BREAKING NEWS
 

Partai Golkar Menolak Neokolonialisme Di Forum Internasional

Jumat, 1 Agustus 2025 17:36 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si

RM.id  Rakyat Merdeka - Apakah benar kolonialisme sudah berakhir sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berdiri? Faktanya, bentuk kolonialisme tidak benar-benar hilang. Ia hanya mengalami metamorfosis, berubah menjadi lebih halus dan sulit dikenali.

Neokolonialisme hadir dalam wajah baru di berbagai sektor: dari tekanan ekonomi, sanksi sepihak, hingga monopoli teknologi yang membuat negara berkembang tetap bergantung pada segelintir kekuatan besar. Dampaknya terasa langsung di sekitar kita. Harga pangan melonjak, pasokan energi tidak stabil, dan ruang gerak negara untuk melindungi rakyatnya semakin terbatas.

Data Bank Dunia mencatat utang publik negara-negara Afrika melonjak rata-rata 18% dari PDB dalam delapan tahun terakhir. Ketergantungan permanen pada lembaga donor global ini menjadi bentuk baru penjajahan tanpa senjata, namun efeknya nyata di dapur dan dompet rakyat. Pada 31 Juli 2025, forum internasional bernama“Forum of Supporters of the Struggle against Modern Practices of Neocolonialism For Freedom of Nations”digelar secara daring.

Forum ini mempertemukan partai-partai politik dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk merumuskan langkah bersama menghadapi tantangan tersebut. Sidang dibuka oleh mantan Presiden Federasi Rusia sekaligus Ketua Partai United Russia, Dmitry Medvedev.

Dalam pidato pembukaannya, ia menegaskan perlunya solidaritas nyata negara-negara Global South untuk melawan dominasi baru ini. Indonesia hadir sebagai satu-satunya wakil Asia Tenggara dalam forum ini.

Baca juga : Stabilitas Timur Tengah Menanti Diplomasi Indonesia

Saya menyampaikan pidato setelah Medvedev, menandai pentingnya suara kawasan kita dalam percakapan global. Kehadiran ini bukan sekadar simbol, melainkan kelanjutan diplomasi Indonesia yang bersifat bebas aktif, yang sejak Konferensi Asia-Afrika 1955 konsisten menolak segala bentuk kolonialisme.

Dalam forum ini, draft final kesepakatan telah disetujui oleh DPP Partai Golkar. Kewenangan penuh diberikan kepada saya sebagai Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional untuk menandatangani kesepakatan tersebut sebagai komitmen resmi Partai Golkar dalam Gerakan Internasional untuk Kebebasan Bangsa-Bangsa (International Movement for the Freedom of Nations).

Mandat PBB dan Sorotan Ke Palestina

Adsense

Komite ini memiliki legitimasi internasional yang kuat. Resolusi Majelis Umum PBB 1514 (1960) tentang pemberian kemerdekaan kepada negara kolonial menjadi fondasi awal. Resolusi 75/123 (2020) menetapkan Dekade Internasional Keempat untuk menghapus kolonialisme 2021–2030.

Sementara Resolusi 79/115 (2024) memperluas mandat tersebut untuk memberantas semua bentuk neokolonialisme modern. Palestina menjadi sorotan utama forum. Krisis di Gaza bukan isu jauh. Simpati rakyat Indonesia terus bergema, terlihat dari aksi solidaritas di berbagai kota hingga penyaluran bantuan kemanusiaan.

Baca juga : Pertamina Kenalkan Inovasi Sistem Perizinan Real Time Di Esri User Conference 2025

Laporan OCHA PBB awal 2025 mencatat lebih dari 38.000 korban jiwa sejak eskalasi besar Oktober 2023, mayoritas perempuan dan anak-anak. Dukungan Indonesia terhadap Palestina di forum ini bukan semata sikap politik, melainkan amanat konstitusi: “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.”

Dampak Global Ke Indonesia dan Tantangan Ke Depan

Neokolonialisme modern memengaruhi rakyat Indonesia secara langsung. Ketika sanksi terhadap Rusia mengguncang pasar energi, harga BBM dan pupuk ikut terdampak dalam negeri. Ketika monopoli teknologi menguasai pasar digital, Indonesia juga kesulitan membangun kemandirian industri dalam negeri.

Bahkan praktik debt trap diplomacy di kawasan Indo Pasifik merisikokan stabilitas regional kita. Kehadiran Indonesia, khususnya Partai Golkar, di forum ini bukan hanya diplomasi simbolik. Dengan penunjukan saya sebagai anggota tetap Komite Kerja Internasional, Golkar menegaskan peran aktifnya dalam mengawal agenda global untuk keadilan dan kedaulatan bangsa-bangsa.

Selanjutnya, komite ini akan berkoordinasi untuk melakukan pertemuan tatap muka di Sochi, Rusia pada akhir tahun ini.

Baca juga : Menperin: Batik Itu Cool, Harus Ditampilkan Di Forum Internasional

Agenda berikutnya mencakup realisasi resolusi bersama untuk diangkat ke Sidang Umum PBB, termasuk memperkuat dukungan konkret bagi Palestina. Melawan neokolonialisme bukanlah sekadar wacana global.

Dampaknya terasa ke keseharian masyarakat Indonesia. Dengan terlibat aktif di forum ini, Indonesia melalui Partai Golkar menegaskan diri sebagai suara penting dunia yang memperjuangkan kemerdekaan, kebebasan dan kedaulatan keadilan bagi Palestina, bagi Global South, dan bagi masa depan kita sendiri.

Penulis adalah: Anggota Tetap Komite Internasional Untuk Gerakan Kebebasan Bangsa-Bangsa dan Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense