BREAKING NEWS
 

Membangun Merek yang Dirindukan: Belajar dari Disney, Amerika dan Jepang

Selasa, 29 September 2026 22:09 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

RM.id  Rakyat Merdeka - Saya datang ke Jepang kali ini bukan untuk jalan-jalan, karena melalui Asian Games 2026, pelajaran tentang branding kembali dimulai. Sebab, olahraga ternyata tidak hanya berbicara tentang siapa yang berlari paling cepat, melompat paling tinggi, atau membawa pulang medali paling banyak. Dalam studi komunikasi dan nation branding, olahraga telah lama dipahami sebagai salah satu panggung tempat sebuah bangsa memperkenalkan kemampuan, identitas, nilai, dan daya tariknya kepada dunia.

Alhamdulillah, di Aichi-Nagoya kali ini, Merah Putih ikut berkibar di podium tertinggi. Ketika Merah Putih naik, yang dilihat dunia bukan hanya atlet, ada Indonesia di sana, disiplin. daya juang, talenta, regenerasi, juga cerita tentang sebuah bangsa.

Literatur ilmiah juga memberikan catatan penting, bahwa prestasi olahraga tidak otomatis berubah menjadi reputasi negara. Kajian tentang sporting success mengingatkan bahwa rumus “semakin banyak kemenangan, semakin tinggi prestise” terlalu sederhana. Dampaknya, bergantung pada bagaimana keberhasilan tersebut dipahami, dikomunikasikan, dan dihubungkan dengan identitas negara.

Oleh karenanya, kesempatan mampir ke Disneyland menjadi penting. Sebagai peneliti komunikasi, saya membawa pulang oleh-oleh yang agak berbeda. Ketika orang lain melihat istana, saya melihat merek; ketika orang menikmati parade, saya mengamati pengalaman pelanggan; ketika anak-anak memeluk Mickey Mouse, saya justru bertanya mengapa manusia rela terbang ribuan kilometer, membayar tidak sedikit, mengantri cukup lama, lalu pulang dengan bahagia, bahkan sambil membawa telinga Mickey Mouse di kepala?

Jawabannya ternyata lebih dalam daripada sekadar pemasaran, karena Disneyland sesungguhnya tidak sedang menjual wahana, melainkan menjual “dunia.” Roller coaster dapat ditiru, istana dapat dibangun, boneka dapat diproduksi, teknologi dapat dibeli, tetapi dunia yang sudah hidup dalam kepala manusia sejak kecil, tumbuh bersama kenangan, lalu diwariskan kepada anak-anak mereka, jauh lebih sulit difotokopi.

Di sinilah Disneyland berubah menjadi kelas branding yang menarik bagi saya, bukan karena Indonesia perlu menjadi Disney. Justru sebaliknya. Disneyland membuat saya kembali memikirkan betapa kayanya cerita yang sudah dimiliki Indonesia, tetapi belum seluruhnya berhasil kita ubah menjadi pengalaman, reputasi, dan nilai.

Dari perjalanan ini, saya melihat satu pola besar bahwa Disney mempunyai delapan mesin yang bekerja serempak, dimana Amerika menyediakan ekosistem yang membuat imajinasi tumbuh menjadi pengaruh global, dan Jepang memperlihatkan bagaimana pengalaman dijaga melalui detail dan disiplin. Lantas apa yang dapat Indonesia pelajari dari ketiganya?

Disney Bukan Satu Keajaiban, Melainkan Delapan Mesin Kekuatan

Disney ternyata tidak hanya memiliki satu jurus rahasia. Mengingat kalau hanya bertumpu cerita, banyak studio mempunyai cerita hebat. Bila hanya bersandar pada teknologi, perusahaan lain dapat membelinya. Dan bila bergantung hanya karakter, dunia juga mempunyai ribuan tokoh populer. Tentunya yang sulit ditiru adalah orkestranya. Saya menyebutnya Delapan Mesin Disney berupa cerita, kekayaan intelektual, emosi, pancaindra, manusia, konsistensi, teknologi, dan pemulihan kepercayaan.

Delapan mesin ini mengubah aktivitas yang sebenarnya biasa, datang, berjalan, antre, bermain, makan, berbelanja, lalu pulang, menjadi sesuatu yang luar biasa yaitu kenangan. Kenangan melahirkan kedekatan. Lalu kedekatan menumbuhkan kepercayaan. Dan pada akhirnya kepercayaan mendorong orang kembali. Di situlah transaksi perlahan berubah menjadi relasi.

MESIN 1: CERITA

Kita sering menyederhanakan merek menjadi nama, logo, warna, slogan, dan iklan, maka Disneyland bekerja lebih jauh. Cinderella tidak berhenti sebagai film, karena kita dapat memasuki istananya. Mickey tidak hanya hidup sebagai gambar, tetapi anak-anak dapat menemuinya. Star Wars tidak berhenti di layar, karena pengunjung dibuat merasa sedang memasuki semestanya.

Disney bergerak dari storytelling menuju world building, dari menceritakan kisah menjadi membangun dunia tempat kisah itu dapat dialami. Riset tentang strategi Disney menunjukkan bahwa film, televisi, taman hiburan, musik, dan produk konsumen dihubungkan menjadi pengalaman lintas media yang saling memperkuat. Dengan cara itu, satu cerita tidak berhenti ketika layar padam,melainkan berpindah ruang, medium, dan generasi.

Rumusnya sederhana yaitu cerita membuat orang melihat, dunia membuat orang masuk dan pengalaman membuat orang melekat. Pelajaran pertamanya bagi Indonesia cukup dalam, karena kita tidak kekurangan cerita, dari Borobudur hingga Banda Neira, dari batik hingga rempah, dari komodo hingga cenderawasih, dari legenda sampai kuliner, Indonesia seperti perpustakaan yang tidak mempunyai halaman terakhir.

Maka pertanyaannya bukan tentang “Apa cerita Indonesia?” melainkan “Sudahkah kita membangun pengalaman yang memungkinkan dunia masuk ke dalam cerita Indonesia?”

MESIN 2: KEKAYAAN INTELEKTUAL
Bukan Hanya Mengejar Viral, Bangun Nilai yang Kekal

Mickey Mouse lahir pada 1928, hampir satu abad kemudian, belum juga “pensiun”. Di zaman ketika banyak merek mengejar tren tujuh hari dan video 15 detik, Disney memperlihatkan bahwa aset terbesar bukan selalu sesuatu yang paling cepat viral, melainkan sesuatu yang paling panjang usia nilainya.

Film memperkenalkan karakter. Karakter hidup di taman hiburan, yang kemudian bergerak menjadi permainan, pakaian, mainan, makanan, pertunjukan, lisensi, dan berbagai produk lain, sehingga dari satu cerita melahirkan banyak pintu ekonomi.

Kajian tentang model bisnis Disney menunjukkan bahwa kekayaan intelektual tidak diperlakukan sebagai produk sekali pakai, tetapi dipelihara, diperluas, dan dirancang untuk menghasilkan nilai dalam jangka panjang. Di sinilah perbedaan besar antara konten dan aset, yaitu konten berhenti ketika selesai ditonton, sedangkan aset justru mulai bekerja setelah ditonton.

Maka pertanyaan bagi industri kreatif Indonesia seharusnya tidak berhenti pada “Berapa juta yang menonton?” namun, perlu dinaikkan menjadi “Apa yang masih dapat tumbuh dari cerita ini sepuluh atau dua puluh tahun kemudian?”

Indonesia mempunyai legenda, pahlawan, kuliner, tekstil, flora, fauna, musik, permainan tradisional, dan ribuan ekspresi budaya, jangan biarkan harta karun itu berhenti sebagai proyek viral yang ramai hari ini, sunyi esok hari.

MESIN 3: EMOSI
Pendatang bukan membeli Mickey, tetapi Memori

Baca juga : Esports dan Lahirnya Wajah Baru Gotong Royong Indonesia

Bayangkan seorang anak bertemu Mickey Mouse hanya beberapa menit, maka secara ekonomi, interaksinya kecil, namun, secara psikologis, nilainya bisa bertahan puluhan tahun. Mengapa?

Karena otak manusia tidak merekam seluruh pengalaman dengan bobot yang sama. Pengalaman yang dipenuhi kegembiraan, kekaguman, kejutan, dan kedekatan emosional lebih mudah menjadi kenangan yang bertahan. Disinilah mengapa Disney tidak hanya merancang apa yang kita lihat, tetapi juga apa yang kita rasakan.

Disney memahami bahwa konsumen bukan mesin hitung yang hanya membandingkan harga, melainkan manusia adalah makhluk yang mengingat masa kecil, merindukan suasana, menyimpan cerita, dan ingin mengulang perasaan.

Maka mantra bagi sebuah merek sebenarnya sederhana bahwa produk masuk ke tangan, pengalaman masuk ke ingatan, dan akhirnya emosi masuk ke hati. Ketika hati sudah ikut mengambil keputusan, harga tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan. Karena itu, merek hebat tidak hanya bertanya “Apakah pelanggan puas?” tetapi “Apa yang masih akan mereka ceritakan tentang kita lima tahun lagi?”

MESIN 4: PANCAINDRA
Merek Hebat Bukan Hanya Terlihat, tetapi Terasa

University of Queensland menempatkan pengalaman multisensori sebagai salah satu pelajaran penting dari Disney World. Disneyland sengaja melibatkan penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, dan rasa. Musik, arsitektur, aroma makanan, kostum, lanskap, sampai detail ruang membantu memberi sinyal kepada otak bahwa kita sedang meninggalkan rutinitas sehari-hari dan memasuki dunia yang berbeda.

Artinya, Disney tidak hanya mempunyai identitas visual, namun membangun identitas pengalaman. Indonesia sebenarnya memiliki modal yang luar biasa. Bayangkan aroma kopi Gayo. Lantunan gamelan. Tekstur tenun Sumba. Rasa rendang. Wangi rempah Maluku. Desir hutan tropis. Debur laut Indonesia Timur. Sampai keramahan manusia yang menyambut tamu dengan senyum. Indonesia memiliki salah satu “perpustakaan pancaindra” terkaya di dunia, dimana tantangannya bukan kekurangan bahan.

Pertanyaannya adalah sudahkah semuanya dikurasi menjadi pengalaman? Sebab merek yang kuat bukan hanya sedap dipandang, tetapi juga lekat dikenang.

MESIN 5: MANUSIA
Semua Orang adalah Merek

Di Disney, pekerja taman disebut cast members, pemeran. Pengunjung disebut guests, tamu. Area publik adalah onstage, sementara bagian belakang adalah backstage. Hal ini bukan sekedar permainan istilah, mengingat bahasa membentuk cara manusia memahami perannya. Jika seseorang melihat dirinya sebagai “pemeran” dan pengunjung sebagai “tamu”, pekerjaannya tidak berhenti pada menyelesaikan tugas, tetapi sedang ikut menciptakan pengalaman.

Kajian Jake Pitre juga menunjukkan bagaimana pekerja Disney ditempatkan secara simbolik sebagai bagian dari penceritaan merek, dimana mereka bukan unsur di luar cerita, tetapi ikut menghidupkan cerita. Pelajarannya penting adalah merek bukan milik divisi pemasaran. Satpam adalah merek, resepsionis adalah merek. Bahkan petugas kebersihan, admin layanan pelanggan, cara pemimpin memperlakukan pegawainya juga menjadi bagian dari merek.

Ada satu prinsip pelayanan Disney yang indah, yaitu seorang pekerja mungkin sudah melayani ratusan orang hari itu. Namun, bagi seorang anak yang pertama kali bertemu karakter favoritnya, itulah satu-satunya momen yang dimiliki. Oleh karenanya, bagi organisasi, pelanggan atau pengunjung mungkin pelanggan ke-1.000, tetapi bagi pelanggan, kita mungkin pengalaman pertama. Perlu dicamkan bahwa pengalaman pertama sering menentukan apakah akan ada pengalaman kedua.

MESIN 6: KONSISTENSI
Keajaiban Bernama Disiplin

Di titik inilah Disney bertemu dengan sesuatu yang selalu membuat saya kagum setiap datang ke Jepang, yaitu konsistensi. Disney boleh menjual keajaiban, tetapi keajaiban itu diproduksi melalui sesuatu yang sangat tidak ajaib yaitu disiplin.

Kebersihan dijaga, bahasa, karakter, pelayanan hingga detail yang terus dijaga. Lantas yang sebenarnya dijaga bukan sekadar standar, melainkan janji. Branding sering gagal bukan karena konsepnya buruk, tetapi karena pengalaman hari Senin berbeda dengan Jumat; cabang A berbeda dengan cabang B; iklan berkata ramah, petugas justru marah; media sosial terlihat indah, pengalaman nyata membuat resah.

Padahal, reputasi bukan satu tindakan besar, melainkan ribuan tindakan kecil yang menyampaikan janji yang sama. Di sinilah Jepang memberikan pelajaran yang begitu kuat lewat ketepatan, kebersihan, pelayanan, desain, dan keteraturan tidak berhenti sebagai slogan wisata, tetapi di antaranya hadir sebagai pengalaman keseharian. Ingat, bahwa janji yang terus dibuktikan, perlahan berubah menjadi reputasi.

MESIN 7: TEKNOLOGI
Teknologi Terbaik Tidak Sibuk Memamerkan Kecanggihannya

Disneyland telah lama menggunakan teknologi untuk membuat sesuatu yang mustahil terasa mungkin. Namun ada prinsip yang lebih menarik yaitu teknologi bekerja untuk pengalaman, bukan pengalaman dipaksa bekerja untuk teknologi. Pendekatan ini tentunya relevan pada zaman kecerdasan buatan. Hari ini banyak organisasi sibuk bertanya “Sudah pakai AI?” “Sudah punya chatbot?” “Sudah digital?”

Pertanyaan yang lebih penting sebenarnya jauh lebih sederhana “Apakah hidup pelanggan menjadi lebih mudah?” University of Queensland memberi contoh melalui pengelolaan antrian Disney, dimana informasi waktu tunggu, sistem pemesanan, aplikasi, dan papan informasi membantu pengunjung mengatur pengalaman mereka. Bahkan ketika antrian tidak dapat dihilangkan, pengalaman menunggu masih dapat dikelola.

Sebab manusia tidak mengalami waktu dengan stopwatch, melainkan mengalami waktu dengan perasaan. Sepuluh menit dalam kejengkelan terasa panjang, namun, tiga puluh menit dalam kesenangan terasa ringan.

Adsense

Maka digitalisasi terbaik bukan yang paling banyak fitur, tetapi yang paling sedikit friksi, karena teknologi tidak harus terlihat canggih, tetapi harus membuat hidup terasa gampang.

MESIN 8: PEMULIHAN KEPERCAYAAN
Merek Hebat Bukan yang Tak Pernah Salah, tetapi Tahu Cara Berbenah

Tidak ada organisasi yang sempurna. Wahana dapat berhenti, sistem dapat gagal, pesanan bisa salah, pegawai bisa keliru, pelanggan dapat kecewa. Maka pertanyaan strategisnya bukan “Bagaimana memastikan kita tidak pernah melakukan kesalahan?” Tentu saja menjadi sempurna terus menerus hampir mustahil. Pertanyaan yang lebih penting “Apa yang terjadi lima menit setelah kesalahan?”

Baca juga : Staf Ahli Mendikdasmen: KOSSMI 2026 Jadi Bukti Pentingnya STEM dan AI

Praktik Disney memberikan ruang kepada pekerja untuk membantu menyelesaikan persoalan tamu. Logikanya sederhana, jangan biarkan persoalan kecil tumbuh menjadi pengalaman buruk yang besar. Di sinilah service recovery, pemulihan layanan, menjadi bagian dari branding.

Ketika sesuatu gagal, manusia biasanya mencari tiga hal yaitu kejujuran, empati, aksi. Bukan alasan yang berputar, bukan birokrasi yang melebar, bukan juga tanggung jawab yang dilempar-lempar. Kesalahan belum tentu menghancurkan kepercayaan, melainkan cara memperbaiki kesalahanlah yang sering menentukan apakah kepercayaan bertahan atau menghilang.

Pelayanan hebat juga tidak berarti selalu berkata “ya”, tetapi mengetahui kapan aturan diperlukan untuk menjaga keadilan, dan kapan keluwesan diperlukan untuk menjaga kemanusiaan.

Sampai di sini muncul pertanyaan lain mengapa Disney mampu menjadi begitu mendunia? Jawabannya tentu ada pada kehebatan Disney sendiri. Namun, Disney juga tumbuh dalam salah satu ekosistem merek negara paling berpengaruh di dunia yaitu Amerika Serikat.

Amerika memberi pelajaran menarik tentang bagaimana sebuah bangsa dapat dikenal bukan melalui satu pintu, tetapi melalui banyak pintu sekaligus. Hollywood membawa cerita, Silicon Valley membawa inovasi, universitas-universitasnya membawa ilmu dan aspirasi, sedangkan NBA dan berbagai liga olahraga membawa pertandingan sekaligus budaya populer. Disney membawa imajinasi, sementara berbagai merek teknologi, hiburan, fesyen, makanan, musik, dan industri kreatif membuat pengalaman tentang Amerika hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai penjuru dunia.

Dengan kata lain Amerika tidak hanya hadir sebagai tempat di peta, melainkan hadir sebagai pengalaman dalam kehidupan manusia. Banyak orang mungkin pertama kali “bertemu” Amerika bukan ketika pesawatnya mendarat di New York, Los Angeles, atau Washington, D.C. Mereka mungkin sudah mengenal Amerika jauh sebelumnya, melalui film yang ditonton, musik yang didengar, teknologi yang digunakan, olahraga yang diikuti, kampus yang diimpikan, atau karakter Disney yang menemani masa kecil.

Inilah kekuatan ekosistem merek, yaitu produk menjadi pintu masuk, cerita menjadi pengikat, budaya menjadi jembatan dan inovasi menjadi reputasi. Kajian tentang nation branding memang menempatkan reputasi negara jauh lebih luas daripada logo atau kampanye pariwisata. Keith Dinnie membahasnya melalui identitas, citra, posisi, ekuitas merek, efek negara asal, identitas nasional, hingga diferensiasi merek negara. 

Dinnie juga menunjukkan bahwa strategi merek negara dapat melibatkan hubungan dengan warga, duta merek, diaspora, pelacakan persepsi, hingga diplomasi publik dan soft power. Artinya, negara tidak hanya dikenal melalui apa yang dikatakan tentang dirinya. Negara justru dikenal melalui apa yang dihasilkan, dialami, dipelajari, ditonton, digunakan, dan diceritakan orang lain tentangnya.

Penelitian mengenai country-of-origin effect juga menunjukkan bahwa persepsi terhadap negara asal, dapat ikut mempengaruhi cara orang mengevaluasi sebuah produk. Di sinilah keindahan Brand Amerika yaitu negaranya memberi konteks kepada produknya, lalu produknya ikut memperluas cerita tentang negaranya.

Seseorang dapat mengenal Amerika melalui teknologi, yang lain melalui film, melalui musik, olahraga, pendidikan, kewirausahaan, atau, seperti jutaan anak di berbagai negara, melalui Mickey Mouse. Masing-masing membuka pintu yang berbeda, tetapi secara bersama-sama memperluas kehadiran Amerika dalam imajinasi global.

Fenomena ini yang layak diapresiasi dan diteladani bahwa Amerika tidak hanya mengirim produk ke dunia, namun, banyak produknya ikut membawa cerita tentang Amerika. Mickey tidak memerlukan paspor untuk melintasi perbatasan, film tidak memerlukan kedutaan untuk memasuki ruang keluarga, musik tidak membutuhkan visa untuk tinggal dalam ingatan.

Teknologi bahkan dapat menjadi bagian kehidupan seseorang jauh sebelum ia pernah mengunjungi negara asalnya, karena produk menjadi duta, budaya menjadi bahasa, inovasi menjadi reputasi dna pengalaman menjadi undangan.

Tidak mengherankan jika Amerika terus menghidupkan rasa ingin tahu manusia ketika ada yang ingin melihat New York, menjelajahi taman nasionalnya, belajar di kampus-kampusnya, menyaksikan pusat inovasinya, menikmati budaya populernya, dan tentu saja, mengalami dunia Disney di tempat kelahirannya.

Kekuatan sebuah merek bangsa memang bukan karena semua manusia harus mempunyai pengalaman yang sama tentang sebuah negara, justru kekuatannya terlihat ketika sebuah negara mempunyai begitu banyak pintu yang membuat dunia ingin mengenalnya lebih dekat. Inilah pelajaran bagi Indonesia, bahwa kita tidak perlu meniru Amerika, namun, kita dapat mempelajari bagaimana kreativitas masyarakat, perusahaan, universitas, budaya, inovasi, dan produk-produknya dapat saling memperbesar nama sebuah bangsa.

Pulang dari Disneyland, ternyata “kelas” branding belum selesai, karena sepanjang perjalanan di Jepang, kekuatan “merek Jepang” juga terus mengiringi, dari mulai di kereta, toko, makanan, kemasan, hotel, ruang publik, teknologi, toilet, trotoar, pelayanan, hingga detail-detail kecil yang sering luput dari kamera. Jika Amerika memberikan contoh kuat tentang bagaimana imajinasi dapat tumbuh menjadi ekosistem global, maka Jepang, menunjukkan bagaimana reputasi dipelihara melalui pengalaman yang konsisten.
Literatur juga menunjukkan bahwa nation branding berkaitan dengan koordinasi berbagai titik temu sebuah negara dengan publiknya.  Karena itulah nation branding tidak cukup dibuat oleh kementerian, biro iklan, atau kampanye pariwisata. Sebab bagi seorang wisatawan petugas imigrasi adalah nation branding, bandara adalah nation branding, kereta, toilet, pedagang, produk lokal hingga cara masyarakat memperlakukan ruang bersama juga merupakan denyut nation branding.

Wisatawan tidak mengalami sebuah negara melalui presentasi PowerPoint, melainkan mengalaminya di jalan. Maka, ketika pengalaman kecil itu konsisten, sebuah reputasi besar terbentuk tanpa harus terus-menerus diteriakkan.

Mesin Kesembilan?

Lalu adakah mesin kesembilan? Menurut saya, tidak. Namun, ada sesuatu yang bahkan lebih penting daripada delapan mesin yang ada, yaitu lem yang menyatukan kedelapannya, yang bernama budaya.

Disney dapat mendunia bukan semata karena mengekspor wahana, namun juga belajar menerjemahkan pengalaman ke konteks lokal, sehingga Disney tetap Disney dan Jepang tetaplah Jepang. Identitas global tidak harus membunuh karakter lokal. Sebaliknya, keduanya dapat bertemu dan saling memperkaya. Tentunya prinsip ini sangat relevan bagi Indonesia agar global boleh, akar jangan buyar.

Baca juga : Setiap Jam, Jalan Raya “Membunuh” Lebih dari 100 Orang di Dunia

Modern tidak berarti meninggalkan tradisi, karena mendunia juga tidak berarti kehilangan budaya, tetapi perlu diterjemahkan cara menyampaikannya, agar tidak kemudian bukan menghapus identitas. Oleh karenanya, Indonesia tidak perlu menjadi Amerika ataupun menjadi Jepang. Indonesia tetap perlu menjadi Indonesia, dengan daya imajinasi yang mendunia dan pengalaman yang semakin terjaga.

Apa yang Dapat Ditawarkan Indonesia?

Indonesia sesungguhnya mempunyai bahan baku luar biasa, dimana tantangannya ialah kita masih terlalu sering memandangnya sebagai daftar komoditas seperti kopi adalah kopi, batik adalah batik, jamu adalah jamu, rendang adalah rendang dan destinasi adalah destinasi. Bagaimana jika cara berpikir itu dibalik?

Kopi Gayo bukan hanya minuman, melainkan tanah, ketinggian, aroma, petani, ritual, keramahan, desain, dan pengalaman tentang Aceh. Batik bukan hanya kain, tetapi motif, filosofi, tangan pembatik, sejarah, tekstur, kekayaan intelektual, dan identitas. Destinasi bukan hanya pemandangan untuk difoto, melainkan ruang untuk mengalami manusia, makanan, musik, sejarah, alam, dan cara hidup Indonesia.

Saat itulah kita berhenti hanya menjual benda, dan mulai membangun dunia di belakang benda. Ketika dunia itu kuat, persaingan tidak lagi hanya soal siapa paling murah, melainkan siapa yang paling mampu memberikan makna.

Delapan Mesin, Satu Algoritma Indonesia

Dari Disneyland, Amerika, dan Jepang, saya akhirnya membawa pulang satu rumus sederhana bahwa cerita membuat orang tertarik, kekayaan intelektual membuat cerita terus bertahan, emosi membuat manusia terikat, lewat Pancaindra yang membuat pengalaman melekat.

Manusia pun kemudian membuat janji terasa nyata, lewat konsistensi yang mengubah janji menjadi reputasi, dengan teknologi yang membuat perjalanan lebih mudah, serta pemulihan kepercayaan membuat hubungan tetap utuh ketika masalah tumbuh. Ketika delapan mesin itu bekerja bersama, maka lahirlah sebuah siklus 

KENAL → RASAKAN → INGAT → PERCAYA → KEMBALI → CERITAKAN → AJAK → WARISKAN

Inilah mengapa Disneyland tidak hanya mempunyai konsumen, tetapi keluarga yang terus kembali. Tidak hanya mempunyai penonton, tetapi penggemar. Tidak berhenti pada transaksi, tetapi tumbuh menjadi relasi. Dan ketika relasi itu berpindah dari orang tua kepada anak, merek tidak lagi sekadar mempunyai pasar, tetapi memiliki generasi. 

Disney Menjual Mimpi, Amerika Menghidupkan Imajinasi, Jepang Menjaga Pengalaman. Indonesia?

Perjalanan ke Disneyland Jepang akhirnya berubah menjadi kelas branding yang tidak saya rencanakan. Disney mengajarkan bagaimana cerita menjadi dunia. Amerika memperlihatkan bagaimana kreativitas, inovasi, pendidikan, budaya populer, dan kewirausahaan dapat bersama-sama membawa nama sebuah bangsa melintasi batas negara. Sedangkan Jepang, menunjukkan bagaimana pengalaman dijaga melalui detail, disiplin, dan konsistensi. Ketiganya memberikan pelajaran yang berbeda, tetapi bertemu pada satu titik yaitu merek (brand) yang kuat bukan hanya sesuatu yang dikampanyekan tetapi harus dialami, dipercaya, lalu diceritakan kembali.

Kita, Indonesia, mempunyai sesuatu yang bahkan tidak dapat dipesan dari konsultan branding paling mahal di dunia yaitu sejarah yang nyata, budaya yang hidup, alam yang autentik, rasa yang kaya, kreativitas yang melimpah, dan jutaan manusia dengan cerita yang berbeda.

Maka pekerjaan besar kita bukan menciptakan Indonesia baru agar disukai dunia, tetapi membuat kekayaan yang sudah ada lebih mudah ditemukan, lebih nikmat dialami, lebih kuat dipercaya, dan lebih sulit dilupakan.

Masa depan persaingan tidak hanya dimenangkan oleh siapa yang mampu menghasilkan barang paling murah, tetapi oleh siapa yang mampu membuat produknya paling bermakna, pengalamannya paling berkesan, dan asal negaranya menjadi alasan untuk percaya. 

Mungkin itu sebabnya setelah keluar dari Disneyland Jepang, saya tidak lagi bertanya “Mengapa Disney begitu hebat?” Saya justru pulang membawa pertanyaan yang jauh lebih dekat Jika Amerika mampu membuat dunia menikmati ceritanya, menggunakan inovasinya, belajar di kampusnya, mengikuti olahraganya, mengenal mereknya, dan akhirnya ingin mengunjungi negerinya; sedangkan Jepang mampu membuat detail, pelayanan, dan konsistensi menjadi reputasi, mengapa kekayaan Indonesia tidak dapat membuat dunia merasakan daya tarik yang sama?

Kita mempunyai cerita yang tak lekang diceritakan, pengalaman yang tak habis diciptakan, maka, kini tantangannya adalah mengubah keduanya menjadi nilai, bukan hanya membuat dunia membeli Indonesia.

Buat mereka datang karena penasaran, tinggal karena nyaman, membeli karena percaya, bercerita karena terkesan dan terus kembali karena terkenang. Kelak, ketika sudah jauh dari negeri ini, buat mereka merindukan Indonesia.

Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS
Pengajar Magister Terapan Industri Kreatif, Vokasi Universitas Indonesia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense