BREAKING NEWS
 

Pasar Lesu, Permintaan Menurun

Industri Manufaktur Membutuhkan Stimulus

Reporter : HAIKAL AMIRULLAH
Editor : AULIA DARWIS
Sabtu, 10 Agustus 2024 07:15 WIB
Anggota Komisi VII DPR Mukhtarudin. (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Senayan menyoroti penurunan aktivitas manufaktur yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. Purchasing Manager's Index (PMI) Indonesia pada Juli 2024 berada di level 49,3 atau turun 1,4 poin dari bulan sebelumnya.

Berdasarkan laporan S&P Global, PMI berada di bawah level 50 terakhir kali pada Agustus 2021. Penurunan aktivi­tas manufaktur tersebut disebab­kan output dan permintaan baru turun pada tingkat sedang.

Perusahaan industri pengo­lahan juga banyak mengurangi jumlah staf dalam 4 bulan terakhir.

Laporan S&P Global juga menunjukkan bahwa produsen memilih sedikit mengurangi aktivitas pembelian mereka pada Juli yang menandai penurunan pertama sejak bulan Agustus 2021. Ditemukan banyak lapo­ran bahwa kontrak karyawan tidak diperbarui.

Anggota Komisi VII DPR Mukhtarudin menilai, kontraksi manufaktur menandakan eko­nomi yang melemah.

Baca juga : Kurikulum Sekolah Mesti Klop Dengan Dunia Kerja

“Saya kira penyebabnya, antara lain rantai pasok, penu­runan permintaan dan kondisi geopolitik,” tutur Mukhtarudin dalam keterangannya, Jumat (9/8/2024).

Dia berharap, Pemerintah segera mengimplementasikan kebijakan fiskal dan moneter untuk mengatasi masalah terse­but. Misalnya, melakukan pemo­tongan suku bunga, pemberian stimulus fiskal atau insentif pa­jak untuk perusahaan manufak­tur dalam negeri.

Selain itu, perusahaan manu­faktur didorong mencari pasar baru untuk mengurangi keter­gantungan pada pasar yang sedang lesu saat ini.

“Termasuk memperluas ekspor atau mengeksplorasi segmen pasar baru,” kata Wakil Ketua Fraksi Golkar ini.

Adsense

Mukhtaruddin juga mendorong Pemerintah memberikan dukungan terhadap UMKM, meng­ingat sektor ini paling rentan ter­hadap fluktuasi ekonomi. Kerja sama antar-perusahaan dengan institusi akademik beserta pemerintah juga mesti dilakukan untuk menciptakan solusi bersama dan berbagi sumber daya.

Baca juga : Perang Saudara Dan Adu Gengsi

“Dengan mengambil langkah-langkah ini, diharapkan bisa memperbaiki kondisi manufak­tur dan mengembalikan PMI ke arah yang lebih positif,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Center of Industry, Trade and Investment Indef Andri Satrio Nugroho mendorong Pemerintah melaku­kan langkah taktis mengatasi pelemahan di industri manufak­tur ini. Hal ini mengingat jumlah tenaga kerja yang mengalami Pe­mutusan Hubungan Kerja (PHK) dari Januari hingga Juni 2024 terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Ironisnya, PHK justru terjadi di pusat-pusat sentra indus­tri. Setelah kami lihat, salah satu penyumbang cukup besar PHK adalah industri tekstil dan pakaian jadi,” katanya.

Andri menilai, PHK besar di industri tekstil dan produk tekstil ini merupakan peringatan bagi Pemerintah. Sebab, industri ini sangat strategis karena yang menyerap tenaga kerja sangat sig­nifikan. Tapi yang terjadi saat ini, malah terus mengalami tekanan.

Andri mengatakan, situasi yang dialami industri tekstil ini tentu bertolak belakang dengan arah kebijakan Pemerintah yang sangat memprioritaskan pro­gram hilirisasi. Padahal, ada lima sub sektor industri yang terkait dengan program hilirisasi.

Baca juga : The Dream Team Ke Final

“Tekstil ini adalah produk hilir dari petrokimia. Harusnya Pemerintah juga memberikan upaya cukup besar dan tentu­nya tidak pandang bulu. Jangan hanya memprioritaskan pada hilirisasi pertambangan saja,” dorongnya.

Pihaknya merekomendasi­kan agar satgas impor ilegal diperkuat dengan menaikkan level Ketua Satgas menjadi men­teri. Yang bisa menyelesaikan masalah impor adalah pejabat negara selevel menteri, yang tentunya dengan izin Presiden.

Jika tidak, maka sulit bagi Satgas mendeteksi apakah dalam kegiatan impor ilegal ini ada yang melindungi atau tidak.

“Kita harapkan, (Satgas) tidak hanya memberikan laporan hasil temuan saja. Modus impor, siapa yang memasukkan, pelakunya, harus jelas. Ini sekaligus menjadi edukasi kepada publik apakah produknya ilegal atau tidak,” jelasnya. n KAL

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Sabtu, 10 Agustus 2024 dengan judul Pasar Lesu, Permintaan Menurun, Industri Manufaktur Membutuhkan Stimulus

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense