BREAKING NEWS
 

Jihad Literasi dan Teknologi, Bekal Gen Z Lawan Radikalisme

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Jumat, 19 September 2025 13:59 WIB
Sosiolog dan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Zuly Qodir (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gen Z dikenal sebagai generasi yang kritis, dan mudah beradaptasi dengan teknologi baru. Namun, di tengah pesatnya arus informasi, banyak analis menyebut, Gen Z juga cenderung rapuh, rentan terhadap tekanan dan provokasi. Karakter ini jika tidak dikelola dengan baik, dapat menjadi sasaran empuk Gen Z terhadap narasi eksploitatif, termasuk anarkisme, ekstremisme, dan radikalisme. 

Sosiolog dan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Zuly Qodir, menjelaskan fenomena yang terjadi pada Gen Z. Menurutnya, kelemahan karakter ini bukanlah kelemahan mutlak, melainkan bisa dipahami sebagai bentuk empati mendalam terhadap ketidakadilan dan kondisi yang tidak ideal. Namun, energi dan potensi besar mereka harus mendapatkan saluran yang tepat. 

"Generasi Z ini memang memiliki karakteristik mudah rapuh dan agak kurang dalam menghadapi tantangan yang serius. Namun, di sisi lain mereka memiliki daya jelajah yang luar biasa. Di sinilah peran pendamping sangatlah penting,” ujar Prof. Zuly 

Baca juga : BNPT Ajak Tokoh Agama Jadikan Keberagaman Benteng Lawan Radikalisme

Dia mengungkapkan, tidak semua orang tua memiliki kemampuan untuk menjadi pendamping yang baik karena kesibukan mereka. Oleh karena itu, secara alamiah mereka mencari pendamping lain yang disebut peer group, atau orang yang dianggap dapat mendampingi atau memberikan contoh kepada mereka.

Prof. Zuly menekankan, fase pencarian ini sangat berbahaya jika mereka bertemu dengan pendamping yang salah, menawarkan ideologi eksploitatif yang dapat merusak norma kehidupan. "Jika pendamping ini benar, alhamdulillah. Namun, jika tidak sesuai, itulah yang berbahaya," ucapnya.

Adsense

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ini menggambarkan dinamika urgensi yang terjadi di Indonesia saat ini bukanlah perang fisik, melainkan pertarungan asimetris, ketika kelompok ekstremis begitu militan dan terstruktur dalam menyebarkan propaganda dan konten kekerasan. Karenanya, kesadaran berjihad menguasai teknologi, ilmu pengetahuan, informasi untuk melawan intoleransi, radikalisme, ekstremisme dan terorisme yang dapat menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa. 

Baca juga : Federico Barba Siap Hadapi Tantangan Lawan Sailors

Dia menegaskan, jangan sampai orang yang memiliki semangat kebangsaan, moderasi beragama enggan untuk bersuara di media sosial. “Jika tidak, mereka yang bervisi tidak moderat akan semakin gencar dan memiliki lebih banyak saluran. Akibatnya, narasi moderasi bisa kalah dengan mereka yang sangat militan menyebarkan gagasan tentang kekerasan," ujarnya.

Menurut Prof. Zuly, untuk membangun karakter Gen Z yang memiliki daya tahan kuat terhadap propaganda ekstremisme dan radikalisme, perlu adanya kolaborasi antar berbagai elemen, mulai dari Pemerintah, masyarakat sipil, organisasi masyarakat, hingga organisasi keagamaan. Seluruh elemen harus bekerja sama agar anak-anak tidak tereksploitasi dan tidak mengidolakan mereka yang memiliki penyimpangan. 

"Harus ada kerja sama antara Pemerintah dan masyarakat. Tanpa kolaborasi solid, upaya ini akan terasa sangat berat,” katanya. 

Baca juga : AC Milan Tekuk Bologna, Sassuolo Benamkan Lazio

Penulis buku Citizen Conservatism and PostIslamism: Political Contestation in Indonesia Post New Order ini mengungkapkan bahwa masa depan Indonesia yang aman dan damai ada pada generasi muda. Oleh karena itu, Pemerintah harus mengambil peran untuk memitigasi adanya ideologi transnasional dan paham ekstrem radikal yang dapat merusak moral generasi bangsa. Misalnya dengan memblokir akun provokatif yang bisa memecah belah anak bangsa. 

“Dalam pertarungan melawan kejahatan siber (cyber crime), pemerintah bisa menghilangkan (memblokir) akun atau konten provokatif,” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense