Dark/Light Mode

Energi dari Indramayu: Tempe Pesantren dan Dapur Rig Menggerakkan Kehidupan

Senin, 28 September 2026 09:43 WIB
Direktur Utama PT Patra Drilling Contractor (PDC) Hery Lesmana bersama awak media mengunjungi rumah produksi Tempesantren di Indramayu, Kamis (24/9/2026). dan lokasi rig PDSI #15.3/N110-M pada Jumat (25/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari Media Gathering 2026 untuk melihat langsung program pemberdayaan masyarakat dan dukungan operasional PDC.
Direktur Utama PT Patra Drilling Contractor (PDC) Hery Lesmana bersama awak media mengunjungi rumah produksi Tempesantren di Indramayu, Kamis (24/9/2026). dan lokasi rig PDSI #15.3/N110-M pada Jumat (25/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari Media Gathering 2026 untuk melihat langsung program pemberdayaan masyarakat dan dukungan operasional PDC.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pagi belum benar-benar ramai ketika aktivitas di sebuah rumah produksi di Desa Temiyangsari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sudah dimulai.

Kedelai yang telah diolah, siap masuk dalam rangkaian proses produksi. Dari tempat sederhana itu, tempe diproduksi bukan hanya untuk dijual, tetapi juga untuk menghidupi sebuah pesantren.

Di Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal, tempe telah menjelma menjadi sumber kemandirian ekonomi.

Produksi yang semula terbatas kini berkembang hingga lebih dari 100 kilogram per hari. Dalam sebulan, jumlahnya mencapai sekitar 3 ton.

Kisah itu menjadi salah satu potret yang diperlihatkan PT Patra Drilling Contractor (PDC) kepada 16 awak media nasional dalam Media Gathering 2026, 24–25 September 2026.

Direktur Utama PT Patra Drilling Contractor (PDC) Hery Lesmana (ketujuh dari kiri-kemeja biru lengan panjang) bersama awak media mengunjungi rumah produksi Tempesantren di Indramayu, Kamis (24/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari Media Gathering 2026 untuk melihat langsung program pemberdayaan masyarakat dan dukungan operasional PDC. (Dok. PDC)

Para pemimpin redaksi, editor, dan reporter tidak sekadar mendengarkan paparan di ruang pertemuan.

Mereka diajak melihat langsung dua sisi kegiatan PDC di Indramayu: program pemberdayaan masyarakat melalui CSR Tempesantren dan layanan operasional melalui Food & Lodging Services (FLS) di lokasi pengeboran.

Dua tempat itu tampak berbeda. Yang satu berada di lingkungan pesantren dan menghasilkan tempe. Yang lain berada di sekitar rig pengeboran dan menyiapkan makanan bagi pekerja.

Namun keduanya memiliki satu kesamaan: memastikan sebuah kegiatan terus berjalan.

Direktur Utama PDC Hery Lesmana mengatakan, media bukan hanya saluran komunikasi perusahaan.

Media, menurut dia, merupakan mitra strategis dalam membangun pemahaman publik tentang industri, bisnis, dan kegiatan hulu minyak dan gas bumi (migas).

“Melalui forum ini, kami ingin mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi dengan rekan-rekan media dalam membangun pemahaman publik terhadap industri hulu migas nasional, khususnya bisnis dan kontribusi PDC,” ujar Hery.

Tempe yang Mengubah Napas Pesantren

Baca juga : Pertamina Bekali UMK Siap Hadapi Buyer Global Lewat Business Matching

Bagi Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal, usaha tempe bukan sekadar aktivitas ekonomi tambahan.

Ia menjadi salah satu cara pesantren mempertahankan keberlangsungan pendidikan dan kehidupan para santri.

Sejak Juli 2025, PDC mendukung pengembangan usaha tersebut melalui program CSR Tempesantren.

Dukungan itu meliputi pembangunan rumah produksi, penyediaan peralatan pengolahan yang lebih modern dan higienis, serta pelatihan produksi, pemasaran, dan pengelolaan usaha. Perubahan paling mudah dilihat dari kapasitas produksinya.

Pimpinan Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal KH Amin Royani mengatakan produksi yang sebelumnya maksimal sekitar 40 kilogram per hari kini telah mencapai lebih dari 100 kilogram per hari atau sekitar 3 ton per bulan.

Pertumbuhan produksi berjalan beriringan dengan pasar yang semakin luas.

Tempesantren kini memasok kebutuhan tempe ke tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah sekitar untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebagian produk lainnya masuk ke warung-warung di sekitar pesantren. Dari usaha itu, perputaran uang pun mulai terasa.

Tempesantren mencatat omzet sekitar Rp2,5 juta per hari atau Rp75 juta per bulan. Setelah dikurangi kebutuhan bahan baku dan biaya operasional, laba bersihnya sekitar Rp500 ribu per hari atau Rp15 juta per bulan.

“Omzetnya sekitar Rp2,5 juta per hari dan sebagian besar diputar kembali untuk bahan baku serta operasional. Laba bersihnya sekitar Rp500 ribu per hari,” terang KH Amin.

