Dark/Light Mode

Tina Talisa Soroti Keamanan Dan Keberlanjutan Energi Panas Bumi

Kamis, 15 Oktober 2026 15:18 WIB
Staf Khusus Wakil Presiden RI, Tina Talisa. Foto: Setwapres RI
Staf Khusus Wakil Presiden RI, Tina Talisa. Foto: Setwapres RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Staf Khusus Wakil Presiden (Stafsus Wapres) Tina Talisa menyoroti aspek keamanan dan keberlanjutan pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia. Hal itu disampaikannya saat mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Jawa Barat, untuk melihat langsung proses produksi listrik berbasis energi geothermal.

“Menarik untuk memahami bagaimana kekayaan geologi Indonesia dapat menjadi sumber energi yang lebih bersih, dapat diandalkan, dan berkelanjutan untuk mendukung kebutuhan listrik nasional serta transisi energi,” ujar Tina melalui akun Instagram pribadinya, @tina_talisa, Rabu (14/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Tina, yang juga menjabat Komisaris Pertamina Patra Niaga, mendapat penjelasan mengenai proses pengeboran, pemanfaatan uap panas bumi, hingga pengelolaan air dalam operasional PLTP.

Baca juga : Pengembangan PLTP Gunung Ungaran: Menjaga Energi, Air, Alam, dan Warisan Budaya

Penjelasan itu mencakup perbedaan fluida di dalam reservoir panas bumi dengan air tanah yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

“Jadi, sederhananya yang harus dipahami itu bahwa air yang ada di dalam bumi (reservoir panas bumi) berbeda dengan air yang dipakai sehari-hari oleh rumah tangga, gitu ya?” kata Tina, yang pernah menyandang gelar Mojang Jawa Barat 2002.

Tina menjelaskan, PLTP Kamojang merupakan pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia yang beroperasi secara komersial sejak 1983. Namun, sejarah pengembangan panas bumi di kawasan tersebut telah dimulai jauh sebelumnya.

Baca juga : Pemerhati Budaya: PLTP Tak Pengaruhi Situs Budaya, Kelestariannya Tetap Terjaga

Eksplorasi panas bumi Kamojang dimulai pada 1926, ketika Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengeboran di kawasan tersebut. Salah satunya adalah sumur KMJ-3 yang dibor hingga kedalaman sekitar 60 meter dan hingga kini masih mengeluarkan uap panas bumi.

“Perjalanan panas bumi Kamojang dimulai tepat 100 tahun lalu. Di tahun 1926 Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengeboran eksplorasi di kawasan ini. Salah satunya adalah sumur KMJ-3 yang dibor hanya sekitar 60 meter. Menariknya, hingga hari ini masih mengeluarkan uap panas bumi,” ujar mantan presenter televisi yang pernah meraih Panasonic Gobel Award 2012 tersebut.

Kamojang mulai menghasilkan listrik sebesar 0,25 megawatt (MW) pada 1978. Lima tahun kemudian, PLTP Kamojang Unit 1 berkapasitas 30 MW mulai beroperasi. Saat ini, kawasan Kamojang memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang mencapai 235 MW.

Baca juga : UGM: PLTP Ungaran Berpotensi Perkuat Listrik dan Ekonomi Jateng

Di tingkat nasional, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi sekitar 23,2 gigawatt (GW). Namun, kapasitas terpasang yang telah dimanfaatkan baru sekitar 2,78 GW.

Kesenjangan tersebut menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan panas bumi untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pengembangan energi panas bumi perlu diiringi pengelolaan reservoir yang tepat, perlindungan sumber air, serta pemantauan lingkungan.

Langkah tersebut penting untuk memastikan pemanfaatan energi bersih berlangsung berkelanjutan tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.