BREAKING NEWS
 

MBG Berdampak Nyata: Stunting Turun, Pola Makan Sehat Anak Terbentuk

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 6 November 2025 20:21 WIB
Sejumlah murid menyantap menu MBG di SDN Sukatani 5, Tapos, Depok, Jawa Barat, Senin (6/1/2025). (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan hasil nyata. Data terbaru dari Dinas Kesehatan Jayapura mencatat kabar menggembirakan: angka stunting turun dari 21,3 persen pada 2023 menjadi 15,15 persen per September 2025. Angka ini jadi bukti awal bahwa penyediaan makanan bergizi berdampak langsung pada kesehatan anak.

Selain fokus pada gizi, pemerintah juga memperkuat keamanan pangan. Langkah-langkah penanganan dan evaluasi kebijakan dilakukan secara komprehensif untuk meminimalisir risiko insiden terkait makanan anak sekolah.

Untuk menjaga kualitas layanan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus meningkatkan kapasitas para penjamah makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Baru-baru ini, Bapanas melatih 2.705 penjamah makanan dari 75 SPPG di Kota Kupang dan Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Baca juga : Sri Sultan Ajarkan Kesederhanaan

Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy, mengungkapkan bahwa MBG disiapkan dengan standar gizi yang baik. “Sebelum MBG terlaksana, para pakar PERSAGI menyampaikan hal-hal penting untuk pelaksanaannya. Selain itu, ada ahli gizi yang terlibat langsung di SPPG. Mereka tahu komposisi dan perencanaan menu MBG,” ujar Doddy, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (6/11/2025).

Adsense

Ia menjelaskan, anggota PERSAGI yang tersebar di seluruh Indonesia—lebih dari 53 ribu orang di 35 DPD dan 500 kabupaten/kota—telah berkoordinasi untuk memastikan program berjalan sesuai kaidah gizi.

Menurut Doddy, menu MBG disusun berdasarkan angka kecukupan gizi sesuai usia, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan. “Harus memenuhi unsur karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Selain itu, proses quality control juga ketat, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman ke sekolah,” katanya.

Baca juga : Tinjau Persiapan Jakarta Running Festival, Pramono Pastikan Jalur Siap dan Aman

Ia mencontohkan, “Kalau kita masak oseng-oseng tauge, lalu teksturnya lembek, kita curiga. Kalau dikirim ke sekolah, bisa basi. Kita tidak biarkan makanan seperti itu sampai ke meja anak-anak.”

Lebih dari sekadar mengenyangkan, Doddy menilai MBG membawa perubahan perilaku makan anak sekolah. “Mereka kini punya referensi makanan sehat yang mungkin belum ditemui di rumah. Anak yang awalnya tidak suka sayur jadi mau mencoba karena melihat temannya makan. Seperti di Posyandu, anak jadi lahap karena ada temannya. Itu kunci terbentuknya pola makan sehat,” jelasnya.

Dengan kombinasi data empiris, penguatan SDM, dan pengawasan ahli, program MBG tak hanya menjawab persoalan gizi jangka pendek, tetapi juga menjadi investasi bagi lahirnya generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense