BREAKING NEWS
 

Kaprodi KPI UIN Jakarta: Tradisi Mudik, Cermin Nilai Sosial Dan Spiritual

Reporter & Editor :
SAIFUL BAHRI
Senin, 31 Maret 2025 16:38 WIB
Kaprodi KPI UIN Jakarta, Dr. Yopi Kusmiati. (Foto : Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mudik merupakan fenomena sosial yang tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia saat perayaan Idul Fitri.

Pulang kampung ini juga memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai sosial, dan spiritual.

Pakar Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Dr. Yopi Kusmiati menilai, secara etimologis, kata "mudik" berasal dari bahasa Jawa, yaitu "mulih dilik," yang berarti "pulang sebentar".

Istilah ini awalnya digunakan oleh masyarakat pedesaan yang pergi ke kota untuk bekerja dan kembali ke kampung halaman dalam waktu singkat.

Baca juga : Sinergi BUMN Ajak Jurnalis Mudik Gratis Naik KA Wisata

Pengertian lain, mudik berasal dari bahasa melayu 'udik', berarti hulu atau ujung. Masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai dahulu kala sering bepergian ke hilir sungai menggunakan perahu. Kemudian mereka kembali ke udik pada sore hari, sehingga disebut mudik.

Yopi menjelaskan mudik bukan hanya sekadar tradisi pulang ke kampung halaman, tetapi juga sarat makna mendalam. Salah satu aspek terpenting dari tradisi ini adalah silaturahmi.

Pemudik bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu kembali dengan orang tua, saudara, dan sanak keluarga.

Adsense

"Ini menjadi ajang mempererat tali kekeluargaan," jelas Yopi, Kaprodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fidkom UIN Jakarta, Senin (30/2).

Baca juga : Dongkrak Ekonomi, MIND ID Perkuat Integrasi Rantai Nilai Mineral Nasional

Dari sisi spiritual, mudik juga memiliki dimensi religius yang kuat. Bagi umat Muslim, Idul Fitri bukan hanya momen kemenangan setelah menjalani ibadah puasa, tetapi juga saat yang tepat untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Merujuk Alquran surat Annisa, Ayat 36, dijelaskan Yopi, manusia diperintahkan menyembah Allah, serta berbakti dan bersilaturahmi kepada orang tua, sahabat, kerabat dan sanak famili.

"Tentu yang paling utama, kesempatan pulang kampung bisa bertemu dengan orang tua. Setinggi apapun pendidikan atau jabatan, tetap harus berbakti kepada orang tua. Orang tua butuh kehadiran kita," terangnya.

Mudik juga mencerminkan keberhasilan seseorang. Banyak yang merasa bangga bisa pulang dengan membawa rejeki. Membawa oleh-oleh atau berbagi rezeki dengan keluarga di kampung halaman menjadi tradisi yang melekat dalam budaya mudik.

Baca juga : Puncak Arus Mudik, Penumpang Pelni Diimbau Datang Lebih Cepat

Hal ini juga memperlihatkan bagaimana keberhasilan finansial seseorang di perantauan turut dirayakan dalam lingkup keluarga dan komunitas asalnya.

"Dalam hadist, silaturahmi dan berbagi rezeki tidak akan membuat kita miskin, tidak akan mengurangi kekayaan, tetapi bahkan justru akan menambah rezeki dan kekayaan," katanya.

Merayakan Idul Fitri 1447 ini, Yopi berharap, masyarakat bisa bersilaturahmi untuk pererat tali persaudaraan kepada sesama saudara.

 "Semoga yang melakukan mudik selamat sampai tujuan. Dan bisa merasakan indahnya silaturahmi," pungkas Yopi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense