RM.id Rakyat Merdeka - Harvey Moeis berdalih mengumpulkan uang dari perusahaan smelter timah untuk menanggulangi Covid-19. Jaksa Penuntut Umum langsung mematahkan alibi Harvey tersebut, pada sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Rabu, (23/10/2024).
Harvey menyampaikan dalih itu ketika dihadirkan sebagai saksi mahkota bagi terdakwa lain. Harvey juga menjadi terdakwa perkara korupsi tata niagatimah, di lahan konsesi PT Timah periode 2015-2022.
Suami artis Sandra Dewi itu mengaku, mengelola dana “kas sosial” setoran dari smelter PT SIP, PT SBS, PT TIN, dan CV VIP.
Keempat smelter swasta itu, bersama PT RBT, disewa PT Timah untuk proses pengolahan pasir timah menjadi timah.
Baca juga : Paula Verhoeven, Tak Saling Sapa Dengan Baim Wong
Setiap smelter harus menyetorkan uang 500 dolar Amerika Serikat (AS) dari setiap ton timah yang diolah.
Harvey mengemukakan, smelter swasta menyetorkan uang ke PT QSE, perusahaan money changer milik Helena. Harvey lalu menerima uang dari PT QSE secara tunai.
Jaksa lalu mengorek penerimaan uang dari empat smelter kepada Harvey lewat PT QSE.
Harvey berkilah, tidak mengetahui totalnya karena tidak pernahmelakukan pencatatan. Alasannya, uang diterima dari smelterberbeda-beda. Namun, ia memastikan besarnya mencapai Rp 1 miliar setiap kali menerima.
Baca juga : Jokowi Makan Tongseng Kambing, Ditemani Bu Iriana
Harvey juga beralasan, setoran dari empat smelter tidak rutin. Lantaran pembayaran dari PT Timah kepada smelter tidak lancar.
“Menurut pengakuan mereka (smelter menyetor) kalau ada uang. (Saya) menerima saja,” ujar Harvey.
Apalagi, terjadi penurunan harga timah dunia pada 2020. Sehingga nilai sewa smelter swasta diturunkan dari 3.700 dolar AS per ton menjadi 2.500 dolar AS per ton.
Selain tak punya catatan penerimaan, Harvey berdalih tak pernah membuat laporan penggunaan dana “kas sosial” tersebut. Laporan hanya disampaikan secara lisan.
Baca juga : AHY Tempati Bekas Luhut, Imin Numpang di Pratikno
Ia menyebut, uang digunakan untuk program reklamasi, tapi urung dilaksanakan karena keburu pandemi Covid-19.
“Saya pikir itu adalah hal yang lebih mendesak, dan bantuan ketika itu sangat dibutuhkan. Sehingga akhirnya dana itu terpakai untuk Covid,” akunya.
Uang pun digunakan untuk membantu penanggulangan pandemi dengan pembelian alat PCR. Lagi-lagi, Harvey tak bisa menjelaskan berapa uang yang digunakan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.