapan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan memberikan pengalaman praktis bagi para peserta.
Pengalaman tersebut menjadi bekal Indonesia dalam menentukan prioritas pengembangan energi nuklir. Selain itu, kegiatan diharapkan membantu menentukan langkah tindak lanjut secara aman dan bertanggung jawab.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.