Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Tanggal 6 Juli 2025, akan tercatat sebagai momen bersejarah dalam diplomasi Indonesia. Di Rio de Janeiro, Brasil, Presiden Prabowo Subianto menghadiri KTT BRICS ke-17, menandai babak baru Indonesia sebagai anggota penuh dalam organisasi yang merepresentasikan kekuatan ekonomi dan politik Global South.
Bagi saya yang telah berkecimpung dalam dunia hubungan internasional selama puluhan tahun, peristiwa ini jauh lebih bermakna dari sekadar seremonial diplomatik biasa.
Keanggotaan Indonesia dalam BRICS menunjukkan adanya pemantapan yang sangat signifikan dari prinsip "bebas dan aktif" yang selama ini menjadi pegangan bangsa kita. Sekali lagi, saya katakan pemantapan, bukan perubahan.
Jika dulu Indonesia lebih memilih posisi netral dan menjadi mediator, kini kita melihat adanya kepastian untuk mengambil posisi strategis yang lebih tegas. Ini bukan perubahan drastis, melainkan pematangan visi diplomatik yang telah diperhitungkan dengan cermat.
Presiden Prabowo Subianto merangkum filosofi ini dalam ungkapan yang sangat bijak: "Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak." Pernyataan ini bukan sekadar retorika, tetapi mencerminkan pemahaman mendalam tentang kompleksitas geopolitik modern.
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, Indonesia memilih jalan diplomasi persahabatan yang memperluas jejaring kerja sama tanpa menciptakan musuh baru.
Collective Power
Ketika kita berbicara tentang BRICS, kita sedang membicarakan kekuatan kolektif yang luar biasa. Organisasi ini mewakili lebih dari setengah populasi dunia dan menguasai sekitar 35 persen dari total Produk Domestik Bruto global.
Angka-angka ini bukan statistik kosong, melainkan representasi kekuatan ekonomi dan politik yang akan membentuk tatanan dunia masa depan.
Kehadiran Presiden Prabowo di forum ini bukanlah sekadar partisipasi seremonial. Beliau berdiri sejajar dengan para pemimpin negara-negara besar seperti Tiongkok, India, Brasil, dan negara-negara kuat lainnya, mewakili aspirasi dan kepentingan 270 juta rakyat Indonesia.
Ini adalah potret seorang negarawan yang tidak hanya mengelola urusan domestik, tetapi juga mampu memproyeksikan kekuatan Indonesia di panggung global yang kompetitif.
Namun, kekuatan diplomasi tidak akan berarti tanpa stabilitas internal yang kokoh. Dalam sistem demokrasi yang dinamis seperti Indonesia, kepemimpinan yang kuat harus didukung oleh harmoni antar-lembaga negara.
Kolaborasi yang solid antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif menjadi kunci untuk memastikan bahwa kepercayaan dunia terhadap Indonesia tidak tergoyahkan oleh dinamika politik domestik.
Dunia internasional membutuhkan sinyal yang jelas dari Jakarta bahwa Indonesia tidak hanya siap memimpin, tetapi juga memiliki kestabilan internal yang menjamin konsistensi kebijakan luar negeri. Hal ini menjadi semakin penting ketika Indonesia mulai memainkan peran yang lebih aktif dalam forum-forum internasional.
Indonesia memiliki modal strategis yang unik dalam dinamika BRICS. Secara ekonomi, kita memiliki pasar yang besar dan ekonomi yang terus tumbuh.
Baca juga : Kolaborasi Jenius Dan Wise Platfotm Mudahkan Transfer Internasional 24/7
Secara sosial-politik, Indonesia memiliki pengalaman mengelola keragaman dalam masyarakat yang plural. Secara diplomatik, kita memiliki rekam jejak panjang sebagai negara yang konsisten memperjuangkan perdamaian dan stabilitas regional maupun global.
Posisi geografis Indonesia yang strategis menjadikan kita jembatan alami antara berbagai kekuatan dunia—antara utara dan selatan, antara kekuatan lama dan poros baru. Keunikan ini memberikan Indonesia leverage yang signifikan dalam negosiasi-negosiasi strategis di forum BRICS.
Opportunity and Challenge
Melalui keanggotaan dalam BRICS, Indonesia memiliki peluang besar untuk mendorong agenda-agenda yang menguntungkan negara berkembang. Ini termasuk transfer teknologi yang adil, pembiayaan infrastruktur yang tidak eksploitatif, dan kolaborasi pendidikan lintas benua.
Rekam jejak Presiden Prabowo Subianto, baik sebagai Menteri Pertahanan maupun kini sebagai Presiden, menunjukkan konsistensi dalam menjaga martabat bangsa di berbagai forum internasional.
Namun, peluang ini juga datang dengan tantangan. Indonesia harus mampu menyeimbangkan kepentingan nasional dengan komitmen terhadap BRICS, sekaligus mempertahankan hubungan baik dengan mitra-mitra tradisional.
Ini memerlukan diplomasi yang cerdas dan fleksibel, yang mampu menavigasi kompleksitas geopolitik modern tanpa mengorbankan prinsip-prinsip fundamental bangsa.
Kehadiran Indonesia di BRICS mengirimkan pesan yang jelas kepada dunia: Indonesia bukan lagi negara yang bisa diabaikan dalam percaturan global.
Baca juga : Pemerintah Perkuat Peran Koperasi Merah Putih Di Pengadaan Barang Dan Jasa
Kita memiliki posisi geografis yang strategis, jumlah penduduk yang besar, ekonomi yang tumbuh cepat, dan kini, kepemimpinan yang kuat di kancah internasional.
Namun, pencapaian ini bukanlah titik akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih menantang. Tugas kita sekarang adalah menjaga konsistensi kebijakan, memperkuat profesionalisme diplomasi, dan membangun kesadaran nasional bahwa setiap langkah internasional yang diambil pemimpin kita adalah amanah untuk masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dunia telah mencatat kehadiran Indonesia di BRICS. Kini saatnya kita membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah tempat. Melalui kepemimpinan yang visioner dan diplomasi yang bijaksana, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu kekuatan penentu dalam tatanan dunia yang sedang berubah ini.
Penulis adalah:
Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan.
Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya