Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Manchester Siap Jadi Tuan Rumah KTT G20 2027
- Laga Indonesia Vs Malaysia, Polri Siapkan Rekayasa Lalu Lintas & Kantung Parkir
- Siapkan 2.373 Personel, Polri Pastikan Keamanan & Kelancaran FIFA ASEAN 2026
- Tiket Kapal PELNI Kini Bisa Dipesan H-60 Sebelum Berangkat
- PSS Sleman Terpuruk, Pieter Huistra Manfaatkan Jeda FIFA Matchday
Di meja kasir warung kelontong hingga gantungan toko grosir pinggir jalan, permen gummy (kenyal) berbentuk buah kini menjadi pajangan wajib. Kemasannya yang penuh warna langsung menarik perhatian anak-anak yang sedang jajan. Ditambah lagi, ada tulisan besar seperti "Mengandung Buah Asli", "Tinggi Vitamin C", atau "Bebas Lemak". Kalimat-kalimat ini membuat para orang tua merasa tenang dan mengira permen ini adalah camilan yang sehat. Namun, apakah kenyataannya memang begitu?
Jika kita teliti memeriksa bagian belakang bungkusnya, fakta yang ditemukan justru sangat mengejutkan. Label komposisi pada sebagian besar permen gummy buah menunjukkan bahwa bahan utama yang paling banyak digunakan adalah sirup glukosa dan gula pasir, bukan buah asli. Dalam aturan kemasan, bahan yang ditulis paling awal adalah bahan yang jumlahnya paling banyak. Ini berarti, jajanan kenyal yang dianggap sehat ini sebenarnya sebagian besar hanyalah gula olahan.
Baca juga : Udara Tak Terlihat, Tetapi Dampaknya Terasa bagi Kesehatan Masyarakat
Sebagai contoh, satu butir permen gummy kecil biasanya memiliki berat sekitar 4 gram. Dari bobot tersebut, 2 gram di antaranya murni berisi gula. Artinya, setengah dari permen yang dikunyah anak-anak adalah gula murni. Jika seorang anak menghabiskan satu bungkus kecil berisi 10 butir saat bermain, mereka sudah mengonsumsi sekitar 20 gram gula. Jumlah ini sudah hampir menghabiskan batas aman konsumsi gula harian untuk anak-anak dalam sehari.
Para ahli gizi mengingatkan masyarakat tentang taktik pemasaran yang disebut "health halo". Taktik ini sengaja menonjolkan satu kebaikan kecil—seperti tambahan sedikit vitamin sintetik atau ekstrak buah—untuk menutupi fakta besar bahwa produk tersebut rendah nutrisi dan tinggi kalori. Proses pengolahan dengan suhu panas di pabrik juga membuat kandungan serat atau kebaikan alami dari buah asli sudah hilang tak bersisa.
Baca juga : Bukan Sekedar Haus: Pentingnya Minum Air Putih yang Cukup Setiap Hari
Dampak dari konsumsi gula tersembunyi yang dibeli dari warung-warung ini tidak boleh disepelekan. Kasus obesitas dan risiko diabetes pada anak-anak di Indonesia terus meningkat akhir-akhir ini. Tidak hanya itu, sifat permen gummy yang sangat lengket dan mudah menempel di sela-sela gigi dalam waktu lama menjadi penyebab utama gigi anak cepat berlubang dan rusak.
Melalui fenomena ini, masyarakat diingatkan untuk kembali ke prinsip kesehatan yang sederhana. Vitamin dan nutrisi terbaik untuk anak tetaplah berasal dari buah-buahan segar kupas, bukan dari permen olahan pabrik. Mulai sekarang, saat membelikan jajanan untuk anak di warung atau grosir, jangan hanya melihat gambar buah segar di bagian depan kemasan. Sempatkan waktu untuk membalik bungkusnya dan membaca tabel kandungan gula demi menjaga kesehatan jangka panjang anak.
Baca juga : Dampak Rokok dan Asap Rokok terhadap Kesehatan Masyarakat
Artikel ini ditulis oleh Nazwa Arisyadana, Luthfiah Mawar M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
IKM10 UINSU Stambuk 2026e
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya