RM.id Rakyat Merdeka - Pakar hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Lambok M. Hutasoit, menyebut Indonesia memiliki potensi energi panas bumi atau geothermal yang sangat besar karena berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.
Namun, pemanfaatannya masih perlu ditingkatkan, diiringi edukasi kepada masyarakat mengenai keamanan dan pengelolaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
“Potensi panas bumi Indonesia itu sangat besar. Salah satu wilayah dengan potensi terbesar adalah Jawa Barat. Provinsi-provinsi lain juga memiliki potensi panas bumi. Jadi, masih sangat banyak yang bisa dikembangkan,” ujar Lambok saat dihubungi, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan berkurangnya air tanah akibat aktivitas PLTP perlu dikaji berdasarkan kondisi geologi di setiap wilayah. Sebab, reservoir panas bumi yang dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik umumnya berada pada lapisan batuan berbeda dengan akuifer dangkal yang menjadi sumber air rumah tangga.
“Reservoir panas bumi dengan akuifer air tanah kebanyakan tidak berhubungan secara langsung. Jadi, tidak bisa begitu saja dikatakan bahwa ketika reservoir panas bumi dimanfaatkan, air tanah di atasnya otomatis ikut tersedot,” jelasnya.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Optimalkan Operasional Penyaluran BBM
Lambok menerangkan, lapisan batuan di bawah permukaan bumi memiliki karakteristik berbeda. Ada lapisan yang dapat meloloskan air, tetapi ada pula yang menghambat pergerakan fluida.
Meski demikian, hubungan antara reservoir panas bumi dan akuifer tetap perlu diteliti karena dalam kondisi tertentu keduanya dapat saling terhubung.
Selain persoalan air tanah, Lambok menjelaskan bahwa pengeboran panas bumi hingga kedalaman sekitar 2.000 meter masih berlangsung di lapisan kerak bumi. Kedalaman tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan struktur bumi secara keseluruhan.
“Kalau dibandingkan dengan struktur bumi secara keseluruhan, kedalaman 2.000 meter itu tidak ada apa-apanya. Kalau berbicara mengenai kedalaman sampai ke inti bumi, jaraknya ribuan kilometer,” katanya.
Lambok mencontohkan PLTP Kamojang di Jawa Barat yang telah beroperasi secara komersial sejak 1983. Kawasan tersebut juga dikunjungi Staf Khusus Wakil Presiden sekaligus Komisaris Pertamina Patra Niaga, Tina Talisa, untuk melihat langsung proses produksi listrik panas bumi, termasuk pengelolaan air dan sistem pengeborannya.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga: Penyaluran Kondusif Saat Penerapan Ganjil Genap BBM di Bali
Melalui akun Instagram pribadinya, Tina menjelaskan, Kamojang merupakan PLTP pertama di Indonesia. Saat ini, fasilitas tersebut memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 235 megawatt (MW).
Menurut Tina, pengalaman panjang Kamojang menunjukkan pentingnya pengembangan energi yang memperhatikan keberadaan masyarakat dan kelestarian lingkungan sekitar.
“Kamojang bukan hanya cerita tentang pembangkit listrik. Selama puluhan tahun, pengembangan panas bumi di sini tumbuh berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” tulis Tina melalui akun Instagram @tina_talisa.
Sementara itu, Lambok menjelaskan, keberlanjutan produksi panas bumi turut didukung mekanisme reinjeksi, yakni pengembalian fluida sisa produksi ke reservoir untuk membantu menjaga tekanannya. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan kawasan resapan air.
Hal ini sejalan dengan penelitiannya di Wayang Windu, Jawa Barat, yang mengidentifikasi daerah resapan melalui analisis isotop air.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Bangun Ruang Belajar dan Mimpi Anak-Anak Pesisir Sulawesi
“Metode itu sangat membantu. Justru itu memang disarankan dan harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pengembang panas bumi. Tujuannya untuk menjaga tekanan reservoir. Istilahnya pressure maintenance,” ujarnya.
Lambok memperkirakan pemanfaatan panas bumi Indonesia baru mencapai sekitar 10 persen dari keseluruhan potensi nasional. Karena itu, pengembangan energi ini perlu terus didorong, termasuk di Jawa Barat yang memiliki sumber daya panas bumi melimpah.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi energi panas bumi Indonesia mencapai 23,2 gigawatt (GW). Namun, kapasitas yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik baru sekitar 2,78 GW.
Menurut Lambok, besarnya potensi tersebut perlu diimbangi dengan edukasi publik agar masyarakat memahami manfaat, karakteristik, serta risiko pengembangan energi panas bumi.
“Pemerintah dan perusahaan pengembang juga harus menjelaskan kondisi tersebut dengan baik kepada masyarakat. Bagaimana sistem panas buminya, bagaimana susunan lapisan batuannya, dan lapisan mana yang dimanfaatkan. Hal-hal seperti itu harus dijelaskan supaya masyarakat memahami kondisi yang sebenarnya,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.