Dark/Light Mode

PLN Nusantara Power Siapkan PLTS 200 MW di Empat Lokasi

Rabu, 23 September 2026 21:39 WIB
Dari kiri: Direktur Utama PLN Nusantara Renewables (anak perusahaan PLN Nusantara Power) Kuswara, Direktur Pengembangan dan Niaga PLN Nusantara Power Dwi Hartono, Sekretaris Perusahaan PLN Nusantara Power Hamidi Hamid, dan Vice President Corporate Communication (VP Corcomm) PLN NP Sondang Oinike L Simorangkir di acara Electricity Connect 2026, Hall 8 ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (23/9/2026). (Foto: Fazry/Rakyat Merdeka)
Dari kiri: Direktur Utama PLN Nusantara Renewables (anak perusahaan PLN Nusantara Power) Kuswara, Direktur Pengembangan dan Niaga PLN Nusantara Power Dwi Hartono, Sekretaris Perusahaan PLN Nusantara Power Hamidi Hamid, dan Vice President Corporate Communication (VP Corcomm) PLN NP Sondang Oinike L Simorangkir di acara Electricity Connect 2026, Hall 8 ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (23/9/2026). (Foto: Fazry/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PLN Nusantara Power tengah memproses pengadaan mitra strategis untuk empat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang masing-masing berkapasitas sekitar 50 megawatt (MW). Proyek tersebut berada di Batang, Sumenep, Paiton, dan Pemalang.

Direktur Pengembangan dan Niaga PLN Nusantara Power Dwi Hartono mengatakan, pengadaan mitra strategis untuk proyek-proyek tersebut tengah berjalan. Setelah proses pemilihan selesai, proyek akan dilanjutkan ke tahap pelaksanaan.

“Saat ini kami sedang memproses pengadaan mitra strategis untuk beberapa lokasi PLTS dengan kapasitas masing-masing sekitar 50 MW, antara lain di Batang, Sumenep, Paiton, Pemalang," kata Dwi saat doorstop media di acara Electricity Connect 2026, Hall 8 ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (23/9/2026).

Pengembangan PLTS tersebut menjadi bagian dari kontribusi PLN Nusantara Power dalam mendukung pengembangan energi terbarukan, sekaligus kesiapan perusahaan mengikuti proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Dwi mengatakan, perusahaan memiliki pengalaman dalam mengembangkan pembangkit berbasis energi surya.

Untuk proyek 100 GW, PLN Nusantara Power masih menunggu arahan dan skema pelaksanaan dari PT PLN (Persero).

“Terkait proyek 100 GW yang dicanangkan oleh Bapak Presiden, kami sebagai pengembang power plant tentu tertarik dan ingin ikut berkontribusi. Kami akan melihat bagaimana proyek ini nantinya diproduksi atau dikelola oleh PLN, serta bagaimana peran serta kami dalam berkontribusi di proyek 100 GW tersebut.”

“Mengenai basis proyeknya, kami sudah memiliki pengalaman dalam mengelola proyek berbasis PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Jadi ini bukan hal yang baru bagi kami. Kami tinggal mengikuti arahan dan skema pelaksanaan dari PLN Pusat," tegas Dwi.

Baca juga : Dukung Target 100 GW Presiden, PLN Nusantara Power Pacu EBT 3 GW

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), target pengembangan pembangkit saat ini belum mencapai 100 GW. Karena itu, masih diperlukan tambahan lokasi untuk memenuhi target tersebut.

“Artinya, akan ada penambahan lokasi-lokasi baru untuk memenuhi target tersebut.”

Namun, rincian tambahan proyek, termasuk kapasitas dan jenis pembangkit, masih menunggu keputusan PLN Pusat.

“Kami masih menunggu pengumuman resmi dari PLN. PLN sudah memiliki perencanaannya, tetapi karena kewenangannya ada di PLN Pusat, kami di Nusantara Power masih menunggu keputusan tersebut.”

Kapasitas Energi Terbarukan 3 GW

Hingga 2029, total kapasitas pengembangan PLN Nusantara Power mencapai sekitar 6,9 GW.

Sekitar separuhnya atau 3 GW merupakan energi terbarukan yang mencakup tenaga surya, angin, dan hidro.

“Untuk gambaran hingga tahun 2029, total kapasitas pengembangan kami sekitar 6,9 GW. Namun, angka ini masih campuran. Untuk energi terbarukan (renewables) sendiri porsinya sekitar separuhnya (sekitar 3 GW), yang terdiri dari solar PV, tenaga angin (wind), hingga hidro (hydro).”

Untuk proyek PLTS dalam RUPTL, kapasitasnya rata-rata berkisar 50 MW hingga 100 MW dan tersebar di Jawa maupun luar Jawa.

Baca juga : PLN Nusantara Power Tampilkan Kapabilitas Global di Electricity Connect 2026

“Rata-rata proyek yang ada di RUPTL saat ini berada di kisaran skala 50 MW hingga 100 MW, baik di Jawa maupun luar Jawa. Belum ada satu lokasi tunggal yang ukurannya sangat besar, jadi rata-rata tersebar di kisaran angka tersebut," jelas Dwi.

Di luar proyek yang masih dalam tahap pengadaan, PLN Nusantara Power juga tengah menyelesaikan dua proyek PLTS terapung, yakni Karangkates dan Tembesi.

PLTS Terapung Karangkates berkapasitas 100 MW AC atau sekitar 133 MWp. Progres konstruksinya telah mencapai 70 persen dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada akhir 2026.

Proyek tersebut merupakan PLTS terapung terbesar kedua di Indonesia setelah PLTS Cirata.

Dengan kapasitas 100 MW, pembangkit ini diperkirakan mampu melistriki sekitar 35.000 rumah. Nilai investasinya sedikit di bawah 100 juta dollar Amerika Serikat (AS).

Adapun PLTS Terapung Tembesi memiliki kapasitas 35 MW AC atau sekitar 46 MWp. Progres konstruksinya mendekati 70 persen dan ditargetkan beroperasi pada akhir tahun ini.

“Targetnya sama, yaitu dapat beroperasi pada akhir tahun ini bersamaan dengan PLTS Karangkates.”

Sementara itu, PLN Nusantara Power belum melakukan pengadaan proyek baru untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Baca juga : PLN Nusantara Power Raih 71 Penghargaan ENSIA 2026

“Untuk PLTU, kami belum ada pengadaan proyek baru. Di RUPTL memang ada perencanaannya, tetapi proses pengadaannya belum berjalan.”

El Nino Tekan Daya PLTA

Selain pengembangan pembangkit, PLN Nusantara Power menghadapi dampak fenomena El Nino terhadap operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Kondisi tersebut terjadi karena PLTA bergantung pada ketersediaan air, sementara di sejumlah lokasi debit waduk mengalami penyusutan.

Untuk menjaga ketersediaan air, perusahaan menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). PLTA PLN Nusantara Power tersebar di Jawa, termasuk Cirata, dan Sulawesi.

“Secara keseluruhan, penurunan daya pada PLTA akibat keterbatasan air dapat mencapai sekitar 40 persen, tergantung pada ketersediaan debit air di masing-masing waduk.”

Untuk mengantisipasi penurunan daya tersebut, PLN Nusantara Power mengoptimalkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil dan energi lain. Seperti PLTU, pembangkit gas berupa gas turbine dan gas engine, serta pembangkit listrik tenaga bayu atau angin, khususnya di Sulawesi.

“Pembangkit-pembangkit tersebut kami optimalkan kinerjanya untuk menjaga stabilitas pasokan listrik," pungkas Dwi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.