Sebelumnya
Rekomendasi Strategis untuk Ormas dan Akademisi
Bagi Ormas Keagamaan (NU, Muhammadiyah, dll), MUI menyatankan meningkatkan kehadiran di ranah digital dengan menyebarkan konten Islam wasathiyah secara masif. Bentuk tim media sosial profesional yang memahami algoritma platform, sehingga pesan moderat dapat menjangkau audiens luas.
Adakan pelatihan rutin bagi dai muda dalam pembuatan konten kreatif (desain grafis dakwah, editing video) agar dakwah digital lebih menarik.
Selain itu, ormas perlu aktif berkoordinasi dengan pemerintah dan platform (Facebook, YouTube) untuk moderasi konten, misalnya melaporkan akun penyebar hoaks/ujaran kebencian dan mendorong take-down konten berbahaya. Bagi akademisi dan institusi pendidikan, lakukan riset mendalam terkait pengaruh media digital terhadap pemahaman keagamaan, sehingga dapat merumuskan pendekatan efektif menghadapi radikalisme online.
Baca juga : Ini Jadwal Dan Syarat Penerimaan Murid Baru Sekolah Negeri Dan Swasta Di Jakarta
Perguruan tinggi bisa memasukkan materi literasi digital religius dalam kurikulum studi Islam maupun umum, membekali mahasiswa dengan kemampuan navigasi informasi agama di internet.
Akademisi juga sebaiknya menjalin kemitraan dengan ormas dan pemerintah dalam membuat counter narrative. Misalnya menyusun modul dakwah wasathiyah berbasis riset, atau membangun pusat informasi digital (website) berisi klarifikasi isu-isu keagamaan terkini.
Dengan demikian, komunitas akademik berkontribusi sebagai think-tank dan pengawas konten, memastikan ruang siber tidak dikuasai narasi ekstrim. Ormas dan kalangan akademik perlu berkolaborasi erat. Misalnya, mengadakan forum diskusi rutin tentang tren konten Islam di media sosial, berbagi temuan penelitian dengan praktisi dakwah digital.
Keduanya dapat mendorong pemerintah untuk mengadopsi kebijakan yang mendukung penyebaran Islam moderat (seperti kampanye nasional kontra hoaks agama, atau regulasi transparansi algoritma).
Baca juga : Garuda Harus Belajar dari Jepang
Pendekatan penta-helix (pemerintah, ormas, akademisi, industri, komunitas) sangat dianjurkan, guna menciptakan ekosistem digital yang sehat dan edukatif bagi umat.
Diingatkan, digitalisasi konten keislaman ibarat pisau bermata dua. Tantangan berupa maraknya ekstrimisme dan disinformasi harus dijawab dengan memperkuat penyebaran Islam rahmatan lil ‘alamin.
Islam wasathiyah yang ramah dan inklusif perlu terus dikampanyekan di platform digital agar mendominasi narasi. Pemahaman Islam Wasathiyah berkelindan dengan nilai kebangsaan dan demokrasi telah terbukti menjadi penopang persatuan Indonesia.
Di tengah masyarakat majemuk, wasathiyah Islam berperan sebagai perekat sosial yang menjunjung toleransi dan keberagaman. Upaya menanamkan nilai-nilai Pancasila, demokrasi, dan HAM seiring dengan ajaran Islam wasathiyah akan menciptakan kehidupan harmonis dalam kemajemukan.
Baca juga : Putri Irman Gusman Raih Gelar MBA dari Universitas Chicago
Karenanya, untuk mengukuhkan peran tersebut, diperlukan aksi kolektif berkelanjutan. Kolaborasi antara ormas, akademisi, pemerintah, dan generasi muda dalam menjaga ruang siber dari ideologi menyimpang harus terus diperkuat.
Dengan visi bersama, konten keislaman digital dapat dijadikan sarana dakwah yang mencerahkan, menebarkan kedamaian, serta memperkokoh tatanan sosial yang inklusif di Indonesia.
"Islam wasathiyah yang diwariskan ulama terdahulu hendaknya menjadi arus utama, sehingga Indonesia tetap teguh sebagai bangsa yang religius sekaligus pluralis," tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.