RM.id Rakyat Merdeka - Kader PPP ternyata mulai gerah dengan manuver Romi menjelang Muktamar PPP. Sejak podcast salah satu media yang mengungkap skenario Romahurmuziy alias Romi, Jokowi dan Haji Isam yang memaksa Amran Sulaiman mengambil alih PPP, muncul beragam tanggapan dari masyarakat, khususnya kader PPP.
Wahyudin yang juga ketua DPC Jakarta Barat pun ikut berkomentar. "Malu rasanya mendengar PPP didagangin Romi. Seolah-olah Partai Ulama ini hanya jadi komoditas jualan yang diobral kemana-mana" ujar Wahyudin, Minggu (1/6/2025) di Jakarta.
Wahyudin mengenang kala Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, PPP DKI dipaksa oleh Romi untuk mendukung Ahok di putaran kedua. "Hanya karena tekanan Jokowi saat itu dan iming-iming "logistik" semata, dengan mudahnya menggadaikan PPP sebagai partai Islam," ungkap Wahyudin.
Baca juga : 53 Jemaah Haji Wafat, Didominasi Penyakit Jantung
Dirinya dan beberapa kader PPP DKI berupaya melawan keputusan Romi dengan memilih pemimpin muslim. "Hati nurani kami sebagai kader partai Islampun berontak tidak mau menuruti keinginan Romi. PPP pasti akan dimusuhi umat Islam karena melawan aspirasi umat" sambung Wahyudin.
Dan faktanya, sambung dia, sejak 2017 hingga Pemilu 2024 kemarin PPP masih dihukum umat. Kursi DPRD DKI tetap 1 kursi dan DPR RI 0 kursi. Bahkan secara nasional PPP tidak tembus ke Senayan.
Lalu menjelang Pemilu 2019 disaat kader PPP Jakarta sedang sibuk berjuang mengembalikan suara PPP, tiba-tiba muncul berita bahwa Romi yang saat itu menjabat Ketua Umum PPP tiba-tiba dicokok KPK karena terima suap.
Baca juga : RTOL JakOne Mobile Pulih, CEO DKI Pastikan Keamanan Data & Dana Nasabah
"Bagai petir di siang bolong, dunia kontan terasa gelap. Perjuangan kami berbulan-bulan untuk mempertahankan 10 kursi DPRD dan 3 kursi DPR RI di Jakarta langsung runtuh saat itu juga," kenang Wahyudin.
"Habis sudah suara kami tahun 2019. Kursi DPRD hilang 9 kursi dan hanya tersisa 1 kursi, sedang DPR RI hancur lebur hilang kursi sama sekali," terang Wahyudin.
Kini setelah bebas dari penjara, Romi bukannya taubat malah kembali bikin ulah. "Sesak kami belum hilang, malah hari ini muncul lagi bukan untuk pengakuan dosa tetapi malah dagangin PPP," ujar Wahyudin.
Baca juga : Diserbu 7 Ribu Pelamar, Seleksi PPSU Jakarta Dipastikan Transparan
"Mestinya Romi taubat nasuha agar tidak lagi menjadi azab bagi PPP. Jangan ganggu PPP lagi kalau tidak ingin kualat dengan warisan para ulama," kata Wahyudin.
"Romi tidak mempunyai kapasitas moral untuk menjadi rujukan terkait PPP. Biarkan para muktamirin sendiri yang menentukan masa depan PPP di dalam Muktamar besok. Karena kami ingin bekerja untuk mengembalikan kejayaan PPP, bukan dijadikan barang dagangan oleh Romi dan antek-anteknya," tutup Wahyudin.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.