Dark/Light Mode

Dihantam Banyak Krisis, PMI Manufaktur Solid Semasa AGK

Senin, 5 Oktober 2026 13:33 WIB
Foto: Ist
Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Maju mundurnya industri manufaktur dapat dilihat dari berbagai sisi, mulai dari geliat ekspansi pelaku usaha hingga seberapa besar penyerapan tenaga kerja. Indikator tersebut secara rutin dipotret melalui Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang dirilis setiap bulan oleh S&P Global.

Fluktuasi PMI Manufaktur belakangan seakan menyudutkan kinerja eks Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) selama tahun berjalan. Pasalnya, PMI Manufaktur pada April turun ke level 49,1, kemudian kembali terkontraksi pada Juni di level 46,9 dan Agustus sebesar 49,8.

Selama tahun berjalan, hanya tiga bulan PMI Manufaktur berada di bawah level 50 yang menandakan zona kontraksi. Kondisi tersebut sempat memicu reaksi keras dari sejumlah pihak terkait kinerja industri manufaktur nasional.

Namun ironisnya, ketika PMI Manufaktur kembali masuk zona ekspansi pada September dengan capaian 52,4, AGK justru dicopot dari jabatannya. PMI Manufaktur sendiri sangat rentan terhadap fluktuasi bulanan karena berbagai faktor temporer dapat memengaruhi pergerakannya.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, kinerja industri manufaktur tidak dapat dinilai hanya berdasarkan pergerakan PMI dalam satu bulan. Menurut dia, penilaian seharusnya dilakukan dengan melihat tren secara keseluruhan.

“Pertama yang perlu dipahami adalah bahwa kita tidak bisa menilai kinerja industri manufaktur hanya dengan melihat PMI Manufaktur dalam satu bulan saja. Jadi, melihat tren secara keseluruhan,” ungkap Faisal, Minggu (4/10/2026).

Dia menjelaskan, berbagai faktor dapat menggoyang angka PMI Manufaktur. Kondisi industri dapat mengalami kontraksi dalam satu bulan, tetapi kembali mencatat ekspansi pada bulan berikutnya.

Baca juga : Agus Gumiwang Pamit, Kenang Hampir 7 Tahun Memimpin Kemenperin

Setelah lepas dari jerat pandemi Covid-19, kata Faisal, industri manufaktur sesungguhnya terus berada dalam tekanan. Dari sisi eksternal, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut meningkatkan biaya bahan baku.

Tekanan tersebut semakin berat dengan terganggunya rantai pasok akibat perang di Timur Tengah. Kenaikan harga energi akibat peningkatan harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah turut memengaruhi biaya produksi industri yang bergantung pada bahan baku dan barang modal dari luar negeri.

“Kenaikan harga energi karena harga minyak dunia yang mengalami peningkatan. Belum juga pelemahan nilai tukar rupiah yang memengaruhi biaya produksi bagi industri yang bergantung pada suplai bahan baku maupun barang modal dari luar negeri,” jelasnya.

Sementara itu, kondisi domestik juga belum sepenuhnya kondusif. Konsumsi rumah tangga yang selama ini ditopang oleh belanja kelas menengah mengalami tekanan akibat penurunan daya beli.

Meski begitu, Faisal menilai, kembalinya PMI Manufaktur ke zona ekspansi pada September memberikan sejumlah sinyal positif bagi industri. Salah satunya adalah potensi peningkatan penyerapan tenaga kerja seiring dengan membaiknya aktivitas produksi.

“Terutama juga nanti kaitannya bagaimana dampak dari ekspansi ini terhadap penyerapan tenaga kerja,” katanya.

Di sisi lain, kebijakan perindustrian turut membantu industri manufaktur bertahan selama pandemi Covid-19. Meski demikian, menurut Faisal, dampak pandemi belum sepenuhnya berlalu bagi sektor industri manufaktur.

Baca juga : Industri Halal Indonesia Siap Rajai Pasar Global

Seiring kinerja industri yang relatif stabil setelah melewati masa pandemi, sektor manufaktur tetap menjadi salah satu ladang utama penyerapan tenaga kerja. Saat ini, industri manufaktur menyerap tidak kurang dari 20,5 juta tenaga kerja.

Pernyataan senada disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti. Menurut dia, Indonesia terbilang berhasil menjaga kinerja industri manufaktur meski sektor tersebut belum sepenuhnya pulih.

Hal itu tercermin dari PMI Manufaktur yang mayoritas mampu bertahan di zona ekspansif selama periode pascapandemi. Namun, Esther tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang masih membayangi laju industri manufaktur.

Untuk tahun ini, kata dia, perlambatan ekonomi negara mitra dagang hingga memanasnya konflik di Timur Tengah telah membuat industri manufaktur menghadapi tekanan. “Tanpa pandemi saja, dengan berbagai faktor saat ini, industri manufaktur sulit bertahan pada zona ekspansi,” katanya.

Beruntung, lanjut Esther, sepanjang 2026 yang diwarnai berbagai ancaman tersebut, industri manufaktur nasional masih mampu bertahan. PMI Manufaktur bahkan kembali berada di zona ekspansi pada September meski ketegangan geopolitik dan kenaikan biaya input masih membayangi.

“September kembali pada zona ekspansi, meski ada ketegangan geopolitik dan naiknya biaya input,” tukasnya.

Para ekonom menilai kebijakan yang ditorehkan AGK setidaknya menjadi salah satu fondasi bagi arah perkembangan industri manufaktur. Hantaman pandemi Covid-19 yang kemudian disusul berbagai tekanan global tidak membuat industri manufaktur nasional terjerembab berkepanjangan.

Baca juga : 174 Industri Unjuk Produk Di Halal Indo 2026, Bidik Pasar Global

PMI Manufaktur sendiri mengukur kondisi riil industri sekaligus ekspektasi para pelaku usaha. Penilaian tersebut mencakup sejumlah indikator, antara lain jumlah pesanan baru, produksi barang, pengiriman, persediaan, hingga penyerapan tenaga kerja.

Sebagai catatan, jurang terdalam PMI Manufaktur terjadi ketika pandemi Covid-19 pertama kali melanda kawasan ASEAN. Saat itu, PMI Manufaktur Indonesia terperosok ke level 27,5.

Namun, industri manufaktur Indonesia kemudian menjadi salah satu sektor yang relatif cepat bangkit dibandingkan sejumlah negara lain, seperti Vietnam dan Thailand. Kedua negara tersebut sempat lebih lama berada di bawah level 50.

Kinerja PMI Manufaktur yang relatif stabil bahkan ekspansif dalam beberapa tahun terakhir juga tercermin dari indikator makro lainnya. Salah satunya adalah nilai tambah industri manufaktur Indonesia yang masih menjadi salah satu yang tertinggi di ASEAN, mencapai 265 miliar dolar AS.

Nilai tambah tersebut menggambarkan kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian, termasuk margin usaha dan distribusi kompensasi bagi tenaga kerja.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.