Bagi pesantren yang memberikan pendidikan dan asrama tanpa memungut biaya dari para santrinya, tambahan sumber penghasilan tersebut memiliki arti penting.

Lebih jauh lagi, rumah produksi membuka ruang bagi santri dan masyarakat sekitar untuk bekerja. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada bangunan dan peralatan yang diberikan.

Baca juga : Dari Bali untuk Dunia, Pertamax Turbo Dukung Aksi 1.000 Riders BMW Motorrad

“Program ini membantu pesantren memiliki sumber penghasilan yang lebih baik. Rumah produksi juga dapat mempekerjakan beberapa santri dan masyarakat sekitar sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pesantren,” ujar KH Amin.

Di titik inilah program pemberdayaan itu menemukan maknanya. Bantuan tidak berhenti ketika fasilitas selesai dibangun. Ia baru menemukan hasil ketika penerimanya mampu menggerakkan usaha dengan kakinya sendiri.

Hery mengatakan keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pendampingan tersebut.

“Pendampingan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan pemberian peralatan. Kami ingin pengelola memiliki kapasitas untuk menjaga kualitas, memperluas pasar, dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan,” kata Hery.

Ketika Dapur Menjadi Bagian dari Operasi Rig

Cerita kemudian berpindah.

Salah seorang Cook di dapur FLS Rig PDSI #15.3/N110-M di Indramayu, Jawa Barat, tengah memotong dan mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak.

Pada hari kedua, rombongan Media Gathering meninggalkan lingkungan pesantren dan mengunjungi salah satu dapur kelolaan PDC yang melayani kebutuhan operasional Rig PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) #15.3/N110-M di Indramayu.

Jika di pesantren tempe menjadi sumber penghidupan, di lokasi pengeboran makanan menjadi bagian dari rantai yang menjaga operasi tetap berjalan.

Dapur tersebut merupakan bagian dari layanan Food & Lodging Services (FLS) PDC. Lima personel yang terdiri atas cook, baker, dan tenaga pendukung bekerja memenuhi kebutuhan konsumsi sekitar 180 person on board (POB) setiap hari.

Mereka tidak hanya menyiapkan makan pagi, siang, dan malam. Ada pula camilan sore yang harus tersedia.

“Layanan PDC di Rig PDSI #15.3/N110-M mencakup penyediaan makanan dan minuman serta layanan kebersihan porta camp,” kata Dhandy.

Awak media berfoto bersama pekerja PDC di Rig PDSI #15.3/N110-M, Indramayu, Jawa Barat, dalam rangkaian Media Gathering 2026, Jumat (25/9/2026). (Foto: Dok. PDC)

Di balik makanan yang tersaji di meja, terdapat rangkaian pekerjaan yang tidak terlihat oleh pekerja rig maupun orang yang berada di luar lokasi.

Bahan baku harus dipilih, disimpan, diolah, kemudian disajikan dengan standar yang telah ditentukan. Setiap tahapan diperiksa untuk memastikan kebersihan, keamanan pangan, mutu, dan konsistensi layanan.

Baca juga : Rangkaian Pertamina SMEXPO 2026 Digelar, Libatkan Lebih dari 150 UMKM Binaan

Area Coordinator FLS Jawa PDC Dhandy Yaneldo mengatakan, makanan memiliki kaitan langsung dengan keberlangsungan aktivitas pekerja di lokasi pengeboran.

“Kelancaran operasi rig turut didukung oleh kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi para pekerja. Karena itu, kami harus memastikan seluruh proses pengolahan dan penyajian dijalankan sesuai standar keamanan pangan dan kebutuhan operasional hulu migas,” tutup Dhandy.

Energi yang Tak Selalu Terlihat

Dua hari perjalanan di Indramayu itu memperlihatkan sisi industri hulu migas yang sering luput dari pandangan.

Di satu tempat, energi hadir dalam bentuk kemampuan sebuah pesantren mengubah kedelai menjadi sumber pendapatan.

Di tempat lain, energi hadir dalam bentuk makanan yang disiapkan untuk menjaga ratusan pekerja tetap menjalankan tugasnya di sekitar rig.

PDC mempertemukan dua cerita itu dalam satu perjalanan. Tempesantren berbicara tentang bagaimana masyarakat diberi ruang untuk tumbuh. 

Dapur FLS berbicara tentang bagaimana operasi besar membutuhkan banyak tangan yang bekerja di belakang layar.

Keduanya menunjukkan bahwa keberlangsungan industri bukan hanya perkara sumur, rig, produksi, dan target.

Ada manusia yang menjalankan, keluarga yang bergantung, masyarakat yang ikut bertumbuh, serta aktivitas ekonomi yang bergerak di sekitarnya.

Dari rumah produksi tempe hingga dapur di lokasi pengeboran, ada satu benang merah yang sama: energi tidak selalu tampak sebagai minyak dan gas.

Kadang ia hadir sebagai kesempatan untuk mandiri, sebagai pekerjaan, sebagai makanan yang tersaji tepat waktu, dan sebagai kemampuan untuk membuat kehidupan terus berjalan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.