RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi V DPR Sudjatmiko menegaskan tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi peringatan keras mengenai lemahnya budaya konstruksi aman di Indonesia.
“Dalam perspektif teknik sipil, sebuah bangunan seharusnya tidak runtuh secara tiba-tiba bila sejak awal perencanaan, perancangan, hingga pelaksanaan pembangunan mengikuti prinsip standar yang ditetapkan. Kejadian ini pelajaran penting tidak boleh lagi ada nyawa melayang akibat pembangunan tanpa perencanaan yang memadai,” tegas Sudjatmiko, dalam keterangannya, Sabtu (4/10/2025).
Miko, sapaan akrab Sudjatmiko menilai, ambruknya bangunan sering kali buru-buru dilabeli sebagai takdir atau musibah alamiah. Padahal, pada banyak kasus penyebab utama justru terletak pada kegagalan konstruksi. Mulai dari lemahnya perencanaan struktur, penggunaan material di bawah standar, hingga minimnya pengawasan tenaga ahli, menjadi penyebab yang kerap ditemui di lapangan.
Baca juga : DPC PPP Kota Serang Dukung SK Kemenkum Tetapkan Mardiono Ketum
Kondisi tanah yang tidak dikaji juga memperparah risiko. Terutama di daerah seperti Sidoarjo yang sebagian wilayahnya merupakan tanah lunak dan membutuhkan desain pondasi khusus.
"Banyak lembaga maupun individu tidak memiliki gambaran tentang struktur tanah tempat bangunan didirikan. Sidoarjo, misalnya, merupakan wilayah dengan kontur tanah yang sebagian berupa tanah lunak. Tanah jenis ini memerlukan pondasi yang kuat dan desain khusus. Tanpa kajian geoteknik, bangunan rentan amblas atau miring sebelum waktunya," paparnya.
Menurut politisi PKB itu, dalam disiplin teknik sipil kegagalan struktur tidak pernah terjadi begitu saja. Setiap desain seharusnya memiliki faktor keamanan yang membuat bangunan tetap mampu menahan beban, meskipun terdapat kelemahan material atau peningkatan beban.
Baca juga : Dubes RI Untuk Chile Vedi Kurnia Buana Perkenalkan Seni & Budaya Nusantara
"Ambruknya gedung secara mendadak menandakan adanya kesalahan serius sejak tahap awal, baik pada perhitungan, pemilihan material, maupun eksekusi di lapangan," ucapnya.
Ia mengingatkan bangunan pendidikan dan keagamaan seperti pondok pesantren menampung ratusan santri dalam satu kawasan. Karena itu, kesalahan teknis bukan hanya urusan arsitektural, tetapi juga persoalan nyawa manusia yang dipertaruhkan.
Miko mendorong agar tragedi Al Khoziny menjadi momentum perubahan nyata dalam praktik pembangunan pesantren di seluruh Indonesia. Setiap pembangunan, menurut Miko, wajib melibatkan tenaga ahli sejak awal. Sehingga dapat memastikan material sesuai standar nasional dan diawasi secara profesional.
Baca juga : Hari Kunjung Perpustakaan: Momen Reflektif Penguatan Budaya Literasi
"Pemerintah Daerah bersama asosiasi profesi teknik sipil dapat melakukan audit bangunan pesantren, terutama yang menampung ratusan santri. Audit ini mencakup kondisi pondasi, kolom, balok, hingga kualitas material," sebut legislator dapil Depok-Bekasi itu.
Selain itu, ia menekankan pentingnya edukasi kepada pihak pesantren mengenai aspek keselamatan konstruksi. Juga, mendorong Pemerintah menyiapkan dana khusus bagi renovasi maupun standarisasi gedung pesantren agar sesuai dengan kaidah konstruksi modern.
“Pesantren adalah pusat pendidikan dan pembinaan moral generasi bangsa. Kualitas bangunannya harus mencerminkan keseriusan kita dalam melindungi santri. Tragedi Sidoarjo tidak boleh berhenti menjadi berita sesaat. Ini harus menjadi alarm keras bahwa ada kesalahan yang harus diperbaiki agar tidak ada lagi nyawa yang menjadi taruhan,” pungkas Miko.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.