Dark/Light Mode

Jalan Kaki ke Kampus: Langkah Kecil Namun Dampak Besar bagi Kesehatan

Kamis, 1 Oktober 2026 20:49 WIB
Ilustrasi mahasiswa berjalan kaki ke kampus. (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi mahasiswa berjalan kaki ke kampus. (Gambar dibuat dengan AI)

Di tengah padatnya jadwal kuliah dan tingginya ketergantungan generasi muda pada transportasi daring, sebuah tren sederhana mulai dilirik oleh kalangan civitas akademika: berjalan kaki ke kampus. Kebiasaan yang sering kali dianggap sepele ini ternyata menyimpan gudang manfaat yang luar biasa, baik bagi kesehatan fisik, kestabilan mental mahasiswa, maupun kelestarian lingkungan hidup di sekitar kita.

Menurut data penelitian kesehatan modern, mahasiswa yang rutin meluangkan waktu untuk berjalan kaki mengalami peningkatan kebugaran yang signifikan. Riset terbaru dari jurnal kesehatan global The Lancet Public Health menunjukkan bahwa berjalan sekitar 7.000 hingga 8.000 langkah per hari sudah sangat efektif untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular secara drastis. Bagi civitas akademika di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), terutama yang berbasis di Kampus IV Tuntungan, angka tersebut sangat mungkin dicapai hanya dengan berjalan kaki dari gerbang depan, halte transportasi umum, atau dari area indekos sekitar kampus menuju ruang kelas.

Baca juga : Waspada Penyakit di Musim Hujan: Kebiasaan Kecil yang Sering Diabaikan

Secara biologis, berjalan kaki selama 15 hingga 30 menit setiap pagi di area kampus yang luas dan asri setara dengan mengaktifkan seluruh sistem metabolisme tubuh. Aktivitas fisik ringan ini memicu pembakaran kalori yang efektif serta membantu mengontrol kadar gula darah setelah sarapan. Tidak hanya bermanfaat bagi fisik, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) juga mencatat bahwa olahraga intensitas ringan seperti berjalan kaki secara teratur dapat merangsang pelepasan hormon endorfin dan serotonin di dalam otak. Hormon-hormon inilah yang bertanggung jawab untuk menurunkan tingkat stres akibat tekanan tugas kuliah, memperbaiki suasana hati (mood) yang buruk, serta meningkatkan fokus dan konsentrasi saat mendengarkan pemaparan dosen sejak jam pertama perkuliahan.

Lingkungan Kampus IV UINSU Tuntungan yang dirancang dengan konsep modern dan bernuansa hijau sebenarnya menyediakan panggung yang ideal untuk membangun kebiasaan ini. Alih-alih meneruskan ketergantungan pada ojek daring hingga ke depan pintu fakultas, memanfaatkan koridor dan jalur pejalan kaki di dalam kampus dapat menjadi alternatif olahraga pagi yang menyegarkan. Udara pagi yang relatif bersih dan pemandangan pepohonan di sekitar area kampus terbukti mampu memberikan efek relaksasi psikologis sebelum mahasiswa berhadapan dengan rutinitas akademik yang padat. Kebiasaan ini perlahan dapat membentuk ketahanan fisik yang baik, sehingga tubuh tidak mudah lelah meskipun harus menjalani jadwal perkuliahan dari pagi hingga sore hari.

Baca juga : Antara Buah dan Makanan Cepat Saji: Saat Gizi Tersingkir oleh Kepraktisan

Selain manfaat personal, gerakan berjalan kaki ke kampus ini juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Area pendidikan yang padat dengan kendaraan bermotor setiap paginya menyumbang polusi udara dan suara yang tinggi. Dengan memilih berjalan kaki setelah memasuki gerbang utama, mahasiswa secara aktif berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon harian. Penurunan mobilitas kendaraan di dalam lingkungan kompleks universitas UINSU otomatis akan menciptakan ruang akademik yang lebih bersih, sejuk, aman, dan ramah pejalan kaki.

Tentu saja, mengubah kebiasaan dan melawan rasa malas di pagi hari bukanlah perkara mudah. Memulai langkah kecil ini membutuhkan komitmen nyata. Para ahli menyarankan beberapa tips praktis agar aktivitas ini terasa menyenangkan, seperti bangun dan bersiap lebih awal, memilih rute yang teduh, serta menggunakan sepatu nyaman guna menghindari cedera otot atau kelelahan berlebih. Pada akhirnya, kesehatan jangka panjang lahir dari konsistensi langkah kecil yang diambil setiap pagi menuju ruang kelas demi tubuh yang bugar dan lingkungan UINSU yang sehat.

Baca juga : Penting, Ruang Terbuka Hijau bagi Kesehatan Masyarakat

Artikel ini ditulis oleh Nazwa Arisyadana, Luthfiah Mawar M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

IKM10 UINSU Stambuk 2026e
IKM10 UINSU Stambuk 2026e
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.