BREAKING NEWS
 

Listrik Bersih, Energi Terjangkau, Ekonomi Tangguh

Demokrat Dorong Target Dan Strategi Indonesia Menuju 100 GW

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : FAQIH MUBAROK
Jumat, 21 Agustus 2026 19:02 WIB
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY) dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk Listrik Bersih, Energi Terjangkau, Ekonomi Tangguh: Strategi Indonesia Menuju 100 GW di Rumah Kebangsaan, Kopleks MPR RI, Senayan. Foto: MPR RI

 Sebelumnya 
Energi Bersih Harus Terjangkau dan Andal

Meski mendukung percepatan transisi energi, EBY mengingatkan bahwa energi bersih tidak boleh identik dengan energi mahal.

“EBT tidak boleh berarti listrik tidak andal. Dan transisi energi tidak boleh membuat industri kita tergantung pada teknologi dari luar,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan tiga prinsip utama dalam pengembangan energi nasional, yaitu bersih, terjangkau, dan andal. Menurutnya, ketiga prinsip tersebut harus berjalan secara bersamaan.

Baca juga : Demokrat Bersihkan 386,5 Ton Sampah Lewat Gerakan Langit Biru

Pengembangan energi terbarukan harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur pendukung agar sistem ketenagalistrikan nasional mampu menghadapi karakteristik sumber energi yang berbeda-beda.

Dalam forum tersebut, EBY menawarkan empat pergeseran strategi untuk mempercepat transformasi sektor ketenagalistrikan nasional. Pertama, dari pembangkit ke sistem. Pembangunan pembangkit harus berjalan beriringan dengan pembangunan jaringan transmisi, penyimpanan energi atau storage, interkoneksi antarsistem, dan smart grid.

Menurutnya, membangun pembangkit tanpa memperkuat sistem jaringan akan membatasi kemampuan Indonesia dalam mengoptimalkan potensi energi terbarukan.

Kedua, dari energi ke industri. Listrik bersih harus menjadi magnet bagi pengembangan industri hijau, manufaktur, kendaraan listrik, pusat data, dan hilirisasi.

Baca juga : 2029, NasDem Banten Pasang Target Tinggi

“Listrik bersih harus menjadi daya tarik investasi. Kita harus mengubah keunggulan energi menjadi keunggulan industri,” katanya.

Ketiga, dari pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi energi yang dikembangkan negara lain.

Kampus, BRIN, industri, startup, dan sumber daya manusia nasional harus diperkuat agar mampu menciptakan teknologi dan solusi energi sendiri. Keempat, dari belanja menjadi investasi. Kebijakan anggaran, menurutnya, harus diarahkan untuk menjadi pemantik investasi dan pertumbuhan ekonomi.

“Setiap rupiah anggaran harus kita tanyakan: apa yang kembali kepada rakyat? Investasinya, pekerjaannya, produktivitasnya, atau hanya belanjanya?” ujarnya.

Baca juga : Edhie Baskoro: Pendidikan Bukan Hanya Anggaran, Tapi Investasi Peradaban

Energi Harus Berjalan dalam Koridor Konstitusi EBY juga menegaskan bahwa transformasi energi nasional harus tetap berlandaskan amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945.

Menurutnya, kekayaan alam harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan pembangunan ekonomi nasional harus berjalan secara berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta mandiri.

Adsense

“Transisi energi bukan hanya soal teknologi. Ini soal keadilan, soal kemandirian, dan soal masa depan anak cucu kita,” katanya.

Larena itu, ia menekankan pentingnya keselarasan antara politik anggaran dan politik energi nasional. Anggaran negara harus mampu mendorong pembangunan grid, energi terbarukan, storage, riset, akses listrik, industri, serta pengembangan sumber daya manusia.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense