RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyampaikan, apresiasinya atas keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM baik yang bersubsidi maupun non-subsidi .
Menurutnya, dalam kondisi yang sarat dengan ketidakpastian akibat perang di Timur Tengah, stabilitas harga BBM tentu disambut dengan rasa lega oleh masyarakat.
“Dampak psikologis dari keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM secara keseluruhan sangat positif. Pertama, keputusan ini menihilkan berbagai rumor yang beredar di media sosial beberapa hari ini yang meresahkan masyarakat, sehingga di sejumlah SPBU terjadi antrean untuk mengisi BBM,” ujar Eddy dalam keterangannya,
“Kedua, Presiden Prabowo berupaya keras dan berhasil mencari jalan keluar agar gejolak fluktuasi harga minyak mentah tidak melemahkan daya beli masyarakat, khususnya konsumen BBM,” ujarnya.
Baca juga : 1 April 2026: Harga BBM Pertamina Tetap, Pasokan Aman
Namun ke depannya, Eddy menitipkan pesan agar pemerintah selalu sigap dan waspada menjaga pasokan BBM, mengingat seluruh produk migas saat ini ibarat komoditas langka yang diperebutkan banyak pihak.
“Negara-negara pengimpor BBM dalam jumlah besar dan bergantung pada pasokan dari Timur Tengah seperti Cina, India, Jepang dan Korea Selatan, tentu akan mencari substitusi dari pasokan migasnya ke negara-negara lain,” ujarnya.
Waketum PAN ini menjelaskan, situasi di saat Covid 19 menjadi contoh dimana vaksin merupakan barang yang paling dibutuhkan seluruh negara di dunia, di saat jumlah produksinya terbatas.
Akibatnya, banyak negara yang bersedia membelinya dengan harga yang sangat mahal demi menyelamatkan warganya yang terpapar virus Corona.
Baca juga : Tak Naikkan Harga BBM, Bahlil: Pemerintah Prioritas Lindungi Rakyat
Bahkan ketika itu ada saat ketika vaksin tidak diperjual belikan, meskipun pihak pembeli bersedia membayar di muka.
“Cerita yang sama bisa saja terulang untuk BBM, karena seluruh negara di dunia berupaya keras menghindari krisis energi yang dapat mematikan roda perekonomian dan menimbulkan keresahan sosial,” ujar Eddy.
“Oleh karenanya, saya berharap kita memiliki pasokan impor migas yang dapat diandalkan, mengingat ‘reliability of supply’ saat ini lebih penting dari ‘avaliability of supply’,” lanjut Doktor Ilmu Politik UI ini.
Eddy menambahkan, krisis energi yang melanda dunia saat ini juga merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia untuk menguatkan ketahanan energinya melalui transisi energi, konservasi energi, eletrifikasi, dan de-dieselisasi pembangkit listrik.
Baca juga : Kepemimpinan Prabowo di Mata Warga Aceh Tamiang: Paham Kesusahan Rakyat
"Selain mereduksi ketergantungan kita pada energi yang diimpor, Indonesia juga akan mengoptimalkan potensi energi bersih dan terbarukan yang kita miliki secara melimpah di dalam negeri,” pungkas Anggota Komisi XII DPR RI ini.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.