BREAKING NEWS
 

Saat Satwa Jadi Korban Korupsi

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Minggu, 26 Juli 2026 08:54 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada lagi yang baru. Kali ini yang dikorupsi bukan proyek jalan, bukan bantuan sosial, bukan pengadaan barang, tapi makanan untuk satwa.

Terduga pelakunya mantan Direktur Utama Kebun Binatang Surabaya berinisial CA. Nilainya Rp 10,2 miliar. Statusnya sudah tersangka, 21 Juli 2026 lalu. 

Bukan main negeri kita ini. Tampaknya, kita sedang menyaksikan satu babak baru dalam evolusi korupsi di Indonesia. Dulu yang disikat proyek besar. Lalu dana pendidikan, kesehatan, proyek keagamaan, bansos, dana desa, hingga anggaran bencana. Kini, bahkan jatah makan satwa pun diduga ikut disikat.

Korupsi rupanya memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Bahkan menempel di kandang kebun binatang yang penghuninya tidak pernah ikut pemilu dan tidak punya hak suara.

Baca juga : Stafsus Menag: Pesantren Harus Bangkit Jadi Pusat Peradaban Dunia

Kalau singa bisa bicara, mungkin dia akan bertanya, “Apa salah kami!?”. Kalau beruang bisa menulis, mungkin dia hanya akan berkata, “kami hanya ingin makan.” Sayangnya, mereka hanya bisa diam. Tubuh yang kian kurus dan tak terawat menjadi saksi tanpa kata. 

Yang lebih ironis, bukan lagi perkara korupsinya. Melainkan betapa cepatnya kita menganggap semua itu sebagai sesuatu yang “wajar”. Banal. Seperti rutinitas.

Adsense

Hampir setiap pekan ada berita korupsi. Angkanya berganti, pelakunya berganti, modusnya berganti. Reaksi kita pun hampir sama: menghela napas, emosi sebentar, lalu menggulir layar ponsel ke berita berikutnya.

Barangkali itulah kemenangan terbesar korupsi. Bukan ketika uang berhasil dibawa pulang dan disembunyikan di mana saja, melainkan ketika rakyat berhenti merasa marah.

Baca juga : SIM Keliling Jakarta Sabtu 25 Juli, Hadir di 5 Lokasi

Padahal, setiap rupiah yang diselewengkan selalu punya wajah. Ada anak yang kehilangan ruang kelas yang layak. Ada pasien yang menunggu obat. Ada petani yang berharap irigasi. Dan kali ini, ada satwa yang menunggu pakan.

Sesungguhnya, persoalan kita bukan semata-mata kurangnya aturan atau lemahnya penindakan. Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah lunturnya rasa bersalah, hilangnya keteladanan serta tidak adanya sistem yang benar-benar bisa mencegah. 

Saat ini, para oknum yang banyak itu, tidak lagi bertanya, “apakah ini benar? Apakah ini melukai hati rakyat dan menganiaya satwa?”. Yang ditanyakan hanya, “apakah ini bisa diambil sebagian?”

Barangkali di situlah salah satu akar persoalannya. Sebab ketika segala sesuatu dipandang sebagai peluang untuk diambil, maka yang menjadi korban bukan hanya uang negara. Melainkan juga kepercayaan (trust), kemanusiaan, bahkan satwa di kebun binatang yang tak pernah tahu mengapa jatah makan mereka tiba-tiba berkurang.

Baca juga : Bupati Lombok Barat TSK 3 Perkara Korupsi

Kalau tidak ada langkah-langkah terobosan yang berani, luar biasa dan sistematis, besok-lusa jangan heran kalau ada kasus korupsi yang lebih absurd. Kasus-kasus yang melampaui batas imajinasi, yang bahkan satwa pun bisa terheran-heran mengaguminya.

Dan kita, bangsa ini, seperti biasa, menghela napas, bergumam dan menahan amarah, sembari scroll layar ponsel ke berita dan kasus berikutnya.(*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense