RM.id Rakyat Merdeka - Isu perdamaian global dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian dari eksplorasi seniman muda dalam menciptakan karya seni.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Artist Talk bertajuk Art for Peace and a Better Future: Collaboration yang digelar SBY Art Community (SAC) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Galeri Emiria Soenassa dan Galeri Oesman Effendi tersebut menghadirkan tiga seniman muda, yakni Koelo Maryam, Guntur Wibowo, dan La Ode Umar Arsuria.
Diskusi dipandu Gie Sanjaya yang juga bertindak sebagai kurator pameran. Pameran ini merupakan agenda kedua SAC yang digelar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Ulang Tahun ke-499 DKI Jakarta.
Baca juga : Seniman Jerman Christopher Lehmpfuhl Pamerkan Teknik Lukis dengan Tangan
Pameran berlangsung hingga 30 Agustus 2026. Tema perdamaian menjadi pemantik utama dalam rangkaian pameran SAC tersebut.
Pada penyelenggaraan tahun kedua ini, gagasan berawal dari keresahan terhadap isu perdamaian global.
Presiden ke-6 RI sekaligus pendiri SBY Art Community, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kemudian menantang 20 anggota SAC untuk berkolaborasi dalam satu kanvas guna menuangkan keresahan sekaligus harapan terhadap perdamaian.
Salah satu anggota tim pelaksana pameran, Guntur Wibowo mengatakan, gagasan tersebut dituangkan melalui ilustrasi dengan konsep perdamaian. Dalam proses penciptaannya, para seniman juga mendiskusikan pemanfaatan teknologi AI.
Baca juga : SBY Art Community Gelar Pameran Lukisan, Suarakan Perdamaian
“Dari ide gagasan Pak SBY, lalu itu kita buatkan atau kita ilustrasikan dengan media gambar yang kita diskusikan dari empat institusi dari Jakarta, Bandung, Solo dan Jogja, termasuk seniman independen. Banyak ide gagasan yang muncul, kemudian kita membuat sketsa. Kita terbuka atas teknologi AI yang membantu kita dalam mencetuskan konsep perdamaian,” ujar Guntur.
Sementara itu, kurator pameran Gie Sanjaya menilai perkembangan teknologi telah merambah berbagai sektor, termasuk dunia seni visual.
Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan pada tahap awal proses kreatif, tetapi sentuhan manusia tetap menjadi bagian penting dalam menghasilkan karya seni.
“Teknologi berkembang cepat di semua sektor, termasuk di dunia visual artistik. Terkait pemanfaatan AI di seni lukis, pada saat awal mind mapping dapat menggunakan AI. Selanjutnya ada goresan tinta, mix colour, dan lainnya yang tetap harus dikerjakan sendiri oleh seniman. Jadi, hasil AI masih harus diolah oleh human atau manusia,” tuturnya.
Baca juga : Pameran Lukisan Sumatera Menangis Denny JA
Seniman muda lainnya, La Ode Umar Arsuria dan Koelo Maryam, juga tidak menampik perkembangan teknologi AI sebagai bagian dari ruang diskusi dalam proses berkarya.
Namun, mereka tetap menempatkan goresan, warna, serta ekspresi seni sebagai cerminan rasa masing-masing seniman.
Pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration mendapat dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta sejumlah mitra seni dan budaya.
Dukungan tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk mendorong Jakarta menjadi salah satu pusat seni rupa internasional sekaligus menjadikan karya seni sebagai ruang kolaborasi dan bahasa perdamaian untuk masa depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.