Dark/Light Mode

Dosen Dan Mahasiswa Biokimia IPB Sulap Limbah Jadi Nilai Ekonomi

Jumat, 31 Juli 2026 20:23 WIB
Departemen Biokimia IPB University mengajak masyarakat Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah, mulai dari briket, maggot Black Soldier Fly (BSF), hingga berbagai produk pangan. Foto: IPB University
Departemen Biokimia IPB University mengajak masyarakat Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah, mulai dari briket, maggot Black Soldier Fly (BSF), hingga berbagai produk pangan. Foto: IPB University

RM.id  Rakyat Merdeka - Limbah organik, ampas kopi, dan hasil pertanian yang selama ini kerap terbuang ternyata menyimpan potensi ekonomi yang besar.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, dosen dan mahasiswa Departemen Biokimia IPB University mengajak masyarakat Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah, mulai dari briket, maggot Black Soldier Fly (BSF), hingga berbagai produk pangan.

Program bertajuk "Pengembangan Ekonomi Sirkular melalui Produksi Briket dan Maggot BSF dari Sampah dan Pemberdayaan Petani Kopi di Kawasan Pangalengan Bandung" ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) yang didanai BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Kegiatan yang digelar pada Sabtu (25/7/2026) itu melibatkan 20 mahasiswa lintas departemen di bawah bimbingan dosen Departemen Biokimia IPB University, Dr. Dimas Andrianto, selaku ketua pelaksana.

Acara turut dihadiri Ketua Departemen Biokimia IPB University Prof. Dr. Mega Safithri, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Aira Heri Supriyatna, perwakilan Pemerintah Desa Pulosari Herman, serta perwakilan Kecamatan Pangalengan Rudiana.

Baca juga : Wamendagri Minta Kepala Daerah Tak Gegabah Pecat Pegawai Imbas Pemangkasan TKD

Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi bukti kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mendorong pembangunan desa berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, tim IPB menjelaskan bahwa masyarakat Pangalengan masih menghadapi sejumlah persoalan, seperti stunting yang salah satu faktor risikonya berkaitan dengan pernikahan usia dini, keterbatasan akses pendidikan, hingga kemiskinan.

Di sisi lain, pengelolaan sampah juga masih menjadi tantangan karena belum tersedianya Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Meski demikian, masyarakat melalui KSM Aira telah memulai pengolahan sampah organik melalui budidaya cacing dan maggot BSF.

Selain itu, kawasan Pangalengan juga menghadapi tantangan perubahan fungsi lahan, persoalan lingkungan, serta perlunya peningkatan nilai tambah komoditas kopi yang menjadi salah satu andalan masyarakat setempat.

Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh berbagai materi mulai dari pemanfaatan biomassa menjadi briket sebagai sumber energi alternatif, budidaya dan pengolahan maggot BSF sebagai solusi pengelolaan sampah sekaligus pakan ternak, hingga pembuatan eco-enzyme dari limbah organik rumah tangga.

Baca juga : KPK: Dugaan Korupsi di Pemkot Bengkulu Terkait Pengelolaan Limbah Kesehatan

Tak hanya itu, tim IPB juga memberikan pelatihan pemanfaatan data iklim untuk budidaya kopi dan teknik penanganan pascapanen guna meningkatkan kualitas serta nilai jual kopi petani. Aspek ketahanan pangan keluarga juga menjadi perhatian.

Peserta mendapatkan pelatihan pembuatan susu kedelai dan nugget tempe sebagai alternatif pangan bergizi yang dapat dikembangkan di tingkat rumah tangga. Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan.

Beragam pertanyaan muncul, mulai dari kualitas briket berbahan limbah kopi, teknik budidaya maggot BSF di daerah bersuhu rendah, pemanfaatan eco-enzyme, hingga informasi seputar gizi anak dan pengolahan pangan sehat.

Seluruh pertanyaan dijawab langsung oleh para narasumber berdasarkan hasil riset dan bukti ilmiah. Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Dimas Andrianto, mengatakan pendekatan ekonomi sirkular bukan hanya bertujuan mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru berbasis potensi lokal.

"Limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai sesungguhnya dapat menjadi sumber daya apabila dikelola dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, kami berharap pengelolaan sampah, budidaya maggot BSF, pemanfaatan biomassa, serta penguatan petani kopi dapat menjadi langkah nyata menuju desa yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan," ujar Dimas.

Baca juga : SMARTFREN Run 2026 Kelola 2,19 Ton Sampah, Nol Limbah ke TPA

Senada, Ketua Departemen Biokimia IPB University, Prof. Dr. Mega Safithri, menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

"Pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi bagaimana hasil riset dan inovasi dapat diterapkan sehingga memberikan manfaat nyata. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang berkelanjutan di tingkat desa," katanya.

Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan Karang Taruna, PKK, Posyandu, anggota KSM Aira, serta kelompok petani kopi Desa Pulosari. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat penerapan ekonomi sirkular di tingkat desa.

Pemanfaatan limbah menjadi briket dan maggot BSF diharapkan mampu mengurangi volume sampah sekaligus membuka peluang usaha baru, sementara peningkatan kapasitas petani kopi diharapkan dapat mendongkrak kualitas serta nilai tambah kopi Pangalengan secara berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.