Dark/Light Mode

“Drama Asia Melawan Asia”: Retaknya Solidaritas Asia di Era Algoritma

Senin, 23 Februari 2026 20:32 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

RM.id  Rakyat Merdeka - Insiden di sebuah konser, yang awalnya hanya soal dugaan pelanggaran aturan dan penyebaran identitas pribadi, berubah menjadi perseteruan lintas negara antara sebagian warganet Korea Selatan dan warga ASEAN. Dalam sudut pandang ilmiah, konflik ini bukanlah anomali, namun produk dari sistem.

Jika dibaca melalui riset komunikasi digital, sosiologi identitas, dan studi pendidikan, fenomena ini merupakan hasil dari tiga mesin besar yang bekerja bersamaan:

  • Platformization of public sphere (pergeseran ruang publik ke platform privat);
  • Historical prejudice embedded in education and media (prasangka yang mengendap dalam sistem sosial);
  • Status anxiety, dalam masyarakat yang sedang mempertahankan posisi globalnya.

Habermas (1962) menggambarkan ruang publik sebagai tempat deliberasi rasional. Namun penelitian mutakhir menunjukkan bahwa ruang publik hari ini telah mengalami apa yang disebut platformization, proses ketika diskursus publik dikendalikan oleh perusahaan teknologi yang berbasis pada model ekonomi perhatian, yaitu semakin tinggi ‘penonton” maka, peluang menghasilkan “pendapatan” pun semakin tinggi.

Solanes Corella & Hernández Moreno (2025) menunjukkan bahwa algoritma media sosial tidak didesain untuk memprioritaskan kebenaran atau etika, melainkan untuk memaksimalkan engagement (interaksi). Engagement berarti klik, komentar, dan share. Dalam komunikasi digital, emosi negatif, khususnya kemarahan, terbukti menghasilkan engagement lebih tinggi dibandingkan informasi netral.

Artinya sederhana, kemarahan akan lebih menguntungkan daripada klarifikasi. Dalam konteks konflik digital ini, ujaran rasial tidak sekadar “muncul”, namun telah diperbesar oleh sistem yang secara struktural mengutamakan konflik. Inilah yang disebut algorithmic amplification, yaitu penguatan konten melalui mekanisme algoritmik.

Konflik di ruang digital antar warga Asia ini, sejatinya tidak lahir dari ruang hampa. Penelitian oleh Jisu Park (2023), yang menganalisis 711.878 dokumen daring di Korea terkait Asia Tenggara selama periode Januari 2020 hingga Mei 2022, menunjukkan hasil: 

  • 74,9% sentimen tentang Asia Tenggara bersifat negatif;
  • Hanya 15,5% yang bernuansa positif;
  • Bias paling dominan berkaitan dengan:
  • Level ekonomi (32,8%);
  • Cuaca (30,5%);
  • Lingkungan (14,7%);
  • Penampilan (13,9%);
  • Sikap (8,0%)

Baca juga : Vape dan Whip Pink: “Tren” yang Bisa Berubah Jadi Tragedi

Lebih jauh lagi, model prediksi dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa, kategori “economic level” adalah faktor paling kuat dalam memicu sentimen negatif terhadap Asia Tenggara. Artinya stereotip tentang “kemiskinan”, telah menjadi fondasi utama prasangka. 

Maka, ketika terjadi insiden di konser, respons emosional-lah yang muncul, bukan reaksi spontan, yang tentunya mengikuti pola persepsi yang sudah ada sebelumnya. Algoritma hanya sekedar mempercepat dan memperluas cara pandang yang sudah ada di benak, sebelum hadirnya konflik.  

Dr. Devie Rahmawati, CICS (berkerudung). (Foto: Dok. Pribadi)

Persepsi tentang Asia Tenggara ini diperkuat oleh sistem pendidikan. Menurut Kim (2021), proporsi pembahasan tentang Asia Tenggara dalam buku pelajaran di Korea Selatan telah menurun drastis sejak era 1940-an. Dari sekitar 10–17% pada periode awal, turun menjadi sekitar 1–3% dalam kurikulum modern. 

Dalam skala yang kecil itu, Asia Tenggara pun hanya digambarkan sebagai:

  • wilayah tropis;
  • kawasan berkembang;
  • masyarakat tradisional;
  • destinasi wisata.

Jarang ditampilkan sebagai:

  • pusat pertumbuhan ekonomi digital; 
  • kawasan dengan populasi muda produktif,
  • mitra strategis dalam geopolitik Asia.

Representasi ini membentuk mental map (peta mental) para generasi muda.

Baca juga : Senyum yang Menyembunyikan Luka: Sains di Balik Bunuh Diri Anak

Jika sejak di bangku sekolah, Asia Tenggara telah diasosiasikan hanya dengan “angin musiman, ketertinggalan ekonomi serta budaya tradisional”, maka tidak mengherankan, jika informasi tersebut, menjadi dasar respons ketika konflik muncul. Prasangka bukan sekadar sikap satu atau dua orang saja, namun, hasil produk sosialisasi yang terstruktur, sistematis dan masif.
Korea Selatan adalah negara dengan transformasi ekonomi paling dramatis pada abad ke-20. Dari negara miskin pascaperang, menjadi anggota OECD dan pusat industri teknologi global. Teori sosial tentang status oleh de Botton, 2004, menyebutkan bahwa, kelompok yang baru naik kelas, sering mengalami status anxiety, yaitu kecemasan bahwa posisi barunya bisa diragukan.

Status anxiety memunculkan kecenderungan:

  • menegaskan perbedaan hierarkis;
  • mempertahankan narasi “kami sudah maju”;
  • merespons kritik sebagai ancaman simbolik.

Ketika warganet Asia Tenggara membalas dengan menyebut angka bunuh diri tinggi atau tingkat kelahiran rendah di Korea, itu bukan sekadar komentar tandingan, namun menjadi counter-status attack, sebuah serangan balik terhadap simbol modernitas. Konflik pun berubah dari soal aturan konser, menjadi perang simbolik tentang siapa yang lebih unggul.

Platform bekerja melalui reinforcement loop, yaitu lingkaran ketika reaksi, akan membuat sesuatu semakin besar, dan semakin besar, membuatnya mendapat lebih banyak reaksi. Jika yang diperkuat adalah kemarahan, maka kemarahanlah yang membesar. Jika yang diperkuat adalah dialog, maka dialog yang membesar. Dalam kasus ini, praktiknya ialah: 

  • Konten perseteruan memicu emosi tinggi;
  • Interaksi meningkat;
  • Algoritma menilai konten relevan;
  • Distribusi diperluas;
  • Polarisasi meningkat

Ujungnya, normalisasi pun terjadi. Dalam psikologi sosial, yang dipopulerkan oleh Robert Zajonc (1968), “pembiasan” ini dikenal dengan sebutan mere exposure effect, ketika, semakin sering seseorang melihat sesuatu, semakin terasa biasa baginya sesuatu tersebut. Maka, dehumanisasi, yaitu praktik menyamakan kelompok lain dengan “hewan atau stereotip tertentu” misalnya, akan perlahan terasa wajar. Bukan karena masyarakat mendukungnya secara mayoritas, tetapi, karena “gema ruang digital”, membuatnya terlihat dominan.

Konflik ini juga memperlihatkan fenomena identitas regional. Ketika satu negara Asia Tenggara diserang, negara lain ikut membela. Dalam penelitian Tajfel & Turner (1979) tentang common outgroup effect, dimana, kehadiran musuh bersama memperkuat solidaritas internal, maka, Identitas “SEAblings” bukan sekadar istilah fandom, namun ekspresi lem sosial digital, di tingkat regional.

Baca juga : Ketika Mesin Lebih Cepat dari Makna: Catatan dari Dialog Generasi Muda di Jepang

Apa yang sebenarnya memperuncing insiden kamera di konser ini? Jika diringkas, konflik ini terbangun dari:

  • Prasangka historis yang terakumulasi;
  • Representasi pendidikan yang timpang;
  • Media yang mereproduksi hierarki simbolik;
  • Algoritma yang menguntungkan kemarahan;
  • Status anxiety nasional;
  • Minimnya literasi global citizenship.

Kasus ini bukan sekedar konflik tentang dua kelompok warganet, namun cermin arsitektur sosial Asia modern. Kamera hanyalah sekedar percikan, yang kemudian meledak bukan soal aturan konsernya, namun, persepsi yang “mengkristal” tentang kelompok lain.
Kita hidup dalam era saat:

  • algoritma menentukan apa yang terlihat;
  • emosi menentukan apa yang viral;
  • identitas menentukan siapa yang dibela.

Jika ruang digital terus dirancang untuk menguntungkan “kemarahan”, maka, konflik lintas negara akan semakin mudah dinyalakan. Ditambah, ketika pendidikan tidak membangun perspektif global yang setara, prasangka akan terus menemukan panggungnya.

Perseteruan warga Korea Selatan & ASEAN, bukanlah soal siapa yang benar atau salah, namun, situasi ini kembali membuktikan bahwa sistem digital modern dapat memproduksi dan memperbesar “ketegangan identitas” secara sistemik.

Dr. Devie Rahmawati, CICS
Folks Strategic

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.