BREAKING NEWS
 

Tragedi SMAN 72: Pentingnya Bimbingan Moral dan Spiritualitas di Era Digital

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 11 November 2025 17:25 WIB
Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tragedi ledakan di SMAN 72 Jakarta menjadi pengingat keras bahwa ancaman radikalisme kini tak lagi datang dari organisasi besar, melainkan bisa lahir dari individu muda yang tersesat di ruang digital.

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi menilai, kasus ini menyingkap sisi gelap generasi muda yang kehilangan arah spiritual dan saluran normatif dalam mengekspresikan kekecewaan terhadap kehidupan sosial.

“Generasi muda sekarang sangat eksplosif karena tidak punya ruang untuk menyalurkan kegelisahannya melalui jalur yang sehat — sosial, ekonomi, atau politik,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa (11/11/2025).

Baca juga : Telur dari Gayam: Menetasnya Kemandirian di Tanah Migas

“Ketika ruang-ruang itu tertutup, maka pelampiasannya bisa berupa tindakan ekstrem, tawuran, atau bahkan kekerasan yang lebih besar,” sambungnya.

Menurut Islah, media sosial kini menjadi ruang dakwah baru bagi ideologi kebencian. Tanpa bimbingan moral dan keagamaan yang kuat, generasi Z dan Alpha mudah terjebak dalam algoritma kebencian yang memperkuat emosi negatif dan menormalisasi kekerasan.

Adsense

“Proses radikalisasi hari ini tidak lagi memerlukan ideologisasi panjang. Cukup dengan algoritma yang memberi ruang bagi kebencian, maka terjadilah echo chamber yang menjerumuskan anak muda pada ekstremisme,” jelasnya.

Baca juga : Pemerintah Luncurkan Tunasdigital.id, Panduan Bunda Lindungi Anak di Era Digital

Islah menilai, kondisi psikososial dan spiritual anak muda sangat rentan akibat lemahnya kontrol dari lingkungan terdekat — keluarga, tetangga, dan masyarakat.

“Pencegahan ekstremisme tidak bisa hanya dibebankan kepada negara. Pengawasan harus dimulai dari keluarga, dari RT, RW, hingga komunitas keagamaan. Semua elemen sosial harus diaktifkan kembali secara sistematis,” tegasnya.

Ia mencontohkan, di negara maju seperti Amerika Serikat pun aksi lone actor sulit dideteksi, meski sistem keamanan mereka sangat canggih. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat benteng moral dan sosial sejak dini.

Baca juga : Berbagi Bahagia, Pangdam I Bukit Barisan Ajak Anak Disabilitas Ngemall

Sebagai solusi, Islah mendorong hadirnya narasi keagamaan yang lebih humanis dan relevan bagi generasi muda. Ia menilai, pendekatan berbasis cinta kasih, empati, dan kemanusiaan akan jauh lebih efektif dibandingkan ceramah yang bersifat dogmatis.

“Kontra-narasi radikalisme harus dimulai dari membangun kecintaan terhadap sesama manusia. Itu inti dari semua ajaran agama. Bukan sekadar hafalan dalil, tapi penanaman nilai-nilai kasih dan perdamaian,” tandasnya.

Tragedi di SMAN 72 menjadi refleksi keras bahwa pendidikan dan keluarga tak hanya bertugas menyalurkan ilmu, tapi juga menumbuhkan iman, akhlak, dan empati — agar generasi digital tumbuh dengan kecerdasan yang beradab.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense