Dark/Light Mode

Daun Kelor Jadi Cuan, Herbasina Nutrindo UMKM Binaan PEPC 12 Siap Naik Kelas

Kamis, 24 September 2026 08:49 WIB
Pendiri Herbasina Nutrindo Taufiq saat memberikan penjelasan kepada media di Cafe Herbasina Nutrindo, Desa Ngradin, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (22/9/2026). (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)
Pendiri Herbasina Nutrindo Taufiq saat memberikan penjelasan kepada media di Cafe Herbasina Nutrindo, Desa Ngradin, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (22/9/2026). (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bagi kebanyakan orang, tanaman kelor mungkin terlihat biasa saja. Tumbuh di pekarangan rumah, pinggir jalan atau lahan warga. Daunnya kerap dipetik untuk dimasak menjadi sayur.

Tak sedikit pula yang memanfaatkannya sebagai pakan ternak. Namun, di Desa Ngradin, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, daun kelor punya cerita berbeda.

Di Herbasina Nutrindo, tanaman yang selama ini dianggap sederhana itu diolah menjadi berbagai produk pangan. Daunnya dipetik, dikeringkan, diolah, lalu dikemas menjadi barang yang memiliki nilai jual.

Ada wedang celup daun kelor. Ada cokelat kelor yang menjadi salah satu produk andalan. Ada pula Mommy Mi Goreng Daun Kelor yang dikemas praktis, termasuk dalam kemasan cup untuk memudahkan konsumen membawanya ke lapangan.

Kelor juga dikembangkan menjadi sempol dan es krim. Sementara bagi konsumen yang tidak ingin mengonsumsi kelor, Herbasina menyediakan produk berbahan jahe, serai dan kunyit.

Herbasina Nutrindo merupakan salah satu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) binaan Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) Jambaran Tiung Biru (JTB) Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12.

Pendiri Herbasina Nutrindo Taufiq, mengatakan, usaha tersebut mulai mengembangkan produk olahan kelor sejak 2020. Salah satu produk awal yang dibuat adalah wedang celup daun kelor. Dari wedang celup, inovasi terus bermunculan.

Serbuk daun kelor dipadukan dengan cokelat dan menjadi Morichoco. Ada pula Mommy Mi Goreng Daun Kelor, makanan praktis yang cukup diseduh sebelum disantap.

Produk mi tersebut bahkan dikembangkan dalam kemasan cup setelah mendapat permintaan konsumen.

“Kalau ke lapangan sudah tidak repot-repot lagi harus cari kompor. Cukup diseduh. Menunda lapar, sehatnya dapat, kenyangnya juga dapat,” kata Taufiq di Cafe Herbasina Nutrindo, Desa Ngradin, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (22/9/2026).

Pasar yang dibidik pun beragam. Untuk sempol dan es krim kelor, misalnya, Herbasina menyasar anak-anak. Taufiq melihat anak-anak membutuhkan jajanan, tetapi kualitas makanan tetap harus diperhatikan.

Dari Dapur Produksi ke Dunia Digital Setelah produk berkembang, tantangan berikutnya adalah pasar. Herbasina mulai memperluas pemasaran setelah mendapatkan pendampingan dari PEPC Zona 12.

Salah satunya melalui pelatihan pemasaran digital. Kini produk Herbasina dipasarkan melalui Shopee dan TikTok. Jalur offline juga diperluas melalui sejumlah pusat oleh-oleh di Surabaya, Malang dan wilayah sekitar Bojonegoro. Pemasaran digital kemudian berkembang melalui sistem affiliate.

Testimoni konsumen dan penilaian di media sosial turut membantu mengenalkan produk kepada calon pembeli. Efeknya mulai terlihat. Konsumen yang mengetahui Herbasina melalui media sosial tidak hanya membeli produk.

Sebagian bahkan datang langsung ke lokasi untuk melihat UMKM binaan PEPC Zona 12 tersebut.

Baca juga : Perencanaan SDM dalam Meningkatkan Efektivitas Kinerja di Kementerian UMKM

“Sekarang online-nya juga kencang, ada affiliate. Testimoni dari konsumen juga membantu rating di Instagram dan di tempat lain. Akhirnya ramai-ramai datang ke sini,” ujar suami Anita Wahyu Deviani, Owner Herbasina Nutrindo tersebut.

Pertumbuhan pasar tersebut ikut mengerek omzet. Taufiq mengatakan, omzet yang sebelumnya hanya jutaan rupiah per bulan, meningkat menjadi belasan juta.

“Alhamdulillah, sekarang sudah puluhan juta per bulan,” katanya.

Menurut Taufiq, dukungan PEPC Zona 12 tidak berhenti pada pelatihan. Ketika Herbasina menghadapi persoalan, tim pendamping ikut membantu mencari jalan keluar.

Pendampingan tersebut membuat Herbasina tidak hanya berupaya menghasilkan produk, tetapi juga membangun kemampuan pemasaran dan pengembangan usaha.

Kelor Mulai Ditanam dari Rumah Warga

Pertumbuhan pasar membawa tantangan baru: bahan baku. Semakin banyak produk terjual, semakin besar pula kebutuhan daun kelor. Herbasina pun tidak ingin kebutuhan tersebut hanya ditopang dari satu sumber.

Warga sekitar mulai diajak menanam kelor di halaman rumah masing-masing. Taufiq menyebut konsep tersebut bukan sekadar memberdayakan masyarakat.

Dia memilih istilah “berdaya bersama”. Warga dapat menanam kelor, mendapatkan manfaat dari tanaman tersebut, kemudian hasilnya dapat dijual kepada Herbasina untuk memenuhi kebutuhan bahan baku.

“Kami minta warga menanam kelor di tepi rumah masing-masing,” kata Taufiq.

Pola tersebut sekaligus menjawab tantangan saat musim kemarau. Jika seluruh kebutuhan tanaman harus dirawat sendiri, kebutuhan air dan tenaga tentu semakin besar.

Dengan semakin banyak warga menanam kelor, pasokan bahan baku dapat tersebar di berbagai lokasi. Warga mendapatkan nilai ekonomi, sementara Herbasina memiliki sumber bahan baku yang lebih luas.

Gagasan tersebut mulai mendapat sambutan di Desa Ngradin. Herbasina telah berdiskusi dengan warga mengenai kebutuhan bahan baku. Salah satu rencana penanaman berada di sekitar waduk dan sepanjang jalan. Untuk tahap awal, ditargetkan sekitar 1.200 pohon kelor.

Taufiq berharap, kedepan kebutuhan bahan baku Herbasina dapat dipenuhi dari tanaman milik masyarakat sekitar. Dengan demikian, nilai ekonomi kelor tidak berhenti di ruang produksi.

Uang juga berputar di tingkat warga yang menanam dan memasok bahan baku. Bukan Sekadar Soal Tempat Tumbuh Bagi Taufiq, kualitas kelor tidak hanya ditentukan dari mana tanaman itu berasal.

Perlakuan sejak proses pemetikan juga menentukan kualitas bahan baku. Daun, kata dia, sebaiknya dipetik sebelum matahari terlalu terik. Bagian tanaman yang dipanen juga harus diperhatikan.

Baca juga : PNM-OJK Perkuat Literasi UMKM Perempuan Aceh untuk Naik Kelas

“Jadi kelor itu bukan di mana dia tumbuh, tetapi bagaimana dia diperlakukan. Itu kuncinya,” ujar Taufiq.

Prinsip tersebut diterapkan dalam proses produksi Herbasina. Karena itu, tempat produksi tidak hanya diposisikan sebagai ruang membuat barang dagangan.

Herbasina juga ingin proses tersebut bisa dilihat dan dipelajari masyarakat. Mulai dari bagaimana kelor dipanen, diproses, hingga menjadi produk siap dipasarkan.

“Tidak melulu soal profit, tapi lebih ke kebermaknaan. Orang lain juga bisa melihat prosesnya, bagaimana dikerjakan dan bagaimana finishing-nya,” kata Taufiq.

Dari sini, perjalanan daun kelor menjadi panjang. Dari halaman rumah warga, daun dipanen. Kemudian masuk ke proses pengolahan.

Dari sana lahir wedang celup, cokelat, mie, sempol hingga es krim. Setelah dikemas, produk bergerak menuju toko oleh-oleh dan pasar digital. Kini, rantai tersebut hendak diperpanjang lagi.

Warga sekitar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga calon pemasok bahan baku.

PEPC 12 Ingin Kelor Terhubung dengan Program Lain

Head of Communication Relations & Community Investment and Development (CID) PEPC Zona 12 Weanny Hikmat mengatakan, pengembangan UMKM merupakan bagian dari Pilar Ekonomi dalam Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) PEPC Zona 12.

Mulai 2026, pelaksanaan PPM tersebut diselaraskan dengan grand design yang ditetapkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Jika sebelumnya PPM terbagi dalam empat bidang, yakni kesehatan, lingkungan, ekonomi dan pendidikan, skema baru disusun menjadi sosial, lingkungan, ekonomi dan tata kelola.

Program-program yang sudah berjalan tetap dilanjutkan dengan penyesuaian agar lebih terintegrasi. Untuk sektor ekonomi, PEPC Zona 12 mendorong peningkatan pendapatan dan taraf kehidupan masyarakat melalui pengembangan UMKM.

Pendampingan tidak hanya menyentuh produksi, tetapi juga kualitas produk, kemasan hingga pemasaran. UMKM juga didorong masuk ke pasar digital.

Salah satu mitra binaan yang terus dikembangkan adalah Herbasina Nutrindo. Weanny mengatakan, Herbasina akan mengikuti program UMK Akademi dari Holding Pertamina.

UMKM tersebut juga berkesempatan tampil dalam pameran dan agenda trading expo yang melibatkan peserta dari luar negeri.

“Produk yang kita dorong bukan hanya bagus dari sisi manfaat, tetapi juga harus mampu tampil lebih baik sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi,”  kata Weanny.

Baca juga : Dorong UMKM Naik Kelas, BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026

Menurut dia, kelor memiliki potensi untuk dikembangkan karena relatif mudah dibudidayakan dan memiliki pasar sebagai produk pangan bernilai tambah.

Karena itu, PEPC 12 berharap produk olahan kelor tidak berhenti di pasar nasional, tetapi memiliki peluang untuk menembus pasar internasional.

Yang menarik, pengembangan kelor tidak hanya ditempatkan sebagai program ekonomi. PEPC 12 berencana menghubungkannya dengan program lingkungan, salah satunya Agro Silvo Pastura.

Melalui skema tersebut, masyarakat didorong menanam pohon kelor. Daunnya kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk Herbasina.

Rantai tersebut membuat program ekonomi dan lingkungan saling bertemu. Masyarakat memperoleh manfaat dari penanaman. Herbasina mendapatkan pasokan bahan baku.

Di sisi lain, lahan masyarakat dimanfaatkan untuk tanaman yang memiliki nilai ekonomi. Integrasi juga diarahkan ke sektor pendidikan. PEPC 12 memiliki program Sekolah Energi Berdikari, antara lain melalui dukungan panel surya bagi sekolah.

Penggunaan panel surya tersebut disebut membantu sekolah menghemat biaya listrik sekitar Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu per bulan.

Sekolah penerima program juga memiliki kawasan hutan sekolah yang ke depan dapat didorong menjadi lokasi penanaman kelor. Dengan begitu, kelor tidak hanya bicara soal produk dan omzet.

Tanaman tersebut bisa masuk ke rantai ekonomi, lingkungan dan pendidikan sekaligus.

Weanny mengatakan, pola tersebut memang menjadi arah yang ingin dibangun PEPC 12.

“Kami berharap program-program ini bisa saling terhubung. Jadi ketika pendampingan kami selesai, programnya tidak ikut berhenti, tetapi justru terus berjalan dan berkembang,” ujar Weanny.

Di Desa Ngradin, perjalanan itu sedang dimulai. Daun yang dahulu hanya dianggap tanaman biasa kini masuk ke ruang produksi, dikemas menjadi produk, dipasarkan melalui dunia digital dan perlahan membuka peluang ekonomi bagi warga.

Jika rencana penanaman 1.200 pohon kelor terealisasi, rantai tersebut akan semakin panjang. Dari kebun warga menuju Herbasina. Dari Herbasina menuju pasar. Dan dari pasar, manfaat ekonominya diharapkan kembali kepada masyarakat.

Kelor pun tak lagi sekadar daun hijau di halaman rumah. Di tangan warga dan UMKM, ia mulai berubah menjadi sumber nilai ekonomi. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.